Serial Jaka Sembung episode XV :
“DIA BAJING IRENG” (Return of the Black Squirrel) – Part One
Karya : Djair Warni
Penerbit : UP Rosita, Jakarta.
Tebal : 744 halaman (12 jilid )
Tahun terbit : 1973
Dlm episode ini bermunculan tokoh² sakti yg terbagi menjadi 3 kubu sbb :
1. Kubu pro JS/BI :
a) “Duo Perayu Sukma dari Gn. Ciremai”, yakni 2 pendekar sakti difabel bernama Sancang & Cupang, bersenjatakan “kecapi” & “rebab”.
b) “Duo Pendekar Tarling” bernama Wage & Rompang. Sesuai julukannya, mereka bersenjatakan Gitar & Suling, yg merupakan seni musik tradisional dari Pantura Cirebon. Keduanya merupakan murid duo pendekar difabel tsb diatas.
c) Anwar & Ratna. Sepasang pasutri murid “Pesantren Gunung Sembung” yg konsisten membantu keluarga JS, sesuai amanat guru mereka, alm. KH Subekti Ahmad (baca episode II “Bergola Ijo”).
d) Wong Kun Lun & Wong Mei Ling, 2 saudagar Tionghoa, ayah & anak, yg bersimpati thdp perjuangan warga pribumi.
e) Ranti, istri Karta (“Si Gila dari Muara Bondet”).
f) Karma, sahabat Karta.
g) Asiong. Bocah Tionghoa putra saudagar oportunis bernama Louw Liong San, namun berbeda dgn ayahnya, ia justru akrab dgn bocah2 pribumi sebayanya.
2. Kubu anti JS/BI :
a) “Tiga Buaya Kembar dari Losarang”, yg bertekad membalas dendam kpd BI karena guru mereka “Raja Buaya dari Losarang” tewas di tangan BI.
b) Lintasanca & Lintamanuk. 2 perampok terdiri dari ayah & anak, yg menaruh dendam karena pernah dipecundangi oleh BI dl ohm pertarungan di hutan Loyang bbrp tahun sebelumnya.
c) Kapitan van de Maar & Kapitan Princen, 2 perwira Kumpeni yg diutus oleh Residen van den Smoeth utk menggantikan Kapitan Lucas yg tewas di tangan Anwar & Ratna (baca episode : “Kinong”).
3. Kubu di zona abu² :
a) Kasnom. Lelaki pecundang yg terjerat hutang akibat gemar berjudi. Akibatnya dia hidup sbg “informan” yg menjual info tentang keberadaan BI kepada musuh² pendekar wanita budiman itu.
b) Louw Liong San & Louw Liong Fu. 2 kakak-beradik, saudagar Tionghoa, yg iri kpd Wong Kun Lun, karena tanah milik mereka di Arjawinangun kalah subur dari milik Wong, shg keduanya rela membantu Kumpeni menangkap BI, demi mendptkan tanah yg subur milik JS di Kandanghaur.
** Pihak yg “terpaksa menangkap dan menyerahkan” BI kpd Kumpeni, demi mencegah jatuhnya korban nyawa yg sia² dari pihak rakyat, yg nekad melawan Kumpeni utk membela BI tanpa kekuatan yg mumpuni. Mereka adalah :
c) “Trio Punakawan” yg konon merupakan penjelmaan tokoh pewayangan putra Semar, yg terdiri dari “Gong Sekati” (jelmaan Cepot), “Ketipung Lindu” (Gareng) dan “Dewa Klenengan” (Dawala). Di episode selanjutnya (XVI) Djair akan menyajikan “plot twist” diluar perkiraan para pembaca perihal “Trio Punakawan” ini….
Sinopsis:
Perginya Kinong dari rumah, membuat Roijah yg baru usai melahirkan, merasa perlu utk segera mencarinya. Utk itu ia menitipkan bayi yg baru dilahirkannya kpd Pak dan Bu Kinong, lalu mengenakan atribut BI yg sdh lama ia simpan dlm lemari, guna memulai kembali petualangannya di rimba persilatan…..
