Search
Main Menu
Home
News
Blog
Komik Gallery
Kalender Acara
Download
Links
Contact Us
Search
Buku Tamu
Database

Advertisement
MAJALAH KOMIK, INI DIA SAATNYA PDF Print E-mail
User Rating: / 0
PoorBest 
Monday, 19 February 2007
oleh Ami Afriani/ Badriah/ Yos Rizal
dipublikasikan di harian Koran Tempo, 30 April 2006


Majalah komik bermunculan di Indonesia. Dari membeli lisensi majalah asing, sampai yang dibiayai dengan modal bantingan. Superhero tak membutuhkan pangkat. Dari sononya dia sudah sakti. Gelar apapun tentu tak punya tuah baginya. Tapi mengapa ada sebutan kapten untuk para pendekar komik? Majalah komik Sequen yang diterbitkan perdana Maret lalu menjelaskan asal usul istilah “kapten” atau “captain” dalam komik, juga cerita para kapten komik Indonesia. Keunikan para kapten itu dipaparkan dalam rubrik Bongkar Koleksi. Kapten bukan pangkat, tapi nama superhero yang pertama kali muncul di Amerika. Ada Captain Marvel dan yang paling populer Captain America. Komik terakhir ini menginspirasi komikus Indonesia untuk membuat counterpartnya.

Ada Captain Indonesia karya Thee King Sien pada 1950-an, Kapten Halilintar karya Jan Mintaraga pada 1980-an, Kapten Indonesia ciptaan Armin Tanjung, Kapten Nusantara milik Mater, hingga Kapten Bandung pada 1990-an.

Berbeda dengan Captain America, Captain Indonesia ala Thee King Sien memakai kostum yang berciri lokal. Baju samasama ketat—pakaian seperti itu biasa disebut Spandex—tapi Captain Indonesia punya penampilan tambahan: memakai peci.

Kesaktian? Jangan ditanya: dia bisa terbang, juga menguasai jurus-jurus ampuh, naga pun ditundukkan—meski sang kapten bersenjata belati.

Cerita unik para kapten made in dalam negeri ini jarang kita ketahui, apalagi oleh para penikmat komik berusia muda.

Mereka, misalnya, juga tak banyak tahu bahwa selain melahirkan komik-komik wayang, RA Kosasih yang telah dinobatkan sebagai Bapak Komik Indonesia pada satu periode pernah melahirkan para pendekar perempuan: Sri Asih, Siti Gahara, Tjempaka, Rara Inten, Sariti, dan Sri Dewi.

Menggali harta karun komik Indonesia sekaligus memperkenalkan komik-komik Indonesia mutakhir itulah yang menjadi spirit Sequen. “Saya melihat pembaca muda komik Indonesia bermunculan, komiknya sendiri sudah mulai banyak diproduksi, penyuka komik lama juga memiliki komunitas.

Jadi inilah saatnya majalah komik muncul untuk mempublikasikan komik Indonesia,” ujar Iwan Gunawan, Pemimpin Redaksi Sequen. Sequen hadir bulanan dalam ukuran kertas 17,5 x 25 sentimeter dengan tebal 88 halaman —untuk edisi Maret masih 72 halaman.

Edisi pertama itu dicetak 6.000 eksemplar. Majalah yang dijual dengan harga Rp 25 ribu tersebut menampilkan cover story “Tokoh- Tokoh Komik di Tahun 2006” pada edisi perdana mereka.

Selain menyuguhkan artikel khasanah komik lama, majalah yang dijual lewat jaringan toko buku Gramedia dan Gunung Agung itu juga memajang karya tujuh komikus. Dari mulai Siluman Sungai Ular 2020 karya Man yang akan tampil 10 edisi, Malaikat Pedang Buntung karya Hans Jaladara (enam edisi), sampai komik tematis karya Beng Rahardian.

