“IBU KITA KARTINI”.
Dimuat sebagai bonus sisipan di Majalah anak² Ananda, No.17, tahun IV, 23 April 1982, yang merupakan edisi khusus untuk menyambut “Hari Kartini” yang selalu kita rayakan setiap tanggal 21 April. Komik pendek ini adalah bagian dari komik² yang tergabung dalam seri “Sejarah Nasional”, yang dibuat oleh salah satu maestro komik Indonesia, Wid NS. Majalah Ananda sendiri termasuk dalam Grup Majalah Kartini yang berjaya di era 1980 – awal 1990, dan diterbitkan oleh Yayasan Raden Saleh.
Termasuk dalam Grup Majalah Kartini yang berjaya di era 1980 s/d awal 1990.
Kumpulan komik ini kemudian dibundel dalam “Album Ganesha” edisi khusus “Seri Sejarah Nasional” No. 1 s/d 6, yang diterbitkan oleh PT Penerbitan Sarana Bobo. Dalam antologi cergam ini terdapat kreasi maestro Wid NS dan Mansyur Daman. Sedangkan komik “Ibu Kita Kartini” terdapat dalam Seri Sejarah Nasional No. 05 berjudul “PERGERAKAN NASIONAL” yang terbit sekitar bulan Maret tahun 1997.
Adapun daftar isi lengkap Seri Sejarah Nasional No.5 berjudul “Pergerakan Nasional” ini adalah :
* dr. Cipto Mangunkusumo
* RA Kartini
* Ki Hadjar Dewantara
* Muhammad Husni Thamrin
* Douwes Dekker
Sinopsis :
Kisah riwayat hidup Kartini ini sdh sering kita dengar sejak di bangku sekolah. Lahir di desa Mayong, Jepara, 21 April 1879 sbg putri pasangan RM Sosroningrat (Wedana Mayong) dan MA Ngasirah. Kelak dia juga dianugerahi 2 orang adik perempuan yakni Roekmini dan Kardinah.
Masa balita, Kartini tumbuh sbg anak gesit dan lincah shg mendpt julukan kesayangan dari ayahnya yakni si “Burung Trinil”. Usia 6 thn disekolahkan di sekolah Bld, ELS (Europeesche Lagere School) dan bergaul akrab dgn teman² Bldnya. Kartini cerdas bhkn kerap melampaui tmn² Bldnya. Selain baca tulis dan berhitung, ia juga diajari ketrampilan wanita.
Sayang sekali di usia 12 thn, waktu menginjak remaja, ia hrs berhenti sekolah akibat tradisi “pingitan” dlm adat Jawa pd waktu itu. 2 sahabat ayah Kartini, yakni Ny. Ovink-Soer dan Residen Sijthoff mencoba membujuk sang ayah agar memberikan dispensasi kpd Katini utk tetap bersekolah, namun ditolak.
Terkurung di pendopo rumah tak membuat pikiran Kartini terpenjara. Ia tetap aktif membaca buku dan menulis. Bhkn tulisan artikelnya ttg ukiran Jepara dimuat di surat kabar dan majalah Hindia Belanda. Diantara para pengagum tulisannya terdpt Ny. Abendanon, istri Menteri Agama & Kerajinan Hindia Belanda. Maka terjalinlah korespondensi yg intens antara Kartini dgn wanita itu, yg kelak dibukukan dgn judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Kartini menceritakan cita2nya ingin mendirikan sekolah khusus perempuan, kpd Ny. Abendanon, yg segera menyampaikan hal itu kpd suaminya. Mendengar itu, Tn. J.H. Abendanon terkesan dan berkunjung ke Jepara utk jumpa dgn Kartini. Iapun bersedia membantu Kartini membuka sekolah gadis disana.
Hingga datanglah Bupati Rembang, Rd. Adipati Djojo Adiningrat, meminang Kartini utk dijadikan istri. Kartini setuju dgn syarat ia boleh tetap mengajar di Rembang nanti. 8 November 1903 Kartini menikah dan diboyong ke Rembang. Disana ia mendirikan sekolah gadis seperti di desanya.
Sayang sekali, 17 September 1904, Kartini wafat dlm usia sangat muda (25 tahun), setelah melahirkan putranya. Ia dimakamkan di Rembang……*****