Rating 5 / 5. Total vote: 1

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

HANG TUAH

(Copas dari tulisan Alm. Bpk. Akhmad Makhfat) :

“Hang Tuah”
Karya : Nasjah
Penerbit : Perpustakaan Perguruan Kementerian P.P. dan K.
Cetakan II
Tahun : 1955
Jumlah Halaman : 37

Mampirnya Pak Iwan Gunawan ke Minomartani seminggu lalu membuat saya membaca ulang Hang Tuah. Pak Iwan mencari cetakan pertama karena yang beliau punya juga cetakan kedua persis dengan yang saya punya. Awal ketika dapat komik “Hang Tuah” ini saya bingung dan bertanya, siapa “Nasjah” yg dimaksud dgn komikus Hang Tuah ini. Memang sempat menduga Nasjah yg dimaksud adalah “Nasjah Djamin”. Baru setelah minggu lalu berbicara dengan Pak Iwan dan lalu membuka berbagai situs tentang Nasjah Djamin, saya menjadi yakin bahwa Nasjah yang dimaksud memang Nasjah Djamin, penulis novel “Hilanglah Si Anak Hilang” dan “Helai Helai Sakura Gugur” yang pernah saya baca waktu SMA.

Nasjah Djamin lahir 24 September 1924 di Perbaungan Sumatra Utara. Komik Hang Tuah ini dibuat oleh beliau sekitar tahun 1952, ketika beliau bekerja di Balai Pustaka. Hanya dua karya komik dari Nasjah Djamin. Selain komik “Hang Tuah” ini, ada komik “Si Pai Bengal” (sayang belum pernah melihat komik tsb). Nasjah Djamin meninggal di Yogya pada September 1997.

Komik 37 halaman ini sangat mungkin menjadi komik tertua di Indonesia. Komik ini berkisah tentang perjalanan hidup dari seorang Hang Tuah. Hang Tuah adalah legenda Melayu yang telah banyak dibukukan oleh banyak pengarang dan juga difilemkan. Waktu kecil saya mengenal Hang Tuah lewat film yang dibintangi oleh P Ramli.

Komik berformat 3 strip untuk setiap halaman ini memulai kisah dengan sebuah keluarga di Sungai Duyung, keluarga Hang Mahmud dengan isterinya yang bernama Dang Merdu Wati. Mereka dikaruniai anak yang diberi nama Hang Tuah. Ketika Hang Tuah agak besar mereka sekeluarga pindah ke negeri Bintan karena raja Bintan terkenal adil dan pemurah. Tumbuh dan besar di Bintan, Hang Tuah memiliki 4 sahabat sebaya, Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Bersama dengan 4 sahabatnya itu kemudian Hang Tuah merantau menempuh lautan. Dalam perantauan Hang Tuah dan teman-temannya mampu menghancurkan dan menawan kelompok perompak. Ternyata para perompak itu adalah anak buah Aria Jemaja Gajah Mada dari Majapahit. Kemudian atas bantuan Batin Singapura, para perompak diserahkan ke raja Bintan. Raja Bintan sangat senang mengetahui kepahlawanan Hang Tuah. Hang Tuah dan ke empat sahabatnya kemudian berguru pada seorang pertapa yang berama Aria Putera di gunung Anjalu. Setelah selesai berguru, Hang Tuah dan sahabat2nya menjadi punggawa raja Bintan. Kepahlawanan dan kepandaian Hang Tuah membuat karirnya melejit dan menjadi kepercayaan raja. Berbagai tugas penting diserahkan kepada Hang Tuah dan Hang Tuah berhasil melaksanakannya, termasuk tugas ke Majapahit yang penuh dengan intrik politik. Keberhasilan demi keberhasilan Hang Tuah membuat pejabat istana iri dan memfitnah Hang Tuah, sehingga iapun dihukum buang oleh raja. Terakhir ketika Hang Jebat yang diangkat menggantikan posisi Hang Tuah melakukan pemberontakan, Hang Tuah dipanggil kembali oleh Raja guna memadamkan pemberontakan yg dilakukan oleh sahabatnya itu…….

Komik Hang Tuah ini komik yang patut dimiliki oleh kolektor komik Indonesia. Komik awal-awal yang mungkin dengan referensi yang terbatas, mampu membawa pembaca berasyik masyuk ke masa dan petualangan Hang Tuah, Sang Pahlawan dari Tanah Melayu…..*****

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

05 - Sedang

Kemasan

Softcover

Cetakan

C2 – Cetakan Kedua

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1955

Jilid

1 Jilid Tamat

Info Lainnya

Tanggal Beli

Tidak Tercatat

Harga Beli

Rp. 0

Tamat

Ya
Jumlah Buku
1

Isi Lengkap

Ya

Halaman

1

s/d

37

Jenis Kertas

Kertas Koran

Catatan

Saya sengaja "meminjam" dan menampilkan beberapa komik koleksi milik beberapa rekan kolektor seperti Alm. Bpk. Akhmad Makfat ini semata untuk menunjukkan kekayaan khasanah komik Indonesia di masa kejayaannya "tempo doeloe".

Gallery