Search
Main Menu
Home
News
Blog
Komik Gallery
Kalender Acara
Download
Links
Contact Us
Search
Buku Tamu
Database

Advertisement
JEJAK KOMIKUS ZAM NULDYN PDF Print E-mail
User Rating: / 3
PoorBest 
Tuesday, 23 January 2007
oleh Koko Henry Lubis
Dipublikasikan di Waspada Online, 8 Mei 2006 http://www.waspada.co.id


Zam Nuldyn bernama asli Zainal Abidin Muhammad. Ia lahir di Labuhan Deli pada 31 Desember 1922. Ayahnya bernama Muhammad yang dulunya bekerja di Duane (pelabuhan Belawan).

Zam Nuldyn adalah komikus Medan yang pertama kalinya mempopulerkan genre cergam kepada khalayak ramai melalui koran yang terbit di Medan. Walaupun sejarah komik mencatat bahwa Nasroen A.S (tahun 30-an) sudah populer dengan gambar komiknya di surat kabar Sinar Hindia, namun gaya pencitraan komik Medan yang pertama kali memakai cerita rakyat sebagai tema adalah Zam Nuldyn.

Komik yang dihasilkan Zam Nuldyn bukan sekadar bertualang kata-kata antar tokohnya tetapi komiknya tersebut berhasil membuka mata kita tentang pentingnya petualangan lama untuk ditorehkan kembali pada masa kini. Semasa ia kecil jari-jarinya terbiasa menulis dan melukis tentang keindahan khayali. Karena hal ini ia lakukan terus menerus maka ia mempunyai warna tersendiri tanpa merasa menjadi korban keindahan rupa yang kosong. Zam Nuldyn tidak mempunyai seorang guru secara spesifik dalam mengajarkan ia melukis.

Bahwa karena ketekunannya sendiri melatih diri ditambah dengan bakat alam yang dimilikinya ia berhasil menuangkan berbagai macam imaji ke atas kertas. Tahun 1939 ia mulai memasuki HIS Ivoorno Medan (Instituut Voor Neutral Onderwijs, SD berbahasa Belanda).

Pada saat itu tak habis-habis ia berbicara kepada teman-temannya akan kesukaanya meninjau ke daerah-daerah pedalaman. Kelak petualangan semacam itu menjadi idaman dalam hidupnya. Tahun 1942 ia tercatat sebagai siswa Mulo Ivoorno Medan yang sekarang namanya menjadi sekolah Ksatria.

Pada suatu waktu ia berkenalan dengan seorang perempuan muda, Siti Nazariah, yang waktu itu merayakan ulang tahunya yang ke-17 di Sukaramai. Ia begitu tertarik dengan perempuan itu. Hatinya melukiskan rindu dan melanjutkan harapan berkat percakapan sekilas antara mereka. Tanggal 10 November 1945 mereka sepakat untuk menikah. Agresi militer Belanda ke II membuat mereka berpisah sementara. Selama lebih dari tiga tahun Zam Nuldyn berkelana ke Palembang, Pekan Baru dan Pematang Siantar.

Dalam mengembara itu ia sesekali melukis untuk mengusir tusukan derita di dalam hatinya. Jiwa senimannya tidak mau padam karena keadaan tersebut. Gambaran suram yang menggayuti semua pemuda saat itu akibat revolusi berhasil ditepisnya. Ia mengutuk perang yang membuatnya harus terpisah dengan istrinya. Karena kasih sayang yang memanggil ia nekat untuk menemui istrinya kembali. Melalui jalan laut ia naik perahu dari Siboga menuju Singkil (2 bulan). Sesudah itu ia baru melanjutkan perjalanan ke Medan dan terus menuju Lhoksukon (Aceh).

Siti Nazariah adalah perempuan dengan ketabahan luar biasa. Ia tetap setia menunggu suaminya, tak jemu-jemu sambil menegakkan kembali kepribadiannya. Akhirnya mereka bertemu kembali dengan jiwa yang utuh. Untuk menjunjung kesetiaan istrinya, Zam Nuldyn menabalkan sebuah nama pada setiap anak mereka agar memakai nama ‘Asmara’ di belakang nama depan mereka.

