*Cergam Legenda Sejarah :
“HAJAM WURUK”
Karya : A. Isnur D.
Penerbit : Usaha Modern, Surabaja
Tahun terbit : 1961
“Perang Bubat” merupakan luka yang meninggalkan bekas yang dalam bagi kita semua. Luka yang “menjauhkan” Jawa dan Sunda dalam waktu yang sangat lama. Alhamdulillah dengan perkembangan waktu dan kebesaran hati, Jawa-Sunda sudah tak bersekat sekarang. Pada tahun 1961 A. Isnur D. menuturkan tragedi Bubat agar kita menjadikannya cermin bahwa curiga yang berlebihan, kesombongan, dipadu dengan intrik politik merupakan api pemicu pertikaian yang berbahaya.
Komik dimulai dengan hasrat raja Majapahit, Hajam Wuruk untuk mencari permaisuri. Dari putri2 Majapahit yang diajukan, Hajam Wuruk tidak tertarik, namun Hajam Wuruk tertarik justru pada Diah Pitaloka, puteri dari negeri Sunda. Segera Hajam Wuruk mengutus Aria Madhu untuk melamar Diah Pitaloka. Kedatangan Aria Madhu dan rombongan disambut gembira oleh keluarga kerajaan Sunda. Baginda Raja dan Diah Pitaloka pun menerima lamaran Hajam Wuruk……
Baginda bersama putrinya, dengan didampingi Aria Madhu dan rombonganpun berangkat ke Majapahit dengan menggunakan perahu kebesaran kerajaan. Dalam pelayaran ke Majapahit, Baginda mendapat pertanda bahwa ia tidak akan melihat tanah airnya kembali.
“Ja Dewa, hamba rela menerima akibat akan alamat ini”
Setelah seminggu berlayar, sampailah rombongan di pelabuhan Bubat, dan segera membangun bangsal2 darurat untuk tempat tinggal sementara, sambil menunggu Hajam Wuruk menjemput mereka, sesuai yang dijanjikan oleh Aria Madhu. Aria Madhu mendahului ke Majapahit untuk melaporkan hasil lamaran ke Kerajaan Sunda dan memohon Hajam Wuruk untuk menjemput Diah Pitaloka di Bubat…..
Permohonan Aria Madhu ditentang oleh Patih Gajah Mada. Menurut Rakyan Patih, perkawinan raja adalah urusan negara sehingga langkah2 dan prosesnya harus mendapat pertimbangan dari dewan menteri Majapahit. Rakyan Patih berpendapat bahwa derajat Majapahit lebih tinggi, sehingga tak sepantasnya Hajam Wuruk menjemput Diah Pitaloka ke Bubat. Melainkan seharusnyalah Sang Baginda Raja Sunda menyerahkan puteri Diah Pitaloka ke Majapahit. Untuk menguatkan pendapatnya, Rakyan Patih juga menghembuskan pernyataan bernada hasutan bahwa Majapahit dalam kondisi terancam, karena kadatangan Sang Baginda di Majapahit disertai dengan bala tentara…….
Sementara itu, karena lama tak ada kabar dari Majapahit, Baginda Raja Sunda mengutus Patih Anepaken untuk menanyakan kabar penyambutan Hajam Wuruk ke Bubat. Di Majapahit, Patih Anepaken diperlakukan dengan tak sepantasnya oleh Rakyan Patih, sehingga terjadi pertengkaran di antara mereka. Rombongan Patih Anepaken pun meninggalkan Majapahit tanpa dapat bertemu dengan Hajam Wuruk, ditambah hati yang luka akibat perlakuan Patih Mada…..
Sekembali di Bubat, Patih Anepaken melaporkan hasil pertemuan dengan Patih Gajah Mada. Intinya adalah agar Baginda mempersembahkan Sang Sekar Kedaton “….dengan tidak bersjarat dan penuh hikmat!! Kalau kita menolak, kita akan dikepung dan dihantjurkan…” Mendengar laporan tersebut, Baginda Raja segera mengumpulkan para ksatria Kerajaan Sunda, Pitar dan Paco. Pitar adalah ksatria puteri yang masih muda dan sakti. Dari hasil pembicaraan dengan para ksatria, dibangunlah benteng pertahanan. Pitar pun diutus ke Majapahit menjadi telik sandi. Di Majapahit, Pitar melihat bahwa rakyat Majapahit tengah bersiap-siap menghadapi perang.
Di paseban Majapahit, Rakyan Patih berhasil membuat Hajam Wuruk percaya padanya. Hajam Wuruk menyerahkan urusan dengan Kerajaan Sunda kepada Gadjah Mada. Rakyan Patih pun segera bersurat pada Baginda Raja Sunda yang isinya bahwa Prabu Hajam Wuruk akan segera menjemput calon isterinya.
Baginda Raja tak percaya. Dan ternyata firasat Baginda benar adanya, karena yang datang adalah balatentara Majapahit yang dipimpin oleh Gadjah Mada. Terjadilah pertempuran di Desa Bubat. Meski kalah jumlah dan persenjataan, para ksatria kerajaan Sunda dengan gagah berani membela Raja dan kehormatan kerajaan sampai titik darah penghabisan. Baginda dan keluarganya pun memilih sirna daripada direndahkan derajatnya. Tragedi Bubat tahun 1357 menyisakan Hajam Wuruk yang menyesal dan berduka……. *****
(Copas dari postingan alm. Bpk. Akhmad Makhfat)