“Kompilasi komik itu menjadi menu utama Sequen. Kami ingin menjadi jembatan antara komikus yang selama ini karyakaryanya kurang dipublikasi dan pembaca,” ucap Iwan. Iwan yang juga dosen Institut Kesenian Jakarta itu menuturkan majalah tersebut digagas sejak setahun lalu.

Ia membicarakan penerbitan majalah itu bersama teman-temannya di Pengumpul Komik Indonesia dan KomikIndonesia. com. Lantaran jarang bisa bertemu, rencana dimatangkan dengan komunikasi melalui e-mail.

Enam orang dari mereka kemudian bersedia duduk di meja dewan redaksi. Siapa penyandang dana majalah ini? Iwan mengatakan majalah tersebut masih dibiayai dengan modal bantingan.

Ia dan beberapa anggota dewan redaksi mengeluarkan uang dari kocek mereka sendiri. Uniknya pula, kata Iwan, “Penulis artikel yang masih teman- teman sendiri itu menolak untuk dibayar. Ini tentu sementara.

Tapi para pengisi komik tetap kami bayar secara profesional.” Berbeda dengan Sequen yang baru sebulan masuk kancah penerbitan komik, Wizard Indonesia telah terbit sejak Oktober 2004 dengan membeli lisensi dari majalah induknya, Wizard International di Amerika Serikat.

Wizard International telah berumur 10 tahun di Amerika. Pemegang lisensi Wizard di Indonesia adalah Yogi Rivano, pemilik PT. Putria Media Kreasi. Jika Sequen lebih menaruh perhatian pada komik Indonesia, Wizard Indonesia khusus membahas tokoh-tokoh kartun superhero Amerika.

“Tapi kami punya rubrik khusus Komikindi untuk komik-komik lokal. Ada kontributor lokal yang menulis komik- komik lokal,” kata Irzam Hardiansyah Harmein, Pemimpin Redaksi Wizard Indonesia. Porsi komik lokal itu cuma lima persen, selebihnya adalah komik-komik Amerika, terutama produk Marvel dan DC Comics yang menciptakan tokohtokoh superhero seperti Superman, Batman dan Spiderman.

DC dan Marvel adalah dua raksasa bisnis komik di Amerika yang mendominasi pasar komik. Irzam menyebut 60 hingga 70 persen isi Wizard Indonesia sama persis dengan majalah induknya. Bahkan untuk edisi perdana, Wizard Indonesia menerjemahkan habis-habisan dari Wizard International.

Aslinya, kata Irzam, Wizard International membahas karakter-karakter tokoh superhero secara serius. Bahkan dibahas secara akademis, ucapnya. Wizard Indonesia berusaha menyesuaikan diri dengan pasar komik di Indonesia. Lantaran opini yang terbentuk di masyarakat bahwa komik adalah kesenangan dan bukan keseriusan, majalah ini lebih memilih tak membahas lebih mendalam karakter tiap tokoh.

Namun Wizard menyediakan rubrik tersendiri untuk ini, yaitu Know Your Heroes. Irzam menilai tokoh- tokoh superhero Amerika memiliki karakter yang selalu hidup sejak dari awal diciptakan hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

Ini berbeda dengan tokoh- tokoh komik manga Jepang yang memiliki akhir cerita meski bersambung seperti Dragon Ball. Superman sejak awal diciptakan pada 1950 tetap menjadi tokoh utama, meskipun pernah mati sekitar 1990- an, ia memaparkan.

Karakter unik ini tak lepas dari masalah hak cipta yang dimiliki perusahaan, bukan penciptanya. Jadi tim mana pun yang membuat alur cerita tokoh-tokoh ini, kata Irzam, tak memiliki hak cipta. Irzam menyebut, oplah Wizard Indonesia kini menyentuh angka 25 ribu eksemplar.

Majalah ini tersebar di seluruh Indonesia dengan distribusi tertinggi di Pulau Jawa, sekitar 70 persen. Untuk urusan redaksi dan distribusi, Irzam mengatakan Wizard Indonesia tak mendapat campur tangan dari Wizard International.