Setelah sekian lama berpindah-pindah tempat dan pekerjaan (dari kantor walikota sampai Pusat Film Nasional di Siantar) akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di Medan. Zam Nuldyn ter-akhir bekerja di kantor Deppen Sumatera Utara dan tinggal di jalan Seksama. Tahun 1955 ia masuk kuliah di Fakultas Hukum UISU (Universitas Islam Sumatera Utara). Kebiasaanya melukis tetap dijalaninya. Karyanya bisa dijumpai di Harian Waspada, Suluh Massa, Mim-bar Umum, Sinar Revolusi dan Dobrak.

Sedangkan majalah yang memuat karyanya adalah Waktu. Menurut pengakuan anaknya Nyak Ben Zam Asmara, saat itu ayahnya mempunyai seorang sahabat karib yang bernama Mozasa (seorang guru bahasa). Deng-an Mozasa ia sering melaku-kan perjalanan meneliti situs tua peninggalan kerajaan Melayu yang tersebar di Deli Tua dan Hamparan Perak sekitarnya. Mereka memasuki relung-relung gaib dan gua penuh rahasia.

Zam Nuldyn mencatat semua penelitiannya ini ditambah dengan segala macam artefak, lambang, simbol, yang bersatu lewat potongan motif abadi. Demikian lengkap catatan itu sehingga bahan pustakanya tersebut memudahkannya untuk menguak tradisi masa lalu. Zam Nuldyn juga dikenal suka mengoleksi buku-buku tua dan buku yang beraksaran Cina. Selain dikenal sebagai ahli melukis ia juga dikenal bisa menulis dalam aksara Cina.

Koleksi unik yang dimiliki Zam Nuldyn adalah Tarombo (silsilah marga-marga), Pustaha (surat) dari kelompok etnis Mandailing dan Batak Toba. Malam hari adalah waktu yang digunakannya untuk menggambar. Pada saat ia melukis, biasanya ia sangat sensitif dan sangat tidak suka suara berisik.

Suara sendok yang jatuh juga turut membuyarkan imajinasinya. Kalau ia marah karena sesuatu hal biasanya ia merajuk dan langsung pergi tidur tanpa mau meneruskan kembali untuk melukis. Pernah juga ia karena sikap eksentriknya membakar semua koleksi pustakanya tersebut. Peralatan yang dipakai Zam Nuldyn untuk melukis adalah pena yang dicelupkan pada tinta Cina.

Untuk membuat garis yang tebal ia biasanya menggunakan spidol Marker Ink. Penggambaran area yang luas biasanya ia menggunakan kuas yang dilumuri tinta Cina, yang penggambarannya di kertas karton manila putih. Gambar raster yang halus dan variatif ia menggunakan alat bantu kaca pembesar.

Style gambar dari setiap komik Zam Nuldyn bercorak naturalis dengan berbagai macam variasi yang tujuannya mencapai keindahan gambar dan kejelasan makna gambar.

Keunggulan komik yang dicitrakan Zam Nuldyn bertumpu pada ketajaman dimensi gambar baik obyek maupun lingkungannya. Teknik yang dipakai adalah teknik pointilasi (titik-titik) serta raster pada ruas gambar yang terkena efek bayangan. Zam Nuldyn juga dikenal sebagai orang yang taat pada ajaran agama Islam. Pernah ada seseorang yang ingin belajar menggambar datang sambil membawa Bir.

Orang itu langsung dimarahinya dan disuruhnya pulang kembali. Sebelum ada TVRI yang menyiarkan siaran, komiknya merupakan sesuatu hiburan yang dinantikan oleh masyarakat. Biasanya yang menerbitkan komiknya adalah Firma Harris.

