Rating 0 / 5. Total vote: 0

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

Kabut Tinombala

SI BUTA DARI GUA HANTU EPISODE 09:

KABUT TINOMBALA (1978)

Jatuhnya pesawat Merpati jenis Twin Otter yg sedang dlm penerbangan dari Palu ke Toli2 di gunung Tinombala pd 29 Maret 1977 sempat menjadi headline di Surat2 kabar dan majalah, bhkn pernah dibuat filmnya dgn judul “Operasi Tinombala” (1977). Peristiwa tsb tampaknya telah menginspirasi Sang Maestro utk memberi judul “Kabut Tinombala” utk kisah petualangan SBDGH setelah episode Perjalanan ke Neraka ini. Namun tentu saja kisah ttg adanya ikan2 buas pemakan daging mirip “piranha”, kadal2 rawa penghisap darah dst bersifat fiksi sbg hasil imajinasi beliau.

Synopsis :

Bermodalkan informasi yg amat minim dr Pak Tirta, pemilik kedai, Barda nekad memasuki rimba belantara Tinombala guna mencari daun sruntul-srintil utk mengobati Tara dan dirinya dari paparan racun Kecubung Biru. Baru saja tiba di wilayah Tinombala tsb, ia sdh diserang oleh 2 orang ayah beranak, Paraga dan Bolang. Tugas Bolang adlh mencari korban manusia yg bisa dihisap darahnya demi kelangsungan hidup Paraga, ayahnya, yg juga mengidap racun Kecubung Biru, bahkan dlm tingkat yang amat parah. Paraga pun mengakui bahwa dialah sesungguhnya pencipta racun tsb akibat dia melakukan experimen meramu berbagai racun secara sembrono, tanpa berhasil menemukan obat penawarnya.

Dari awalnya berambisi menghabisi nyawa Barda, kedua ayah beranak itu malah berbalik mengajaknya ke tempat kediaman mereka yg terpencil dan diperkenalkan dgn putri Bolang yg cantik namun sayang tuna wicara bernama Kenanga. Diam2 Kenanga membina hubungan asmara dgn Togas, pemuda yg sesungguhnya merupakan buronan yg tengah di-cari2 oleh ayah dan kakeknya. Hampir Bolang membunuh Togas, namun dicegah oleh Barda. Menurut Barda, lebih baik mereka sama2 pergi mencari obat penawar Kecubung Biru daripada saling bertikai akibat nafsu balas dendam yg tiada habisnya, sementara racun tsb terus makan korban. Merekapun setuju..

Perjalanan menggunakan rakit utk melintasi rawa2 di rimba tsb tidaklah mudah. Berbagai mara bahaya dilalui, spt serangan kadal2 rawa yg amat berbisa, kabut beracun, serta ikan2 buas pemakan daging yg sempat memangsa sebelah tangan Togas krn ia terjatuh dari rakit ke dlm rawa akibat serangan “seekor manusia kera” yg hidup liar di dalam hutan belantara tsb. Ternyata manusia kera tsb bernama Badawa, yg juga menaruh dendam kpd Paraga yg telah memperkosa dan membunuh anak istrinya. Namun demikian manusia aneh ini pulalah yang menolong rombongan pencari “obat daun sruntul-srintil” ini dari bahaya pusaran air serta mengobati Kenanga dan Togas dari paparan bisa kadal rawa dan gigitan ikan buas yang mengancam keselamatan jiwa mereka…

Hingga merekapun tiba di pedalaman rimba dan bertemu dgn sekawanan wanita mirip siluman kelelawar penghisap darah dibawah pimpinan ratunya yg bernama Ratu Shihillah. Wanita2 itu membentuk komunitas spt sebuah kerajaan kecil dgn budaya yg amat mengerikan yakni setiap bulan purnama mencari mangsa berupa laki2 muda untuk dihisap keperjakaan dan darahnya demi kelangsungan hidup dan keturunan mereka. Ternyata mereka semua tlh tertular racun Kecubung Biru. Sang Ratu adalah putri Ulan Khan, seorang ahli ramuan dari negeri Mongolia bergelar Raja Racun dari Utara. Semasa muda, Paraga menjadi pembantu ayah Shihillah dan diam2 melakukan experimen sendiri dgn kitab ramuan milik tuannya shg akibatnya terjadi kesalahan yang meracuni diri sendiri. Si Raja Racun menolak mengobati Paraga. Akibatnya Paraga marah dan membunuh si Raja Racun beserta seluruh keluarganya. Namun putrinya yang masih balita berhasil melarikan diri…

Karena dendam, maka setelah remaja dan tumbuh jadi gadis jelita, putri si Raja Racun menyamar sedemikian rupa shg berhasil memikat putra Paraga yg bernama Bolang. Mereka menikah dan lahirlah Kenanga. Suatu ketika ia coba membunuh Paraga yg tlh jadi mertuanya, namun gagal. Malah iapun terkena racun Kecubung Biru pula. Maka ia lari dari rumah dan mendirikan sebuah “kerajaan wanita” dgn cara merekrut gadis2 desa dan menularkan Kecubung Biru kepada mereka dgn maksud membentuk barisan balas dendam guna menunaikan dendamnya kpd Paraga. Sesuai prinsip sang ayah bahwa “Racun harus dilawan dengan Racun juga”….

Barda bertemu Tara yg tlh dijadikan tawanan oleh Shihillah. Rupanya putra Meinar itu diam2 menyusulnya shg tertangkap oleh para wanita siluman tsb. Pak Dongclo juga menyusul utk mencari cucunya. Untung pertempuran antara orang2 yg tengah diliputi dendam membara itu berhasil dicegah setlh dr teriakan Pak Dongclo yg me-manggil2 Tara cucunya, tiba2 Badawa sadar bhw yg dimaksud dgn “sruntul-srintil” sesungguhnya bukanlah tumbuh2an melainkan kadal rawa yg banyak “sruntul-srintil” (melata) di pepohonan yg tumbuh ditepi rawa. Darahnya amat mujarab untuk mengobati orang yang terpapar racun Kecubung Biru spt juga dirinya. Maka akhirnya, alih-alih membuang tenaga utk saling balas dendam, SBDGH mengajak orang2 disitu utk berburu kadal rawa guna diambil darahnya sbg obat penawar racun Kecubung Biru. Maka kisahpun berakhir Happy Ending…

Kisah berlanjut ke Logi Ketiga atau terakhir yg berjudul TRAGEDI LARANTUKA …

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

08 - Bagus

Kemasan

Hardcover

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1978

Jilid

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, and 10