Serial Jaka Sembung episode XVI :
“DIA BANGKIT DARI KUBUR” (Tupai Hitam Bangkit dari Kubur) – Bagian Satu.
Karya : Djair Warni
Penerbit : UP Rosita, Jakarta.
Tebal : 496 halaman (8 jilid )
Tahun terbit : 1974
Sinopsis:
Setelah 2 pendekar difabel, “Duo Perayu Sukma” (DPS), 2 muridnya yg berjuluk “Duo Pendekar Tarling” (DPT), Ranti (istri “Si Gila dari Muara Bondet”) dan Karma sahabatnya, menemukan kubur Bajing Ireng (BI) dalam keadaan kosong, maka DPS sbg tokoh senior, langsung sadar bhw ada ‘tabir misteri’ dibalik tindakan tokoh legendaris “Trio Punakawan” (TP), yg ‘rela’ menyerahkan BI kpd Kumpeni dengan alasan “agar tak jatuh korban lebih banyak dari pihak rakyat tak berdosa”. DPS menyuruh dua muridnya mencari informasi ttg kemungkinan BI benar-benar masih hidup. Sedangkan Ranti & Karma disuruh menempuh jalan mereka sendiri……
Sementara itu, Cepot & Gareng, dua dari TP, menagih janji kpd van den Smoeth (vdS) ttg tanah milik JS di Kandanghaur, yg akan diberikan kpd mereka bila berhasil menangkap BI. VdS mencoba berkelit karena ingin menjual tanah tsb kpd Louw Liong San (LLS). Namun ketika 2 Punakawan beraksi dengan ‘ketipung lindu’ dan ‘gong sekati’ ajaibnya, vdS pun menyerah. Ia segera menandatangani surat serah terima tanah tsb…
Sementara itu pula, di Laut Jawa, kapal yg membawa rombongan JS dkk dari timur Nusantara (baca episode : Singa Halmahera), tiba di teluk Cirebon. Agar tidak menarik perhatian Kumpeni, rombongan tsb merapat ke pantai dalam kelompok bbrp. Kelompok 1 : Karta & Wori Pendekar Bumerang dengan cara berenang. Kelompok 2 : Kaswita & Sri, bersama Umang & Mirah serta Matusea & Tuhumuri menggunakan sekoci. Sedangkan kelompok terakhir : JS sendiri ditemani Awom, sang pemuda Papua, dan Si Kaki Tunggal, menggunakan rakit. Kelompok ketiga mendarat di pantai yang berbeda…..
Takdir Tuhan pun mempertemukan mereka dengan cara yg dramatis. Ranti mengajak Karma ke Muara Bondet karena tiba-tiba ingin mengenang pertemuan pertamanya dengan Karta. Di luar dugaan, kesana pula Karta dan Wori berenang. Maka bersualah Ranti dgn suami tercinta yg lama dirindukannya, di tempat penuh kenangan itu…..
JS dkk yg lain, tiba di Kandanghaur, disambut warga dgn berita duka. Desa Kandanghaur luluh – lantak. Fitri, putri JS, bersama Pak/Bu Kinong diduga ikut tewas di rumah JS yg dibakar Kumpeni. BI pun mati digantung dan ditembak Kumpeni setelah ditangkap oleh TP, tokoh kharismatik legendaris yg tiba² saja berpihak pada kpd penjajah. JS makin gusar waktu melihat dua dari TP ‘yg tlh membunuh istrinya’ muncul disitu. Tapi tiba² keduanya memberikan surat kepemilikan sah Kandanghaur kembali kpd JS, lalu menghilang tanpa karana. Karma yg cerdas segera mengerti. Dia mengajak Wori mengangkat tempayan yang menutupi pintu lorong rahasia di bawah rumah JS yang terbakar, dan menemukan Pak/Bu Kinong serta Fitri yang bersembunyi di sana. JS pun dengan penuh haru memeluk putri yg tlh menjadi “piatu”…….
Tapi apakah BI benar sudah mati, berarti JS sudah jadi ‘duren’ alias duda keren dan Fitri tlh jadi ‘piatu’?
Ternyata tidak! Nun jauh di lereng Ciremai, Dawala, tokoh ketiga dari TP, membangunkan BI dari pingsannya. Ia menjelaskan semua misteri dibalik peristiwa yang terjadi.
*Sepenggal ‘flashback’ episode Dia Bajing Ireng versi cerita Dawala :
Ketika DPS terjadi lawan LLS dan LLF untuk memperebutkan BI yg sdh pingsan tak berdaya, diam² Dawala mengganti tubuh BI dengan sebatang pohon pisang, kemudian membawa tubuh BI yg asli ke lereng Ciremai, utk menyelamatkan. Lalu giliran Cepot & Gareng menggunakan ilmu sihir ‘halimunan’nya shg membuat orang² melihat batang pisang itu seolah-olah merupakan tubuh BI. Jadi sosok BI, yang diseret oleh van de Maar hingga digantung bahkan dikuburkan, sejatinya adalah batang pisang tsb. Lalu Dawala yg sdh ‘perasaan’ bhw Kumpeni juga akan membumi hanguskan Kandanghaur, segera kesana dan diam² menggali lorong bawah tanah ke rumah JS utk akses pengungsi Pak/Bu Kinong dan Fitri…..
Lalu siapa yg minta tolong kpd TP utk menyelamatkan BI dan Fitri? Tak lain drpd Elang Sutawinata (ES), ayah JS sendiri, yg punya kemampuan “weruh sadurunge winarah” (tahu sebelum segala sesuatu terjadi). Lewat kesaktian kedua tokoh legendaris tsb (Dawala dan ES), BI bisa bersua dgn sang mertua secara kontak batin jarak jauh. ES menasehati BI agar sementara melepaskan semua “atribut BI”nya dan kembali menjadi Roijah, utk berjanji Kumpeni bhw BI benar2 tlh dibunuh. Setelah berpesan, ES pun menghilang dari pandangan mata batin BI. Demikian pula Dawala yg merasa terlampir tlh selesai……
Sesuai nasehat sang mertua, Roijah pun melepas segenap atribut BInya, lalu turun ke desa dengan menyamar sbg wanita desa penjual getuk……*****
Bersambung ke “DIA BANGKIT DARI KUBUR” – Bagian Kedua.