Kepunyaan seorang politikus, Harris Muda Nasution, kantornya di jalan Bali, Gedung Olah Raga No.6. Teman akrab Zam Nuldyn yang dahulu sering datang ke rumahnya untuk berdiskusi adalah: Harris Muda Nasution (Penerbit Harris), Hasbullah Marzuki Lubis (Hasmar), Yussuf Said (Deppen), H.Arbie (Penerbit Maju), Taguan Hardjo (komikus), Bahzar (komikus), Naga Lubis (musa-karah), L.Pinayungan (penulis), H. Umar Baki (musakarah), Mozasa (guru/sastrawan), Masdar, Djas (komikus, adik kandung Zam Nuldyn) dll.

Dengan Taguan Hardjo, Yusuf Said dan Djas, ia sering mengadakan pameran lukisan bertemakan perjuangan yang diadakan di berbagai instansi pemerintah di Sumatera Utara. Tahun 1963 ia pernah menggambar Presiden Soekarno, namun sudah jelas diketahui Zam Nuldyn tidak berideologi komunis maupun marhaenis. Setelah sekian banyak menyaksikan begitu banyaknya putaran ombak dalam hidup dan berhasil dalam mencitrakannya ke dalam komik Zam Nuldyn meninggal dunia pada 11 Maret 1988. Mayatnya dikebumikan di perkuburan muslim di jalan Panglima Denai, sesuai nama judul komik yang pernah dilukisnya sendiri.


Keluarga Zam Nuldyn

Perkawinannya dengan Ibu Hj.Siti Nazariah menghasilkan tujuh orang anak dan empat belas orang cucu. Nama anak-anak mereka adalah: Dr. H.Hanif Asmara Mmc, Hj. Tati Asmara BBA., Drs.Eddy Asmara, Drs.H.Sakhyan Asmara Msi, Drs.Edwin Asmara, Drs. Nyak Ben Zam Asmara dan Ir.Patris Ade Remaja Asmara. Sedangkan dua orang cucu Zam Nuldyn yang patut dikenang akibat menjadi korban peristiwa Tsunami di Aceh adalah : Dewi Asmara (Fak. Arsitek Unsyiah Banda Aceh) dan Undia Asmara (masih bersekolah pada salah satu SMP swasta di Jakarta). Diantara sekian anaknya hanya Nyak Ben Zam Asmara yang menuruni bakat sebagai seorang ilustrator. Dahulu (tahun 1975) ia pernah menjadi illustrator di harian Mimbar Umum, Kini ia bekerja sebagai Produser Program di TVRI Stasiun Medan. Ibu Hj. Siti Nazariah tercatat sebagai penulis lansia. Artikelnya tentang masalah sosial masih bisa kita temukan di harian Waspada.

Sejauh penelitian yang dilakukan penulis, judul komik yang dihasilkan Zam Nuldyn adalah : Merak Jingga, Sri Putih Cermin, Dewi Krakatau, Ratu Karimata, Dayang Suara, Sibalga, Paluh Hantu, Alang Bubu, Si Terjun, Detektif Bahtar, Panglima Denai, Gunung Toba, Gandawirama, Dora, Pangliam Taring, Buaya Gigi Mas, Mas Merah, Jam 5 Sore, Bogam, Putri Pucuk Klumpang, Cindur Mato, Sambalero, Srindit Terbang Malam, Datuk Seruwai dsb. Hampir semuanya tema komik tersebut menggunakan cerita Melayu kuno. Di dalam membaca semua komik Zam Nuldyn akan kita temukan suatu pesan moral yang kuat. Secara tersirat pesan itu melahirkan ajaran agar sebagai manusia kita jangan berbuat jahat.


Add as favourites (118) | Views: 1471

Be first to comment this article
RSS comments

Write Comment
  • Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
  • Personal verbal attacks will be deleted.
  • Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
  • Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
  • Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
Name:
E-mail
Homepage
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.5

 
< Prev   Next >
Informasi OS & IP
OS:  Unbekannt
IE:  Anderer Browser
ISP:  amazonaws.com
IP:  54.161.155.142
      Home arrow News arrow ARTIKEL arrow JEJAK KOMIKUS ZAM NULDYN