“HARDJOTANI”
(Sebuah tulisan yang bagus dari Alm. Bpk. Achmad Makhfat tentang salah satu karya Moch. Radjien yang sudah amat langka saat ini).
Kisahnya tentang 2 saudara seperguruan yang akhirnya berpisah jalan hidup. Yang seorang menjadi “perampok budiman” seperti Si Pitung, sedangkan yang lain menjadi “hamba wet/hukum” yang tugasnya mengejar sang “perampok”. Sebuah tema yang sungguh menarik…….
“Hardjotani”
Cergam karya : Moh. Radjien
Penerbit : Fa. “Warga”, Soerabaja
Tahun terbit : 1962
Jumlah halaman : 30 halaman (tamat).
Siapa dan bagaimana Moh. Radjien, sampai sekarang masih belum banyak saya ketahui. Satu-satunya info yang saya miliki tentang beliau adalah bahwa beliau pernah bekerja di majalah “Tjermin”. Dalam Edisi Lebaran/No. 394/395/Tahun IX/Sabtu, 19 April 1958, nama beliau tercatat sebagai dewan redaksi. Kabarnya majalah ini dibredel pada tahun 1961 karena menolak memuat manifesto sebuah partai yang tengah berkuasa pada masa itu. Meski demikian sepertinya pada era akhir tahun 1950an dan awal tahun 1960an karya beliau malang melintang setidaknya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Penerbit di kota Surabaya dan Malang menerbitkan karya-karya beliau. Bahkan ada juga karya beliau yang diterbitkan oleh penerbit di Tasikmalaya. Komik-komik Moh. Radjien hampir semua bertemakan cerita rakyat dan legenda, kecuali mungkin “Hardjotani” dan “Pemberontakan Peta di Blitar”, sebuah komik yang mengkisahkan pemberontakan tentara Peta (Pembela Tanah Air).
Komik Hardjotani termasuk komik non legenda. Bahkan menurut pengakuan Moh. Radjien, kisah komik ini diangkat dari kisah nyata yang terjadi di Surakarta Hadingrat (Solo) pada akhir abad 19. Satu kisah yang mengingatkan kita pada kisah “Si Pitung” dari Betawi. Kisah diawali dengan adanya dua orang pemuda dari Surakarta, yakni “Hardjo” yang kemudian dikenal sebagai “Hardjotani” dan “Sukamto”. Hardjo berasal dari keluarga petani, sementara Sukamto adalah putera seorang Wedana. Keduanya belajar ilmu silat kepada seorang tokoh sakti. Karena rajin, keduanya disayang oleh guru mereka. Setelah ilmu keduanya dianggap cukup mumpuni, sang Guru menguji kesaktian mereka dengan cara mengutus mereka ke daerah² yang terkenal banyak orang saktinya. Ia memerintahkan kepada Hardjotani untuk pergi ke daerah Ponorogo guna mencoba ilmu para warok disana. Sedangkan Sukamto ditugaskan ke Tasik untuk mencoba ilmu tokoh² sakti di wilayah tersebut.
Perjalanan ke Ponorogo mempertemukan Hardjotani dengan “Warok Wiromenggolo”. Pertemuan yang berlanjut dengan mengadu ilmu. Hardjotani berhasil mengalahkan sang warok, juga warok-warok lain yang ditemuinya. Kemenangan Hardjotani membuahkan banyak harta yang diterimanya dari warok-warok yang ia kalahkan. Hardjotani kembali ke Surakarta dengan membawa harta yang ia peroleh dan semuanya diserahkan pada Sang Guru sebagai bukti kemenangannya. Oleh sang Guru, Hardjotani diminta agar membagikan harta tersebut kepada orang-orang miskin yang membutuhkan. Semua perintah Sang Guru dilaksanakan oleh Hardjotani.
Pada saat yang bersamaan, Sukamto juga pulang dari daerah Tasik. Namun tidak seperti Hardjotani yang membawa pulang banyak harta, Sukamto hanya dapat menceritakan bagaimana kesaktiannya mampu mengalahkan orang² sakti di sana. Oleh Sang Guru, keduanya diingatkan untuk tetap mengamalkan ilmunya di jalan kebenaran dan tetap memelihara tali persaudaraan diantara mereka.
Beberapa tahun berjalan, Hardjotani menjadi kepala penyamun yang terkenal. Hardjotani merampok harta orang² kaya dan membagikannya kepada rakyat miskin. Ia ditakuti orang kaya namun dicintai oleh kaum miskin. Orang-orang kaya yang dirampok Hardjotani adalah orang-orang yang menjadi kaki tangan penjajah Belanda. Perbuatannya membuat orang-orang kaya tersebut melapor ke Susuhunan Pakubuwono, namun Sang Susuhunan bimbang untuk menangkapnya karena rakyat miskin mencintai dan berterima kasih kepadanya. Ia juga tak pernah mengganggu orang-orang istana. Singkat kata Hardjotani tak mengganggu orang-orang yang bukan kaki tangan Belanda. Karena tak ada tindakan dari pihak kraton Surakarta, maka orang-orang kaya tadi melapor kepada Gubernur Belanda di Surakarta. Hardjotani pun kemudian diburu dan pada satu kesempatan berhasil ditangkap. Namun dengan kesaktiannya, Hardjotani berhasil kabur dari penjara, sehingga pihak Belanda memerintahkan untuk menangkapnya “hidup atau mati”. Kembali pada suatu kesempatan Hardjotani dapat ditangkap dan dihukum tembak, namun ia tidak mati dan lagi² berhasil melarikan diri.
Singkat cerita, dari seorang ‘delik sandi’ (mata²), pihak Belanda mengetahui bahwa Hardjotani memiliki seorang saudara seperguruan yang setara ilmunya, bernama Sukamto, yang kebetulan kini menjabat sebagai Mantri Polisi. Sukamto pun diminta oleh Gubernur Belanda untuk menangkap Hardjotani, hidup atau mati. Namun Sukamto agak enggan untuk menangkap saudara seperguruannya itu. Ia hanya meminta Hardjotani menghentikan kegiatan perampokannya. Akan tetapi Hardjotani menolak dan membuat kesepakatan bahwa Sukamto boleh menangkap dan menghukum dirinya jika dia memasuki wilayah kerja Sukamto. Pada suatu hari Hardjotani memasuki wilayah Sukamto untuk mengunjungi calon isterinya. Semula Sukamto membiarkan, namun kunjungan Hardjotani ke wilayah Sukamto yang berkali-kali akhirnya diketahui oleh Gubernur Belanda, yang langsung memerintahkan sang Mantri Polisi bawahannya itu untuk melaksanakan tugasnya sebagai “hamba wet/hukum”. Sukamto kemudian menemui Hardjotani dan mengingatkan akan janji yang sudah mereka sepakati. Karena kalah janji, akhirnya Hardjotani bersedia dihukum mati oleh Sukamto karena dia merasa sudah puas dapat melakukan perbuatan baik untuk rakyat miskin.
Hardjotani adalah kisah kepahlawanan bagi orang miskin, namun penjahat bagi orang-orang Belanda. Mari kita renungkan, ada di pihak mana kita pada saat ini? …………. *****