Serial Jaka Sembung episode XV :
“DIA BAJING IRENG” (Return of the Black Squirrel) – Part Two
Karya : Djair Warni
Penerbit : UP Rosita, Jakarta.
Tebal : 744 halaman (12 jilid )
Tahun terbit : 1973
Sinopsis :
Selain menugaskan Kapitan van de Maar (KvdM) utk “menjemput” BI, Residen Cheribon, van den Smoeth (vdS), juga memerintahkan komandan pasukan yg lain, Kapitan de Princen (KdP), utk membumi – hanguskan desa Kandanghaur. Dgn licik KdP menyerang desa tempat tinggal para kerabat JS itu pd saat pria dewasanya pergi bekerja di sawah atau melaut. Tanpa belas kasihan mereka membantai wanita, lansia dan anak² serta membakar rumah² disana, termasuk rumah milik JS, dimana Pak/Bu Kinong dan Fitri, putri JS yg baru dilahirkan oleh BI tinggal. Mereka pun terperangkap dlm rumah JS yg terbakar. Selesai ‘meluluh – lantakkan desa Kandanghaur’, KdP kembali ke Cheribon utk melapor, sementara bbrp prajurit ditinggal guna ber-jaga² dan melakukan tindakan tegas bila para pria desa, sepulang bekerja, coba melakukan perlawanan……
Karma, sahabat Karta, yg datang kemudian bersama burung beo peliharaan JS, menyamar sbg musuh JS, ber-pura² ingin meyakinkan bhw keturunan JS sdh musnah, shg diizinkan masuk ke rumah JS oleh anakbuah KdP yg tengah berjaga. Padahal sesungguhnya ia ingin meyakinkan bhw mayat Pak/Bu Kinong serta Fitri tak ada diantara puing² rumah yg terbakar, karena tlh berhasil melarikan diri lewat lorong darurat dibawah tanah yg tlh “disiapkan oleh seseorang”. Ia juga menutupi ‘pintu lorong’ tsb dgn tempayan yg cukup besar dan berat agar luput dari perhatian anakbuah KdP. Selanjutnya iapun membawa ‘barang pusaka’ milik JS, yakni golok dan tongkat besi sembrani milik JS yg ia dpt saat berguru kpd Begawan Sokalima di Gn. Ciremai (baca episode “Pendekar Gn. Sembung”). Sorenya, sepulang para pria desa Kandanghaur bekerja, mereka terkejut melihat asap mengepul dari kampung mereka yg terbakar. Mereka sadar bhw itu pasti ulah VOC. Dgn penuh amarah, mereka siap melakukan perlawanan. Namun Karma mencegah upaya yg hanya akan sia² itu. Lbh baik mereka mengungsi dulu ke tempat lain dan mempersiapkan perlawanan secara lbh matang, seraya menunggu JS, pimpinan mereka yg diyakini oleh Karma masih hidup, kelak akan kembali ke desa utk memimpin perlawanan secara lbh terkoordinir…..
Residen vdS mengajak kedua komandan pasukan andalannya merayakan keberhasilan mereka membasmi para extrimist. Ikut serta pula dlm perayaan tsb LLS dan adiknya LLF yg sdh siap menandatangani akta pembelian desa Kandanghaur yg “tlh dibebaskan” oleh KdP. Tapi kegembiraan mereka terganggu oleh kehadiran dua dari “Trio Punakawan”, yakni “Gong Sekati” (Cepot) & “Ketipung Lindu” (Gareng) yg merasa lbh berhak atas desa Kandanghaur karena merekalah yg berhasil menaklukkan BI berikut para simpatisannya. VdS menyuruh para prajurit menangkap kedua pengacau itu. Begitu pula LLS & LLF coba unjuk-gigi utk meringkus “mahluk² aneh’ yg seakan muncul dari dunia antah-berantah tsb. Namun ternyata mereka bukan lawan sepadan bagi 2 ‘tokoh dongeng pewayangan’ itu. Begitu keduanya menabuh alat² musik yg mereka bawa, seisi istana karesidenan bagai dilanda bencana dahsyat. Terpaksa vdS mengalah dan membuat papan pengumuman bhw Trio Punakawan lah yg berhak atas desa Kandanghaur…..
