“JAKA TARUB”
(Legenda rakyat Jawa Tengah)
Karya : Jan Mintaraga
Terbit di : Majalah HAI, Edisi khusus II
Tanggal : 30 Mei 1978
Tebal : 10 halaman
Suatu hari, Jaka Tarub tengah melakukan hobinya menyumpit burung di hutan, dan melihat tujuh bidadari dari kahyangan sedang mandi di sebuah telaga. Karena terpikat oleh kecantikan mereka, ia menyembunyikan selendang milik Nawangwulan, salah satu dari bidadari tsb. Selendang itu adalah alat para bidadari untuk terbang ke kahyangan.
Ketika para bidadari selesai mandi, enam di antaranya segera pulang ke kahyangan, tetapi Nawangwulan tertinggal karena tak menemukan selendangnya. Jaka Tarub berpura-pura membantu dan mengajak Nawangwulan tinggal di desanya. Lama-kelamaan mereka saling mencintai, menikah, dan dikaruniai seorang putri bernama Nawangsih.
Nawangwulan memiliki kesaktian. Ia dapat memasak hanya dengan sebutir beras, sehingga persediaan padi mereka tidak pernah habis. Ia menyampaikan pesan kepada Jaka Tarub agar tak membuka tutup periuk saat ia memasak. Tapi karena penasaran, Jaka Tarub melewati pesan itu. Akibatnya, kesaktian Nawangwulan hilang dan sejak saat itu ia harus memasak seperti manusia biasa. Akibatnya persediaan beraspun cepat habis.
Saat mengambil padi di lumbung, Nawangwulan menemukan selendang miliknya yang selama ini disembunyikan oleh Jaka Tarub. Ia jadi tahu bahwa suaminya telah menipunya selama ini. Dengan selendang itu, Nawangwulan kembali ke kahyangan. Ia meninggalkan Jaka Tarub dan Nawangsih, namun tetap menyayangi putrinya……*****
Catatan :
Komik “Jaka Tarub” ini pernah digambar ulang (redrawing) oleh Pak Jan Mintaraga dalam versi “full colours” dan diterbitkan dalam bentuk buku, tapi sayang tak ada catatan siapa penerbitnya dan tahun berapa.