Rating 0 / 5. Total vote: 0

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

SORGA YANG HILANG

SI BUTA DARI GUA HANTU EPISODE 06:

SORGA YANG HILANG

Terdpt perubahan tradisi yg signifikan pada tema kisah. Bila biasanya SBDGH selalu berpijak pd dunia nyata dan rasional, maka kali ini ia seakan masuk dlm dunia Dongeng 1001 Malam. Ia terlempar secara gaib ke masa ribuan tahun yg silam ketika konon di Sulawesi Selatan masih ada sebuah negeri bernama Sarphaloka. Bahkan kisahnya ttg penculikan gadis2 oleh seorang Ahli Sihir dari Negeri 1001 Malam (Persia) bernama Tarug. Dan sebuah patung berhala raksasa ikut jadi bagian cerita shg memperkuat kesan dongengnya. Ciri bhw kejadiannya masih di sekitar Sulsel hanya bisa dilihat dari nama 12 Bidadari Gunung Waukara krn nama gunung tsb memang ada dlm peta. Dan juga nama2 La Tongga, La Gontang, La Pole dan La Krentong Daeng Umbara yg sedikit banyak menunjukkan nama2 bangsawan Bugis kalau tak salah…

Tapi menurut Pak Henry Ismono dlm buku “Ganes TH sang Pendekar Kemanusiaan” langkah itu diambil oleh Pak Ganes TH bukan tanpa alasan. Beliau ingin menyentil sikap pemerintah waktu itu yang seolah membiarkan sumber daya alam negeri kita digali dan dieksploitasi oleh pihak asing secara se-mena2, namun utk menghindari ketajaman sensor pihak berwajib terhadap komiknya maka beliau menyamarkan kisah SBDGH yg penuh kritik itu sedemikian rupa dlm kemasan dongeng. Alhasil Sorga yang Hilang bisa lolos dan memperoleh izin terbit…

Sedangkan kualitas gambar Sang Maestro yg tampak mengalami penurunan tak lepas dari kesibukan beliau yg amat padat sehubungan bbrp produser mendaulat beliau sbg penulis skenario dan asisten sutradara utk bbrp film yg diangkat dari komik2 karya beliau shg agak sulit membagi waktu dan tampak bekerja dgn agak ter-gesa2 dlm menyelesaikan komik ini. Apalagi di tahun yang sama pula, Sorga yang Hilang langsung diangkat ke layar lebar, dibagi menjadi 2 judul film yg saling berkesambungan yakni “Sorga yang Hilang” dan “Duel di Kawah Bromo” yg diproduksi secara maraton di tahun yg sama (1974)…

Sayang sekali ketika diangkat ke film, rasionalitas ruang dan waktu semakin kacau. Skenario tdk disesuaikan dgn setting lokasi yg dipindahkan ke Gunung Bromo yang terletak di Jawa Timur shg nama2 bernuansa Sulsel spt La Tongga dan 12 Bidadari Gunung Waukara tetap dipergunakan. Begitu pula logika waktu diabaikan karena La Tongga yg masih balita waktu diselamatkan oleh Barda dari komplotan pembunuh bayaran di awal “Sorga yang Hilang” bisa se-konyong2 menjadi dewasa dlm “Duel di Kawah Bromo” sementara Barda sendiri tidak beranjak tua. Lagi2 problem sinematografi jadi kendala SBDGH versi film shg tak enak untuk dinikmati dan lekas terlupakan….

Synopsis :

Barda dimintai tolong oleh seorang wanita yg tengah sekarat utk mengantarkan putranya yg masih balita kpd Tuan Barnaba di Donggala. Tapi diperjalanan, seorang gadis misterius menculik anak tsb. Upaya Barda mencari balita tsb telah membawanya pd suatu peristiwa gaib, yg membuatnya terdampar ke suatu negeri bernama Sarphaloka. Ia diserang seorang ahli sihir bernama Tarug hingga terluka parah dan ditolong putri kepala negeri bernama Nariza. Ternyata warga negeri sedang dilanda ketakutan karena setiap bulan purnama mereka hrs mempersembahkan seorang gadis di kaki patung berhala raksasa. Dan kali ini giliran Nariza hrs dipersembahkan.

Barda menyamar menggantikan Nariza jadi kurban persembahan patung berhala dan berhasil membongkar praktek penipuan oleh Tarug yg ditugaskan oleh raja Persia mencari gadis2 utk dijadikan gundiknya. Terjadilah pertarungan antara Si Buta dgn pasukan Persia. Warga setempat dibawah pimpinan La Tongga ikut melakukan perlawanan. Patung berhala dihancurkan. Tapi akibat hasutan La Pole, paman La Tongga yg bersekongkol dgn pasukan Persia, La Tongga dan Si Buta malah dihukum di Kuil Ula2 karena dianggap telah membangkitkan amarah sang dewa Bala yg mereka sembah. Untunglah muncul 12 Bidadari Gunung Waukara. Si bungsunya yg berjulukan Radina Penari jatuh cinta pd La Tongga shg membebaskan pemuda itu. Juga saudara ketiga yg bernama Tritawa Dewi naksir kpd Si Buta dan menolongnya…

Timbul kekacauan akibat terjadi perpecahan diantara 12 Bidadari. Sebagian berpihak kpd musuh asing dan sebagian lagi beralih ke pihak para patriot pembela negeri. Puncaknya adalah ketika Imam Besar Kuil Ula2 bernama La Gontang mengamuk akibat perselingkuhannya dgn Radina Penari terungkap oleh Barda. Terbongkar pula kedok bhw sang Imam Besar justru merupakan kaki tangan asing. Kesaktian La Gontang membuat segenap Sarphaloka porak-poranda. Bardapun kewalahan menghadapinya. Untung muncul tua2 pendiri negeri Sarphaloka yg amat disegani oleh La Gontang yakni La Krentong Daeng Umbara, dan mengajak sang imam kembali ke pertapaan untuk menebus dosa. Baru saja kedua tokoh sakti itu pergi, datanglah ortu 12 Bidadari Gunung Waukara yg murka karena putri2nya saling berseteru diantara mereka sendiri. Maka dihajarnya anak2 durhaka itu yg berdampak pd luluh-lantaknya negeri yg konon dulu seindah sorga itu….

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

09 - Sangat Bagus

Kemasan

Hardcover

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1973

Jilid

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, and 8