Search
Main Menu
Home
News
Blog
Komik Gallery
Kalender Acara
Download
Links
Contact Us
Search
Buku Tamu
Database

Advertisement
R.A. KOSASIH: BAPAK KOMIK INDONESIA PDF Print E-mail
User Rating: / 1
PoorBest 
Thursday, 05 October 2006
oleh Surjorimba Suroto

Rabu, 17 Agustus 2005. Sore itu kota Jakarta baru saja diguyur hujan deras. Rupanya hujan sudah tak sabar lagi memberi kesejukan kepada bangsa Indonesia, yang hari itu merayakan Hari Kemerdekaan RI ke-60. Sepanjang pagi hingga siang (dan sebagian melanjutkan hingga malam) melakukan berbagai aktivitas, mulai upacara memperingati detik-detik proklamasi hingga perlombaan seni, olah raga dan keterampilan dilingkungan rumah dan tempat kerja. Beberapa anggota komunitas/ milis Komik_Indonesia sore itu berkumpul dan beramai-ramai mengunjungi salah satu tokoh penting dalam komik Indonesia. Siapakah ia? Tak lain adalah sang maestro R.A. Kosasih. Ingatkah anda akan beliau? Saya yakin hampir semua generasi 60-an, 70-an, hingga 80-an akrab dengan karya-karya komik wayang beliau. Mahabharata, Ramayana, dan Arjuna Wiwaha adalah sebagian dari karyanya dari genre wayang. Selain itu masih ada tokoh Sri Asih, Siti Gahara, Kala Hitam, dll dari genre lainnya. Tercatat lebih dari 100 judul komik yang pernah beliau produksi. R.A. Kosasih membuka mata industri penerbitan komik yang pada tahun-tahun berikutnya mendominasi dunia pop. Beliau juga yang membuka jalan bagi ratusan seniman komik generasi berikutnya untuk berkarya dalam komik. Rasanya tak perlu dipungkiri R.A. Kosasih-lah seniman komik yang paling dipuja, dikenang, dan dihormati.

Pak Kosasih menyambut kami dengan wajah cerah dan gembira. Begitu senangnya beliau menerima kedatangan para penggemar komik yang rata-rata berumur diatas 25 tahun. Diajaknya kami menempati ruang tamu dan kami mengobrol dengan panjang lebar. Sangat nampak pak Kosasih, yang kini berumur 86 tahun, sangat menjaga kesehatannya sejak usia muda. Ingatannya sangat kuat mengenang masa-masa produktifnya. Bahkan ia masih bisa meralat pernyataan kami dan beliau mengkoreksinya. R.A. Kosasih bercerita bagaimana dulu ia senang membuat gambar, yang kebetulan digunakan instansi tempatnya bekerja dalam buku-buku terbitannya. Saat ia membaca ada iklan disebuah surat kabar yang mencari seorang artis ilustrator, segera ia mengirimkan surat lamaran dan beberapa contoh karyanya. Tak lama penerbit yang memasang iklan, Melodie Bandung, menghubunginya dan sejak itulah hidup R.A. Kosasih berubah.

Penerbit Melodie Bandung, meminta pak Kosasih membuat cerita komik dengan tokoh utama seorang wanita yang sarat budaya Indonesia, namun mengadaptasi tokoh superhero Amerika, Wonder Woman. Jadilah tokoh Sri Asih (1953) sebagai buku komik pertama di Indonesia. Sepanjang 1953-1954, sedikitnya ada 9 buku petualangan Sri Asih. Pak Kosasih mengenang saat itu ia dibayar Rp 32,- per halaman. Dengan rata-rata hampir 40 halaman per buku, honor yang diterima sekitar Rp 1.200,-. “Saat itu direktur tempat Bapak bekerja saja gajinya hanya Rp 300,- per bulan”, kenang pak Kosasih. Beliau menambahkan bahwa serial Sri Asih tidak diterbitkan secara individu, melainkan secara bersamaan.

Namun lama-kelamaan Melodie menuntut lebih. R.A. Kosasih diminta untuk membuat serial komik yang lebih panjang dan tidak satu episode selesai. Beliau memutar otak dan berpikir keras, lalu sampailah pada mahakaryanya Mahabharata (sebelumnya pernah membuat Burisrawa Merindukan Bulan tahun 1953) yang hingga kini dikenang sebagai landmark komik Indonesia. Kesuksesan inilah yang kemudian menjadi wabah dan demam komik wayang. “Saat itu Ardisoma, Oerip, dan masih banyak lagi teman seangkatan Bapak yang terjun melukis komik wayang. (Penerbit) Melodie itulah yang paling berjasa. Kalau bukan karena Melodie, ngga mungkin komik Indonesia bisa ada,” tutur pak Kosasih. Selama bernaung di Melodie, pak Kosasih juga membuat komik selain wayang, Sri Asih dan Siti Gahara. Diantaranya cerita rakyat, roman percintaan, roman keluarga, dan cerita fiksi lainnya.

