Rating 5 / 5. Total vote: 1

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

Ballada Sumilah

“BALLADA SUMILAH”

Diangkat dari puisi karya : WS Rendra
Diceritakan kembali dan dilukis oleh : HASMI
Dimuat sebagai cergam sisipan di Majalah Remaja “Hai” edisi : No.4 Tahun ke V, 24 November 1981.
Jumlah : 4 halaman

Kolaborasi antara 2 seniman dari 2 cabang seni yang berbeda sudah sering kita temukan. Misalnya saja cerita komik yang diangkat ke film, atau beberapa lagu Bimbo yang liriknya diambil dari puisi karya Taufiq Ismail. Ada pula komikus Teguh Santosa yang mengangkat novel silat “Senopati Pamungkas” karya Arswendo Atmowiloto menjadi karya komik. Dan kali ini, Hasmi dengan kreativitasnya mencoba “menerjemahkan” puisi karya sastrawan WS Rendra ke dalam bentuk komik/cergam.

Puisi ini dibuat oleh WS Rendra, konon terinspirasi dari peristiwa permerkosaan seorang gadis pedagang telur bernama Sumirah oleh beberapa orang anak pejabat zaman Orde Baru yang kita kenal dengan kasus “Sum Kuning”.

“Ballada Sumilah”
Karya : WS Rendra

Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara.

Datang yang berkabar bau kemboja
dari sepotong bumi keramat di bukit
makan dari bau kemenyan.

Sumilah!
Rintihnva tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya
– Samijo! Samijo!

Bulan akan berkerut wajahnva
dan angin takut nyuruki atap jerami
seluruh kandungan malam pada tahu
roh Surnilah meratap dikungkung rindunya
pada roh Samijo kekasih dengan belati pada mata.

Dan sepanjang malam terurai riwayat duka
begini mulanya:
Bila pucuk bambu ngusapi wajah bulan
ternak rebah dan bunda-bunda nepuki paha anaknya
dengan kembang-kembang api jatuh peluru meriam pertama
malam muntahkan serdadu Belanda dari Utara.

Tumpah darah lelaki
o kuntum-kuntum delima ditebas belati
dan para pemuda beribukan hutan jati
tertinggal gadis terbawa hijaunya warna sepi.

Demi hati berumahkan tanah ibu
dan pancuran tempat bercinta
Samijo menggetarkan dan mewarnai malam
dengan kuntum-kuntum darah
perhitungan dimulai pada mesiu dan kelewang.

Terkunci pintu jendela
gadis-gadis tertinggal menaikkan kain dada
menakutkan yang mengelilingi kehidupan hari-hari

Segala perang adalah keturunan balas dendam
sumber air pancar yang merah
bebunga berwarna nafsu
dinginnya angin pucuk pelor, dinginnya mata baja
reruntuklah sernua merunduk
bahasa dan kata adalah batu yang dungu.

Maka satu demi satu meringkas rumah-rumah jadi abu
dan perawan-perawan menangisi malamnya tak ternilai
kerna musuh tahu benar arti darah
memberi minum dari sumber tumpah ruah
nyawanya kijang diburu terengah-engah.

Waktu siang mentari menyadap peluh
dengan bongkok berjalan nenek suci Hassan Ali
di satu semak menggumpal daging perawan
maka diserunya bersama derasnya darah:
– Siapa kamu?
– Daku Sumilah daku mendukung duka!
Belanda penerbitan itu membongkar pintu
dikejar daku memutar-putar sumur tapi kukibas dia.
– Duhai diperkosanva dikau anak perawan!
– Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!
Takutku punya dorongan tak curiga
tersungkur ia bersama nafsunya ke sumur.
– O tersobek kulitmu lembut berbungakan darah
koyak-moyak bajumu muntahan dadamu
hilanglah segala kerna tiada lagi kau punya
bunga yang terputih dengan kelopak-kelopak sutra,
– Belum lagi! Demi air daraku merah: belum lagi!

Demi berita noda teramat cepat karena angin sendiri
di mulut tujuh desa terucap Sumilah dan nodanya.

