Rating 5 / 5. Total vote: 1

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

MAWAR BERBISA

MAWAR BERBISA”
(Pengalaman “deja vu” ala “Si Buta dari Gua Hantu”)

Karya : Ganes TH
Penerbit : Rosita
Tahun terbit : 1989
Tebal : 320 halaman

“Mawar Berbisa” adalah episode perpisahan SBDGH hasil besutan Pak Ganes TH. Memang setelah Mawar Berbisa, kisah petualangan SBDGH masih terus berlanjut, namun merupakan hasil karya komikus² lain seperti Djair, Man, Apri dll. Bagi saya yang memiliki ikatan batin teramat kuat dengan karakter yg satu ini, tentu tak dapat begitu saja mengucapkan salam perpisahan tanpa melibatkan unsur perasaan yang dalam. Masih terpatri dalam ingatan bagaimana piawainya Pak Ganes membuat ilustrasi dan narasi yang sangat menyentuh perasaan, panel demi panel, adegan demi adegan sebagaimana terlihat dalam episode “Manusia Serigala dari Gunung Tambora” (SBDGH jilid 9 s/d 17 tanpa jilid 13) dan “Prahara di Bukit Tandus” yang dimuat bersambung di Majalah Eres. Itulah “titik kulminasi” beliau dalam berkarya, seiring dengan masa keemasan komik Indonesia, khususnya untuk genre silat, pada era 1970an. Bukan hanya serial SBDGH, tapi Pak Ganes juga saat itu membuat pula karya² hebat seperti Tuan Tanah Kedawung dan Krakatau, yang memadukan unsur drama dan silat sedemikian rupa, sehingga menghasilkan sebuah komik kolosal yang teramat dahsyat.

Namun dua dekade telah berlalu sejak “Zaman Keemasan” tersebut. Seorang pendaki gunung yang hebatpun suatu ketika harus menuruni lembah. Begitu pula dengan Pak Ganes TH bersama SBDGHnya. Bahkan Mawar Berbisa, dapat dianggap sebagai karya di saat beliau telah berada di “titik nadir“nya. Mulai dari goresannya yang tampak semakin asal²an, alat gambarnya yg konon hanya menggunakan pena “boxy”, cerita pun merupakan daur ulang dari kisah “Asmara Darah” yang dimuat sebagai cergam sisipan bersambung di Majalah Film (1982). Itulah sebabnya saya berikan sub judul “pengalaman deja vu ala SBDGH” pada ulasan saya kali ini. Karena jalan ceritanya persis “plek” dengan Asmara Darah, hanya ada sedikit tambahan sisipan pesan moral tentang seorang ‘mucikari’ (germo) yang berhasil dibuat bertaubat oleh SBDGH.

Nama² tokoh memang mengalami perubahan. Khusus tentang nama, saya juga melihat Pak Ganes ber-kali² menyebut nama tokohnya secara ‘inkonsisten’/ber-ubah². Misalnya : si Manusia Bertopeng yg kadang disebut Oding, tapi kemudian berganti Udin. Putri tukang kedai yang kadang dipanggil Siti, tapi di lain waktu dipanggil Tini oleh ayahnya. Bahkan si “Manusia Harimau”, salah satu karakter misterius yang kerap disebut sejak awal kisah tapi baru muncul menjelang akhir, di tempat tinggalnya di tengah² “rawa buaya”, memiliki 3 nama, yaitu Dirga, Garda dan Korda.

Meskipun banyak kelemahan, namun saya tetap menyimpan buku “Mawar Berbisa” ini dengan penuh kecintaan, karena ia tetap merupakan bagian penting dari jejak peninggalan (warisan) dari seorang maestro komik yg amat saya hormati ….. Bpk. Ganes Thiar Santosa alias Thio Tiauw San…..

Sinopsis:

3 penggali kubur mendapat tugas menguburkan mayat seorang wanita tua, ART di rumah seorang gadis “Indo” (peranakan Belanda – pribumi) bernama Rosana/Ros, anak angkat Rd. Surya, seorang juragan beras yg baru meninggal beberapa waktu sebelumnya. Satu dari mereka menemukan sebuah tusuk konde bermotif bunga mawar dalam genggaman mayat tsb. Baru saja selesai dengan tugas mereka, seorang pembunuh bayaran membunuh ketiganya. Tapi tak lama kemudian, sesosok manusia bertopengpun menghabisi riwayat si pembunuh bayaran. Begitu sosok  bertopeng berlalu, Barda lewat disitu. Si penggali kubur yg memegang tusuk konde ternyata belum mati. Ia sempat menyebut nama “Bi Minti” seraya menyerahkan tusuk konde itu kepada Barda sebelum menghembuskan nafas terakhirnya……