Dlm waktu singkat, ‘comeback’nya BI di “dunia ramai” langsung menghebohkan lawan maupun kawan. Apalagi tanpa disadari oleh BI, ternyata Kumpeni mengadakan sayembara berhadiah 100 gulden bagi yg dpt menangkap dirinya, hidup atau mati. Sewaktu BI singgah di sebuah kedai, seorang ‘informan amatir’ bernama Kasnom, yg tahu perihal sayembara Kumpeni tsb, menyadari kehadirannya. Ia segera beranjak dari kedai itu, utk “menjual” info tsb kpd pihak² yg menaruh dendam kpd BI. Sementara itu BI makan seraya mentraktir seorang pemain kecapi tua tuna daksa (tanpa kaki) yg mengamen disitu……
Setibanya di desa Losarang, BI dihadang oleh “Raja Buaya dari Losarang” beserta murid²nya, yakni “3 Buaya Kembar dari Losarang”, yg agaknya tlh mendptkan informasi dari Kasnom. Mereka dendam kpd BI yg tlh mengobrak-abrik sarang penyamun mereka bbrp thn yg lalu. BI yg masih lemah akibat baru melahirkan, nyaris tewas di tangan si Raja Buaya. Untunglah “pengamen kecapi tua” yg ternyata seorang pendekar sakti, datang menolong bhkn berhasil membunuh RB. BI mengampuni ke-3 murid RB……
Melihat usahanya gagal, Kasnom diam² pergi mencari pihak lain yg juga punya dendam pribadi kpd BI. Ia menemui musuh besar BI yg lain, yakni 2 pendekar bapak & anak, Lintasanca & Lintamanuk di padepokannya. Demi mendengar kemunculan kembali BI, keduanya yg menaruh dendam lama karena pernah dipecundangi oleh BI dlm pertarungan di hutan Loyang, segera mengajak murid² perguruan “Lintasanca” utk pergi mencari BI dgn petunjuk Kasnom……
Sementara itu BI menyewa “rakit eretan” utk menyeberangi kali Cimanuk, guna melanjutkan perjalanan mencari Kinong di desa Jatibarang. Sarkam, si penarik rakit Eretan, enggan dibayar karena tahu bhw penumpang rakitnya adalah BI, sang pembela rakyat lemah. Tapi di rakit eretan lain, 2 pemuda pengamen “tarling” (seni musik gitar & suling khas Pantura Cirebon) yg juga sama² menyeberang, tak punya cukup uang utk membayar. Maka BI turun tangan membayari mereka….
Setiba BI di seberang, komplotan “Lintasanca” menghadangnya. 2 pengamen tarling, yg ternyata bukan orang sembarangan, segera membantunya melawan para penjahat itu. Diluar dugaan, Sarkam dan kawan² sesama penarik rakit eretan datang membantu. Melihat murid²nya tewas dipecundangi warga desa yg secara militan melindungi BI, Lintasanca mengajak putranya Lintamanuk utk mundur. Namun malang, dlm pertempuran itu Sarkam terluka parah. Sebelum tewas, ia menitipkan uang hasil jerih payahnya kpd BI agar disampaikan kpd kekasihnya, Suriah, yg bekerja sbg ART di rumah seorang saudagar Tionghoa di desa Arjawinangun bernama Louw Liong San. BI pun segera berangkat utk melaksanakan amanat tsb…….
Marga Louw terdiri dari 2 kakak-beradik Louw Liong San (LLS) & Louw Liong Fu (LLF). Sifat mereka pelit, serakah dan rasis thdp warga pribumi, membuat mereka tak disukai oleh penduduk setempat. Namun kedudukan mereka amat kuat karena kedekatan LLS dgn Van den Smoeth, Residen VOC di Cheribon. Akibatnya mereka kerap berbuat seenaknya thdp rakyat pribumi. Bhkn LLF terkenal sbg “penjahat pemetik bunga” yg tak segan² merudapaksa wanita² desa utk memenuhi hasrat seksualnya. Berbeda dgn watak paman dan ayahnya, Asiong, bocah remaja putra LLS justru akrab dgn anak² sebaya di desanya. Hal ini tak disukai oleh ayah maupun pamannya. Maka ketika ia terpergok memberi makanan kpd anak desa, Asiong pun dihukum pasung oleh sang ayah…..