Dan demi berita noda teramat cepat kerna angin sendiri
noda Sumilah terpahat juga di hutan-hutan jati
lelaki-lelaki letakkan bedil kelewang mengenangnya
dan Samijo kerahkan segenap butir darah
lebih setan dari segala kerbau jantan.

Bila dukana terkaca pada bulan keramik putih
antara bebatang jati dengan rambut tergerai
Sumilah yang malang mendamba Samijonya
menyuruk musang, burung gantil nyanyikan ballada hitam.

Satu tokoh menonggak di tempat luang
dan berseru dengan nada api menyala:
– Berhenti! Sebut namamu!

Terhenti Sumilah serahkan diri ke batang rebah:
– Suaramu berkabar kau Samijo, Samijoku.
Daku Sumilah yang malang, Sumilahmu.
– Tiada lagi kupunya Sumilah. Sumilahku mati!
– Belum lagi, Samijo! Aku masih berani!

Bulan keramik putih tanpa darah
warna jingga adalah mata Samijo
yang menatapnya dan menatap sangat tajam.

– Padamkan jingga apimu. Padamkan!
Demi selaput sutraku lembut: belum lagi!

Bulan keramik putih bagai pisau cukur
sayati awan dan malam yang selalu meratap
Samijo menatap dan menatap sangat tajamnya.

– Samijo, ambil tetesan darahku pertama
akan terkecap daraku putih, daramu seorang
Batang demi batang adalah balutan kesepian
malam mengempa segala terperah sendat napas
Samijo menatap dan menatap sangat tajam.

– Samijo, hentikan penikaman pisau pandang matamu
kaubantai daku bagai najis, mengorek dena yang tiada.
Padamlah padam kemilau yang menuntut balas dendam.

Wama pandangnya seolah-olah ungkapan kutuk berkata:
– Jadilah perempuan mandul kerna busuk rahimmu,
jadilah jalang yang ngembara dari hampa ke dosa
aku kutuki kau demi kata putus nenek nenek nenek moyang!

Tanpa omongan dilepas tikaman pandang penghabisan
lalu diubah ia menghambur ke jantung hutan jati
tertinggal Sumilah digayuti koyak-moyaknya.

Sedihlah yang bercinta kerna pisah
lebih sedihlah bila noda terbujur diantaranya
dan semuanya itu tak ‘kan padam.

Kokok avam jantan esoknya bukanlah tanda menang
adalah ratap yang juga terbawa oleh kutilang
karena warga desa menemukan mayat Samijo
nemani guguran talok depan tangsi Belanda.

Merataplah semua
kerna yang mati menahan balas dendam
di katup rahang adalah kenekatan yang menandakan tersia.

Kerna balas dendamnya siksa airmatanya terus kembara
mengungkap kehadiran Sumilah, dinginnya tanpa percaya
dan Sumilah jadi gila terkempa dada oleh siksa
gadis begitu putih jumpai ajalnya di palung sungai.

Sumilah! Sumilah!
Tubuhnya lilin tersimpan di keranda
tapi halusnya putih pergi kembara
rintihnya tersebar selebar tujuh desa
dan di ujung setiap rintih diserunya:
– Samijo! Samijo!
Matamu tuan begitu dingin dan kejam
pisau baja yang mengorek noda dari dada
dari tapak tanganmu angin napas neraka
mendera hatiku terungkap lepas dari rongga
bulan jingga, telaga kepundan jingga
mengomel-ranting pokok ara
terbencana darahku segala jingga
Hentikan, Samijo! Hentikan, ya Tuan!

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

04 - Cukup

Kemasan

Sisipan Majalah

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1981

Jilid

1 Jilid Tamat

Info Lainnya

Tanggal Beli

14 July 1983

Harga Beli

Rp. 0

Tamat

Ya
Jumlah Buku
1

Isi Lengkap

Ya

Halaman

1

s/d

4

Jenis Kertas

Book Paper

Catatan

Pemberian dari saudara sepupuku yang kebetulan berlangganan Majalah Hai. Waktu akan kuliah di luar kota dia "wariskan" koleksi majalahnya kepada saya.

Gallery