Kemudian Melodie menutup usaha penerbitan (tidak diketahui penyebab pastinya) dan R.A. Kosasih pindah ke penerbit Loka Jaya, Jakarta (1964). “Disitu Bapak membuat komik-komik cerita rakyat seperti Sangkuriang dan Panji Semirang, juga roman dan silat,” ingatan pak Kosaih cukup baik Rupanya beliau ingin mencari pengalaman baru dengan tidak membuat komik wayang.

R.A. Kosasih bertahan di Loka Jaya hingga tahun 1969 dan setelah itu pindah ke Maranatha Bandung. “Dulu Bapak dibayar Rp 100,- per halaman dan Bapak yang paling mahal (bayarannya) saat itu,”tambahnya. Karena Melodie tidak menjual hak kepemilikan komik-komik R.A. Kosasih, penerbit Maranatha memintanya untuk membuat versi baru Mahabharata, Ramayana, dan beberapa komik wayang lainnya. Selain wayang, R.A.Kosasih juga melanjutkan serial Cempaka, Siti Gahara, Sri Dewi dan lainnya. Komik wayang versi Maranatha inilah yang banyak dikenal generasi 80-an, terutama karena format buku yang lebih akrab dan jaringan distribusi yang lebih luas.

“Bapak kini sudah tidak melukis (gambar komik maksudnya: Red). Sudah tidak kuat.” Lalu apa saja kegiatannya kini? “Yah kadang-kadang Bapak mensetrika baju sendiri. Hitung-hitung olah raga. Pernah juga ada wartawan kesini untuk wawancara Bapak (pak Kosasih merujuk ke acara Maestro, Metro TV yang pernah meliput beliau dan juga meliput selaku narasumber bagi profil Jan Mintaraga). Kemudian dari Gramedia (yang dimaksud adalah cetakan ulang komik-komik wayangnya oleh M&C). Bulan lalu juga ada yang memberi Bapak penghargaan dan merekam video Bapak (pak Kosasih merujuk ke pemberian penghargaan yang dilakukan panitia acara Pekan Komik dan Animasi Nasional 2005 di Bandung Juli 2005 lalu).”

Ketika ditanya apakah masih sering berjumpa dengan rekan-rekan komikus seangkatannya? “Wah sudah lama sekali tidak. Terakhir beberapa tahun lalu waktu Bapak diundang ke acara komik dan disana bertemu Taguan Hardjo. Bapak kenal dia sudah lama sekali (pak Kosasih merujuk ke pameran komik yang diselenggarakan Pengumpul Komik Indonesia/ Pengki di British Council tahun 2001). Kalau yang lain Bapak tidak pernah bertemu, kecuali Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Itupun pertama kali bertemu tahun 90-an. Tapi saya sangat senang kedatangan tamu sore ini”.

Kami pun memohon kesediaan pak Kosasih untuk berfoto bersama dan menandatangani komik-komik beliau yang dibawa. Sebelumnya kami sudah sepakat menetapkan kuota sebanyak max 2 buku setiap orang, mengingat kondisi fisik pak Kosasih yang tangannya sudah gemetar. Namun tak disangka pak Kosasih malah yang paling semangat,” Mana lagi yang mau ditandatangani?” Sembari menandatangani, beliau membuka-buka lembaran komik dan mengenang masa-masa indahnya dulu. Kamipun berfoto bersama dihalaman rumah. Sebelum berpamitan kami menyampaikan oleh-oleh dan sejumlah uang sekedarnya. “Nanti kirim ya foto-fotonya untuk kenang-kenangan Bapak,”ujar pak Kosasih saat kami mengucapkan salam berpisah.

Sungguh menyenangkan dan mengharukan pertemuan sore itu. Kami telah bertemu dengan maestro komik Indonesia yang sudah melegenda. Sudah sepantasnya R.A. Kosasih mendapat pengakuan sebagai pahlawan komik Indonesia. Sebenarnya itulah yang kami lakukan saat itu, mengunjungi seorang pahlawan Indonesia tepat di hari kemerdekaan Indonesia ke-60.

Dirgahayu Republik Indonesia!

Add as favourites (136) | Views: 1871

Be first to comment this article
RSS comments

Write Comment
  • Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
  • Personal verbal attacks will be deleted.
  • Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
  • Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
  • Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
Name:
E-mail
Homepage
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.5

Last Updated ( Wednesday, 17 January 2007 )
 
< Prev   Next >
Informasi OS & IP
OS:  Unbekannt
IE:  Anderer Browser
ISP:  amazonaws.com
IP:  54.167.185.110
      Home arrow News arrow ARTIKEL arrow R.A. KOSASIH: BAPAK KOMIK INDONESIA