Namun mereka hanya berpesan, Jangan plagiat dan tulisan tiap edisi jadi hak milik mereka, ujar Irzam. Di luar Sequen dan Wizard Indonesia yang bermarkas di Jakarta, majalah komik juga telah terbit di Bandung. Ada majalah komik dan animasi Advance, juga majalah Valens yang telah beberapa kali menggelar kegiatan off-air.

Tahun lalu, majalah seukuran buku tulis yang terbit sebulan sekali itu menggelar Festival Bikin Komik untuk pelajar. Para pelajar itu berlomba mewarnai komik yang dibuat di atas kain sepanjang 64 meter. Komik raksasa itu kemudian disumbangkan pada Badan Perpustakaan Daerah Jawa Barat.

Di Bandung ini pula sebuah majalah yang mengupas fenomena animasi dan komik manga Jepang telah bertahan hingga tujuh tahun. Namanya Animonster. Kami lebih memilih anime (animasi Jepang) dan manga karena lagi tren, digemari dan banyak komunitasnya, ujar Wendy Chandra, Presiden Direktur PT Megindo Tunggal Sejahtera yang menerbitkan majalah ini.

Majalah yang terbit sebulan sekali ini, kata Wendy, telah mencapai 35 ribu eksemplar. Animonster dinikmati pembaca dengan rentang usia 9-24 tahun dengan jumlah terbanyak pada usia 13-17 tahun (40 persen), 70 persen di antaranya wanita. Dengan isi 100 halaman, Animonster berisi artikel di antaranya On Stage yang membahas anime atau manga yang sedang booming dan Mangatalk yang membahas manga secara rinci.

Ada pula Special Feature, berisi bahasan seputar serial tokusatsu, superhero yang dibintangi manusia, seperti Ultraman, Masked Rider, Godzilla. Sebagaimana Valens, Animonster setelah terbit lebih dari 60 volume juga menggelar acara off-air, di antaranya festival budaya Jepang.

Seorang pembaca Wizard Indonesia bertanya pada redaksi: Dulu saya mengikuti cerita Spider- Man, sekarang hanya baca sedikit-sedikit dari buku impor. Setahu saya latar belakang orang tua Peter Parker tak pernah diceritakan, hanya disebut orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Tiba-tiba ada teman bilang orang tua Peter juga jagoan.

Benarkah atau saya dikerjain? Rubrik Know Your Heroes majalah Wizard mengungkapkan, dalam Untold Tales of Spider-Man nomor 1 yang keluar 1997 dijelaskan bahwa orang tua Peter Parker— alter ego dari Spider- Man—adalah agen CIA. Pernah dengar cerita tersebut? Sebagaimana kisah kapten berpeci dalam cerita Captain Indonesia, kisah orang tua Spider- Man yang ternyata anggota agen rahasia itu juga tak banyak diketahui pembaca komik.
Add as favourites (137) | Views: 2345

Be first to comment this article
RSS comments

Write Comment
  • Please keep the topic of messages relevant to the subject of the article.
  • Personal verbal attacks will be deleted.
  • Please don't use comments to plug your web site. Such material will be removed.
  • Just ensure to *Refresh* your browser for a new security code to be displayed prior to clicking on the 'Send' button.
  • Keep in mind that the above process only applies if you simply entered the wrong security code.
Name:
E-mail
Homepage
BBCode:Web AddressEmail AddressBold TextItalic TextUnderlined TextQuoteCodeOpen ListList ItemClose List
Comment:



Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.5

 
< Prev   Next >
Informasi OS & IP
OS:  Unbekannt
IE:  Anderer Browser
ISP:  amazonaws.com
IP:  54.87.128.228
      Home arrow News arrow ARTIKEL arrow MAJALAH KOMIK, INI DIA SAATNYA