Maka dimulailah petualangan Barda mencari tahu perihal asal-usul tusuk konde beserta sosok wanita bernama Bi Minti, yg disebutkan oleh si penggali kubur sebelum kematiannya. Tak disangka tindakannya mencari informasi dari seorang pemilik kedai bernama Pak Karta, telah membawa bencana bagi pria tua itu. Ia diteror dan dirampok oleh preman² suruhan “sang dalang” dibalik pembunuhan Bi Minti, yang agaknya juga merupakan pemilik tusuk konde bermotif mawar itu. Dengan geram Barda menyatroni para preman yang tengah ber-foya² di tempat maksiat dengan harta hasil rampokan dari rumah Pak Karta, menghabisi mereka tanpa sisa, lalu menyuruh boss tempat maksiat itu agar mengembalikan uang pembayaran, yang merupakan hasil jarahan dari si pemilik kedai….

Merasa telah ditolong oleh Barda, maka Pak Karta pun bersedia membeberkan rahasia yang ia ketahui dibalik kematian Bi Minti. Ternyata Ros yg diangkat menjadi anak dan begitu disayang oleh Rd. Surya, sebetulnya adalah putri Meneer van der Yong, pemilik “onderneming” (perkebunan) yang tewas di tangan Rd. Surya sendiri. Maka diam² ia menyusun rencana balas dendam kepada ayah angkatnya, bersama si Manusia Bertopeng. Secara kebetulan Bi Minti mendengar rencana jahat itu. Maka setelah Rd. Surya berhasil dibunuh, ART yg setia itupun ikut dihabisi. Satu hal yang tak disadari Ros, ternyata diam² Bi Minti sempat curhat kepada Siti, putri Pak Karta.

Tekad Barda selanjutnya untuk menuntaskan urusan dengan Ros, ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Gadis itu betul² bagai sekuntum “mawar berbisa” yang dengan bujuk rayunya hampir selalu berhasil menaklukkan kumbang yg datang, tak terkecuali Barda. Dari tekad semula hendak memaksa Ros mengakui kejahatan yang diperbuatnya, Barda malah terenyuh mendengar “tragedi kehidupan” sang gadis yatim-piatu akibat keganasan Rd. Surya dan jawara² yang merupakan centengnya dalam membantai keluarganya, hanya karena sang ayah seorang beretnis Belanda.

Selanjutnya Ros minta tolong Barda menyampaikan sepucuk surat kepada Korda, putra Bi Minti, yang juga merupakan anak angkat Rd. Surya, namun hidup menyendiri di peternakan buayanya, untuk mengabarkan kematian ibunya yang dibunuh oleh si Manusia Bertopeng. Sebagai penunjuk jalan, Ros menyuruh tukang kebunnya yg bernama Oding. Tak disangka, lagi² Barda tertipu oleh sang Mawar Berbisa, sehingga terjadi kesalahan pahaman antara dirinya dengan Korda, yang dikenal sebagai si Manusia Harimau ‘eksentrik’, yg tinggal di sebuah gubuk di tengah danau yang penuh buaya. Terjadi bentrokan di antara kedua “pendekar aneh” itu, sehingga keduanya jatuh ke dalam danau dan “jadi mangsa” hewan² ganas tersebut……

Oding yang tak lain daripada si Manusia Bertopeng, yang dalam keseharian sengaja berlagak dungu, segera menyampaikan “kabar gembira” itu dan menagih janji Ros untuk menikah dengannya setelah semua urusan dituntaskan olehnya. Tapi ternyata sebaliknya. Ros malah telah menyiapkan sepasukan serdadu Kompeni untuk menghabisi Oding dan para begundalnya. Oding pun tak tinggal diam. Ia membalas dengan melemparkan tusuk konde beracun milik Ros sendiri, yang berhasil “ia curi” dari Barda. Tapi bukan Ganes TH namanya bila tak ahli menyajikan ‘plot twist’ di akhir cerita. Ternyata Barda dan Korda tidak mati diterkam buaya, karena si Manusia Harimau merupakan pawang buaya² itu. Keduanya sudah tahu tipu daya Ros dan justru bekerja sama menghimpun rakyat guna melawan Kompeni yang hendak menguasai tanah Banten dengan memperalat Ros. Sebelum tewas dalam pelukan Barda, Ros masih sempat menyatakan cintanya kepada sang pendekar tunanetra…..

Nasibmu Barda oh Barda….. Sampai episode terakhirpun masih saja bisa digombalin cewek…*****

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

10 - Baru

Kemasan

Hardcover

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1989

Jilid

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, and 10