(“Petikan” dari ulasan Alm. Bpk. Akhmad Makhfat) :
“KISAH PENDUDUKAN JOGJA”.
Karya : Abdul Salam
1 jilid atau 119 panel tamat
Penerbit : “Kedaulatan Rakyat”, Jogja.
Tahun terbit : 1952
Abdul Salam adalah seniman yang mengalami masa jaman penjajahan Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia. Komik “Kisah Pendudukan Jogja” karya beliau diperkirakan sangat mungkin komik lokal tertua yang pernah diterbitkan.
“Kisah Pendudukan Jogja” merupakan komik ‘kapita selekta’ dari suasana pendudukan Belanda dari 19 Desember 1948 sampai dengan 29 Juni 1949. Dalam komik ini Abdul Salam menampilkan garis-garis ekpresif dan detail gambar yang menggambarkan kondisi Jogja pada masa itu. Sepeda, mobil, truk, tank, dan pesawat yang memang digunakan waktu itu. Hal lain yang ditampilkan Abdul Salam adalah gaya celetukan dan ekspresi ala Jogja. Sebuah komik bukti sejarah yang perlu kita baca dan punya.
Komik di mulai dengan serangan udara Belanda pada “Bandara Maguwo” (sekarang Adi Sucipto) pada hari Minggu 19 Desember 1948. Serangan mendadak ini telah mengakibatkan gugurnya 19 anggota AURI penangkal udara di Maguwo. Serbuan ini diikuti dengan pendaratan pesawat² tempur Belanda. Mengetahui serangan tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang sedang sakit bergegas ke istana kepresidenan untuk mengadakan rapat dengan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta dan para petinggi republik yang lain. Rapat memutuskan ibu kota Republik Indonesia dipindah dari Jogja ke Bukittinggi dan kekuasaan dialihkan kepada Mr. Syafruddin. Jendral Sudirman yang tengah sakit datang ke istana untuk menyiapkan pengungsian presiden. Bung Karno tidak mau mengungsi dan meminta Mr. Susanto dan Supeno untuk mengungsi karena mereka berdua ditunjuk sebagai pemerintah darurat di Jawa. Bersama Pak Dirman mereka mengungsi ke selatan.
Setelah menguasai Maguwo, Belanda pun tak berlama-lama membombarbir kota Jogja. ‘Cocor merah’ menggemuruh di udara Jogja menembaki dan menjatuhkan bom. Di daerah Pingit sebuah mobil dan 2 orang penumpangnya gugur, sedangkan di Demak Ijo 10 orang menjadi korban ledakan bom. Bombardir ini membuat penduduk panik, dan segera sebagian penduduk termasuk Polisi, TNI dan AURI mengungsi ke Selatan, Barat dan Utara Jogja. Tentara Belanda pun pelan-pelan masuk kota. Bantuan tentara darat Belanda dari Salatiga masuk Jogja lewat Magelang dan Klaten. Belanda merasa mudah melakukan Pendudukan Jogja.
Awal pendudukan, Belanda bersikap manis kepada penduduk Jogja. Bung Karno, Sjahrir dan Agus Salim dinyatakan menjadi ‘residence surveillee’ sebelum kemudian ditahan buang ke Brastagi dan kemudian ke Parapat. Sementara Bung Hatta dan para menteri ke Bangka. Mulailah Belanda menangkapi orang-orang yang pro republik sehingga tahanan Markas Polisi Ngupasan penuh sesak.
Dari pihak Indonesia, TNI melakukan siasat bumi hangus. Gedung senjata di Tugu, jembatan sungai Winongo di Pingit, pabrik gula di Padokan dan jembatan Kali Progo dibumihanguskan.
Selanjutnya komik mengisahkan cuplikan2 kejadian selama pendudukan. Kisah tahanan Amir (asal Kalimantan) yang menemukan granat di laci kamar serdadu Belanda dan ditembak mati setelah melempar granat untuk melarikan diri. Ternyata granat kosong yang tak meledak.
Kisah Let Kol Soeharto yang mundur ke Kalibayem dan mampu menjebak tentara Belanda dengan ranjau bom yang menewaskan cukup banyak tentara Belanda. Serangan² sporadis Let Kol Soeharto selama pendudukan memberikan moral dan semangat kepada tentara republik.
Kisah² yang mengharukan dan yang menyebalkan pun di ungkap oleh Abdul Salam. Percakapan orang pro republik yang berjualan misalnya.
“Daganganku di pasar sudah habis Mas. Gimana di sini?
“Yah, sudah tombok 1 kemeja”.
Ada juga seorang kassier kantor pemerintah yang melarikan Rp 2 juta uang kas untuk “perjuangan”
Ada orang yang ’emoh’ menderita dan dia pro Belanda “Lihat Jeng, makanan distribusi Belanda serba ‘blik’ (kalengan). Republik tidak akan kembali. Boleh potong jariku”
Ada lagi yang mengaku pejuang, namun suka mencuri barang yang ditinggalkan oleh para pengungsi.
Ada juga tawanan yang diadu dengan sesama tawanan mirip “gladiator”.
Ada pula konvoi tentara Belanda yang terhenti karena di tengah jalan ada karung besar. Setelah dibuka oleh tentara, ternyata isinya ribuan tawon yang lalu menyerang tentara Belanda. ” Aduh gila. Ada perang macam ini”. Kata tentara Belanda yang kepalanya bengkak² disengat tawon.
Perjuangan republik tidak hanya melalui kekuatan senjata, namun juga melalui diplomasi internasional. Indonesia mendapat dukungan moral dari Rusia, negara² Arab, India dan beberapa negara lain. Logistik Belanda ke Indonesia semakin susah karena buruh pelabuhan Australia menolak memuat alat² perang Belanda ke kapal. India dan Pakistan menolak bandara di Kalkuta dan Karachi untuk transit pesawat Belanda. Rusia mencap Belanda sebagai agresor.
Pada tanggal 1 Maret 1949, jam 6 pagi secara serempak semua elemen republik melakukan penyerangan besar-besaran ke Jogja. Jogja pun dikuasai republik selama 6 jam. Serangan itu membuka mata dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih ada, tidak seperti yang didengung-dengungkan oleh pihak Belanda.
Sri Sultan mendesak van Royen agar Belanda melaksanakan keputusan DK PBB, bahwa Belanda harus mundur 22-29 Juni 1949. Akhirnya Belanda pun mundur. Demikian pula dengan penduduk pro Belanda.
Komikpun diakhiri dengan masuknya TNI dan Pak Dirman di kota Jogjakarta…….. *****