Setiba di rumah LLS di Arjawinangun, BI minta dipertemukan dgn saudagar tsb, namun ditolak oleh penjaga pintu. Hingga datang Kapitan van de Maar yg langsung diterima oleh LLS. Rupanya Kasnom tlh ‘menjual’ informasi kpd VOC juga. Mendengar bhw BI berada di Arjawinangun, Residen VOC, lewat van de Maar, menawarkan kerja sama dgn LLS, yakni bila LLS dpt menangkap BI, maka VOC akan menyerahkan desa Kandanghaur yg subur kpd LLS. LLS pun menyanggupi. Setelah tercapai ‘agreement’, van de Maar pun pulang ke Cheribon utk melapor kpd sang Boss……
Ironisnya, LLS tak sadar bhw barusan BI justru ingin bertemu dgnnya, namun ditolak oleh penjaga pintu. Bhkn waktu LLS sibuk dgn van de Maar, diam² BI menyelinap masuk ke dlm rumahnya utk mencari keberadaan Suriah, ARTnya. BI berjumpa dgn Asiong yg tengah dipasung. Bocah itu menolak dibebaskan dari pasungan, tapi dgn senang hati membantu BI menunjukkan kamar tidur Suriah yg terletak di bagian belakang rumah. BI tiba di kamar Suriah di saat yg tepat, yakni saat LLF nyaris memperkosa pembantunya itu. Dgn sekali gebrakan BI menghajar LLF dan segera mengajak Suriah angkat kaki dari rumah juragannya itu….
Utk menghindari kejaran LLF, maka BI dan Suriah bersembunyi di rumah Wong Kun Lun (WKL), yg merupakan pesaing LLS dlm urusan bisnis. Namun berbeda dgn LLS, maka WKL adalah saudagar Tionghoa yg baik hubungannya dgn kaum pribumi, dan anti thdp VOC. Ketika LLF datang ke rumah WKL dgn mengerahkan para centengnya utk mencari BI dan Suriah, Wong Mei Ling (WML), putri WKL, menyuruh Surniah bersembunyi, sementara ia sendiri membantu BI menghadapi LLF dan para begundalnya….
Singkat cerita, demi mengetahui bhw BI berada di rumah WKL, LLS memerintahkan centeng²nya utk menyerang rumah saingan bisnisnya itu. Bhkn ia menyediakan hadiah utk siapapun yg dpt menangkap BI, shg centeng² WKL yg serakahpun rela berkhianat kpd majikannya demi dpt merebut hadiah tsb….
Namun teman² BI tak tinggal diam. ‘Duo Pendekar Tarling’ muncul utk membantu. Meski demikian, mereka terdesak waktu LLS, yg ternyata cukup hebat ilmu kungfunya, ikut turun gelanggang. Keduanya terluka dan terpaksa mundur. Si pengecut LLF tak segan² menyandera Suriah, shg demi keselamatan gadis itu, BI menyerahkan diri.
Dlm keadaan terikat, BI digiring oleh LLF dan anak buahnya menuju balaikota Cheribon. Tapi di perjalanan, ‘si kecapi sakti’ dan saudara seperguruannya ‘pengamen rebab tuna netra’ (keduanya dijuluki “Duo Perayu Sukma dari Gn. Ciremai”) muncul menghadang. Agaknya mereka mendpt laporan dari murid²nya yakni “Duo Pendekar Tarling” bhw BI tlh tertangkap. Kembali terjadi ‘perang tawur’ yg banyak makan korban karena warga desapun ikut ambil bagian dlm kancah pertempuran guna membebaskan BI…..
Puncaknya adalah dgn kemunculan 3 tokoh super sakti yg sangat disegani di wilayah Gn. Ciremai, yg dijuluki orang sbg “Trio Punakawan” karena mereka memang mirip para punakawan dlm kisah pewayangan yakni : Cepot, Dawala & Gareng. Duo Perayu Sukma pun menyegani ke 3 tokoh ini. Namun yg mengherankan, kali ini ketiganya justru setuju menyerahkan BI kpd Kumpeni. Alasannya agar tidak jatuh korban sia² lebih banyak lagi dari pihak rakyat desa…
Bagai terkesima oleh aura sihir yg dilancarkan ‘Trio Punakawan’ tsb, pihak rakyat desa dan ‘Duo Perayu Sukma’ tak sanggup berbuat apa². Bhkn BI sendiripun pasrah diikat dan digiring oleh LLF dan para centengnya. Dawala tiba² menghilang sedangkan Cepot & Gareng ikut mengawal BI yg diseret dgn langkah ter-seok² menuju Cheribon……
(to be continued to Part Two).
Keterangan :
Foto cover koleksi Bpk. Erwan Sofyan