” MAYAT CEMBURU”
(Episode terakhir Reo si Manusia Serigala )
Karya : Ganes TH
Penerbit : Bumi Langit Comic Media
Tahun terbit : 2022
Tebal : 320 halaman
Komik ini merupakan ‘ legacy’ terakhir dari Maestro Komik Ganes TH, yang naskah aslinya dibuat tahun 1989, bahkan belum sempat diterbitkan hingga beliau wafat tahun 1995. Batal diterbitkan oleh UP Mutiara, konon naskah asli tersebut sempat ber-pindah² tangan ke koleksi komik Alm. Bpk. Dedi Sugianto, kemudian ke Bpk. Henry Ismono (yang menggarap buku ” Ganes TH, Sang Pendekar Kemanusiaan” ) dan akhirnya diterbitkan pada tahun 2022 oleh Bumi Langit Comic Media. Sayang sekali, akibat beberapa kali ‘pindah tangan’, beberapa halaman naskah aslinya ‘ hilang’, sehingga kita tidak dapat menikmati karya sang Maestro ‘seutuhnya’. Untunglah tak sampai mengganggu garis besar jalan cerita.
Dalam komik terakhirnya ini, Pak Ganes seolah ingin menunjukkan kembali kepiawaiannya sebagai pembuat cerita humor/komedi, seperti pada awal kiprah beliau di dunia komik dengan karyanya ” Mang Kiwil” & ” Si Letoy “. Kebetulan materi yang beliau ambil sebagai ide cerita juga dari film horor komedi Mandarin ” Mr . Vampire” (1985 ).
Sinopsis :
Pak Kromo, seorang ‘dukun sakti’ dari Jawa, mencoba peruntungan dengan merantau ke pulau Sumbawa, di kaki Gn. Tambora. Ia mengajak serta putrinya Surtini dan keponakannya yang agak badung, Joko. Sayang sekali profesinya sebagai dukun kurang laku disana. Hanya ada beberapa tetangga satu desa, teman sekampung, yang menggunakan jasanya, itupun tanpa biaya. Akibatnya, Joko merasa kecewa telah ikut sang paman, yang lebih banyak ‘ mengganggu’ daripada dapat pekerjaan. Untuk ” mengisi waktu luang” , Joko coba² menjadi ‘maling kuburan’ tapi malah ketiban sial, bahkan nyaris mati konyol akibat ulah Amaq Baljun, dukun suku Sasak yang merupakan ‘ kompetiter’ sang paman. Untunglah secara tak sengaja, Reo si Manusia Serigala dan induknya Bula (R&B), membantu Joko karena Amaq Baljun selalu membawa senjata tombak, yang merupakan benda paling dibenci oleh kedua mahluk tersebut. Baljun pun kabur tunggang langgang sebelum jadi ‘santapan empuk’ R&B.
Sampai pada suatu hari, berkat kesabarannya, ‘kangtauw’pun datang menghampiri P. Kromo, dari keluarga seorang saudagar Tionghoa terkaya di Sumbawa, Kam Jin Liong, yang baru saja wafat. Seorang utusan dikirim untuk menjemput P. Kromo, yang direkomendasikan oleh para pekerja di perkebunan keluarga Kam, yang telah membuktikan sendiri kehebatan dukun itu. Kini kesaktiannya diperlukan untuk mencegah bangkitnya jenazah Tn. Kam, yang tengah disemayamkan di rumahnya, menunggu hari pemakaman. Potensi terjadinya hal tersebut sangat besar, mengingat diantara anak² dan ke-5 istri Tn. Kam, dicurigai ada yang berkhianat serta ingin menyerakahi harta warisannya yang tak terhitung banyaknya itu, sehingga membuat arwahnya penasaran.
Benar saja. Di perjalanan, rombongan P. Kromo bersama sang utusan sudah dicegat oleh jawara² sewaan yang berusaha menggagalkan misi mereka. Untunglah R&B, yang diam² mengikuti mereka, berhasil ‘membereskan’ para penghadang itu.