Rencana hukuman gantung dan tembak atas diri BI diumumkan ke segenap penjuru karesidenan Cheribon. Hukuman akan dilaksanakan di hadapan khalayak ramai, di alun² Kejaksan dekat Balaikota Cheribon, sbg peringatan bagi siapa saja yg coba² memberontak thdp VOC.
Berita itu sampai ke telinga Anwar, menantu alm. KH Subekti Ahmad, di desa Gn. Sembung, dari seorang kusir pedati yg baru pulang mengantar barang ke Cheribon. Anwar segera memberitahukan hal ini kpd istrinya, Ratna, yg tengah berziarah ke makam sang ayah ditemani Ranti, istri Karta, “Si Gila dari Muara Bondet” (baca eps.II). Anwar & Ratna yg tlh bersumpah utk menjaga BI selama JS dlm pembuangan ke Papua (karena JS tlh berjasa menyelamatkan desa Gn. Sembung dari kemusyrikan Bergola Ijo – baca eps. III) segera mengajak Ranti ber-sama² menuju Cheribon guna membebaskan BI dari ancaman hukuman mati.
Namun perjalanan kesana tidaklah mudah. Mereka dihalangi oleh musuh² BI yg menginginkan kematiannya. Pertama dari Lintasanca & Lintamanuk. Tanpa membuang waktu mereka segera menghabisi ayah & anak itu meskipun akibat pertempuran, Ratna yg tengah hamil mengalami keguguran. Rintangan selanjutnya datang dari “3 Buaya Kembar dari Losarang”. Untunglah Karma datang membantu dan menamatkan riwayat ke-3 ‘buaya darat’ tsb. Akhirnya dicapai kesepakatan bhw Anwar & Ratna pulang ke pesantren Gn. Sembung agar Ratna yg barusan keguguran dpt langsung beristirahat. Tugas membebaskan BI dilanjutkan oleh Ranti berdua dgn Karma. Di perjalanan menuju alun² Kejaksan, keduanya bertemu dgn “Duo Pendekar Tarling” yg juga ditugaskan oleh guru mereka utk membebaskan BI. Maka merekapun bergabung. Ditambah masyarakat dari desa² sekitar Cheribon yg tlh banyak merasakan pertolongan BI dari kekejaman VOC.
Pagi hari, saat eksekusi mati thdp BI segera dilaksanakan, mereka tiba di alun². Dan tepat pd detik perintah eksekusi diteriakkan oleh vdS, rakyatpun nekad bergerak. Kekacauan tak dpt dihindari. “Duo Perayu Sukma” muncul utk mem’backup’ kedua muridnya. Korban dari pihak rakyat pribumi mulai berjatuhan akibat persenjataan yg dimiliki tak seimbang. Saat itulah lagi² terdengar Ketipung Lindu & Gong Sekati menabuh alat musik mereka yg mengandung daya magis. Saat semua terkesima tak berdaya, algojo yg melakukan eksekusi thdp BI dgn mantap menjalankan tugasnya. Rupanya mereka sdh disuruh oleh kedua punakawan agar menyumpal telinga dgn kapas shg luput dari daya magis alunan musik yg mereka mainkan……. Selanjutnya semua hening manakala melihat tubuh pahlawan rakyat jelata itu tewas tergantung dgn tubuh ter-cabik² peluru. Melihat hal itu tentara VOC makin beringas. KvdM memerintahkan kpd prajuritnya utk menembaki warga shg mereka lari kocar-kacir dan gugur berjatuhan tak berdaya. ‘Duo Perayu Sukma’ memainkan alat musiknya guna mengembalikan semangat rakyat yg putus asa kehilangan tokoh idolanya, seraya menyuruh mereka pergi menyelamatkan diri…..
Senja hari, vdS menyuruh anakbuahnya menguburkan jenazah BI bersama dgn korban² yg lain. Malamnya “Duo Perayu Sukma”, “Duo Pendekar Tarling”, Ranti dan Karma menggali kuburan BI utk dipindahkan ke makam yg lebih layak. Namun mereka terkejut karena ketika kain kafan dibuka, yg ada ternyata hanya sebatang pohon pisang. Lalu dimanakah tubuh BI sesungguhnya berada??
Jawabannya berada di episode XVI “DIA BANGKIT DARI KUBUR” (Black Squirrel Rising from the Grave)……
Keterangan :
Foto cover diambil dari koleksi komik milik Bpk. Erwan Sofyan