Setibanya rombongan itu di kompleks perumahan keluarga Kam yang didesain mirip Chinatown, P. Kromo diperkenalkan kepada Kam Hong, putra sulung Tn. Kam, yang menyewa jasa mereka. Sementara di halaman belakang, R&B ditemui oleh ART Tn. Kam, yang bernama Bi Sardiah. Ternyata dialah yang “mengundang” R&B lewat Bu Bajo (ibu Reo), yang merupakan sepupunya. Sardiah yang juga mantan gundik Tn. Kam, sesungguhnya amat mencintai majikannya itu. Maka ia mengundang R&B karena memiliki firasat akan terjadi kekacauan, akibat perebutan warisan oleh para ahli waris sang majikan. Pada saat yang sama, di sebuah kedai di kompleks perumahan itu, suatu konspirasi pengkhianatan tengah dirancang dengan Amaq Baljun sebagai eksekutornya.
P. Kromo meminta kepada Kam Hong, untuk ‘mengamankan’ area rumah tersebut dari ‘kucing hitam’ karena konon jenazah sang ayah bisa bangkit bila peti matinya dilompati kucing semacam itu. Kapiten van Dorp, komandan Kumpeni yang bertugas di wilayah itu, memerintahkan para serdadunya untuk segera melaksanakan tugas tersebut. Namun serdadu² itu menyalah gunakannya dengan merampas hewan² peliharaan milik warga desa. R&B mengamuk melihat serdadu² bersenjata itu dan menyikat habis mereka.
Malamnya, Joko yang ditugaskan oleh pamannya menjaga agar tak ada kucing hitam masuk ke rumah Tn. Kam, malah terlena mengintip Rosy, istri termuda alm. Tn. Kam yang tengah berselingkuh dengan Kapiten v. Dorp. Hasilnya Amaq Baljun dapat dengan mudah menyelundupkan seekor kucing hitam ke ruangan dimana jenazah Tn. Kam disemayamkan. terjadi kekacauan karena kucing hitam yang di-kejar² utk ditangkap, malah lari melompati peti jenazah Tn. Kam. Tak ayal lagi bangkitlah mayat penasaran tersebut, langsung menuju kamar dimana istri termudanya tengah berasyik masyuk dengan v. Dorp. Iapun ‘menculik’ dan melarikan diri dari istrinya yang tak setia itu. R&B yang berusaha menghalangi tak sanggup melawan tenaga sang ‘mayat cemburu’ tersebut.
Setelah terjadi kejar²an, untunglah akhirnya P. Kromo berhasil ‘menjinakkan’ mayat cemburu itu dan ‘menuntunnya’ kembali menuju ke rumahnya. Di jalan, muncul Kapiten v. Dorp yang segera merebut Rosy, yang tengah tak sadarkan diri dalam gendongan Joko. Di depan sebuah kedai, mayat Tn. Kam berbelok masuk ke dalam kedai dan menjadi murka memergoki istri nomor tiganya yang tengah merayakan pesta kemenangan bersama Kasir selingkuhannya. Mereka mengira mayat Tn. Kam sudah kabur keluar dari lingkungan perumahan dengan menggondol istri bungsunya, sehingga tak mungkin akan kembali lagi. Mayat Tn. Kam mengamuk menyambar lampu di atas meja, juga kompor² di dapur, sehingga kedai itupun terbakar hebat berikut seluruh isinya, termasuk mayat Tn. Kam beserta istri no. 3 dan kasirnya yang telah bertahan. Dukun Amaq Baljun yang tengah menagih upah atas jasanya kepada Tuan Kasir, ikut mati dilalap api.
Anak² Tn. Kam mohon ampun di depan jenazah ayah mereka yang sudah hangus jadi abu. P. Kromo berterima kasih kepada Sardiah yang telah mengundang R&B, yang banyak membantunya dari ancaman marabahaya. Merasa telah selesai, R&B pulang ke desa Dorokore di kaki Gunung Tambora.*****