Rating 0 / 5. Total vote: 0

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

PANGLIMA DENAI

PANGLIMA DENAI”.
(Komik dari era kejayaan Komikus Medan)

Karya : Zam Nuldyn
Penerbit : Fa. Harris, Medan
Tahun terbit : 1961
Tebal : 119 halaman

Tokoh ini merupakan tokoh fiksi masyarakat Melayu Deli, namun cukup dihormati, bahkan namanya diabadikan menjadi nama salah satu jalan protokol di Kota Medan. Kisah legendanya dikaitkan dengan asal-usul nama beberapa daerah di Sumatera antara lain : Silinda, Siabu, Bagansi-api2 dll.

Sinopsis :
Konon kisahnya terjadi di hilir Sei Ular (Sei = sungai/bhs Melayu) – sekitar Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara sekarang – pada zaman dimana manusia dan hewan² raksasa purbakala hidup di habitat yang sama sehingga kerap terjadi “pergesekan” di antara mereka. Tersebutlah “Kerajaan Denai”(KD) yang disegani oleh kerajaan² di sekitarnya, dengan rajanya yang tegas namun bijaksana. Pawang Tumarang adalah “orang sakti” kepercayaan sang Raja. Sayang pada suatu hari, ia melakukan kesalahan fatal yang menimbulkan banyak korban di kalangan rakyat KD. Ia gagal “melindungi” warga yang tengah be-ramai² mencincang bangkai hewan purba untuk persediaan pangan, karena tiba² muncul hewan raksasa lain menyerang mereka, padahal sang Pawang telah melakukan ‘ritual penakal’ seperti biasa. Raja murka dan semula bermaksud menghukum mati pawang tersebut. Namun mengingat jasa²nya, Raja mengubah hukuman menjadi “pengasingan seumur hidup” bagi sang Pawang berikut istri dan 3 anak yang masih kecil², yakni : Tunabu, Tumbara dan Tunapi.

2 windu (16 tahun) mereka menjalani kehidupan terasing di hutan. Putra² sang Pawang pun telah beranjak remaja. Berbeda dengan saudara²nya yang tak pernah pergi jauh dari gubuk tempat tinggal mereka, Tumbara kerap mengembara ke tempat² yang baru untuk menambah ilmu dan pengalaman. Sampai suatu ketika ia membantu seseorang yang nyaris diterkam seekor ‘ular bidau’ raksasa. Ia bernama Aru Tumpat, putra Panglima Mayang dari kerajaan “Tunggal Galang” (TG), yang akan menyerbu KD bersama pasukannya, tapi malang tak sengaja masuk ke gua sarang ‘ular bidau’, sehingga ular raksasa itu mengamuk, membuat pasukan TG kocar-kacir serta banyak yang tewas jadi korban.

Mendengar KD hendak diserang, Tumbara segera pulang untuk melaporkan hal itu kepada ayahnya, karena ia tahu bahwa meskipun telah terusir dari kerajaan, sang ayah tetap setia kepada sang Raja. Namun Tumbara menjumpai gubuknya sudah dalam keadaan porak-poranda, bekas diserang hewan raksasa. Orangtua dan saudara²nyapun lenyap entah kemana. Ia mengikuti jejak hewan tersebut, yang ternyata seekor ‘Lumai’ (singa raksasa berkepala naga). Dengan penuh dendam ditombaknya Lumai tersebut, sehingga hewan itu marah dan mengejarnya. Ketika lari dikejar Lumai masuk ke dalam rimba, ia melihat seorang putri cantik tengah ditawan oleh ‘suku Ruwai’, yang merupakan manusia prasejarah yang hidup di dalam rimba. Dengan cerdik Tumbara memancing sang Lumai, sehingga beralih menyerang orang² Ruwai tersebut hingga lari kocar-kacir. Kesempatan itu ia gunakan untuk menolong sang Putri.

Ternyata dia adalah Sri Nuri, putri Raja Denai. Ketika Tumbara mengantarkan sang putri kepada ayahnya, semula sang Raja amat berterima kasih kepadanya. Tapi begitu tahu bahwa pemuda itu adalah putra Pawang Tumarang, yang pernah membawa bencana bagi rakyat KD, Raja memerintahkan para prajurit untuk menangkapnya. Tumbara coba memberi tahu kepada Raja bahwa pasukan TG akan menyerbu KD, namun sang Raja tak mempedulikannya. Terpaksa Tumbara kabur untuk menghindari kejaran prajurit² KD, meninggalkan Putri Nuri yang sesungguhnya mulai jatuh hati kepadanya.

Sementara itu apa yang diucapkan Tumbara kepada Raja Denai menjadi kenyataan. Pasukan TG dibawah pimpinan Panglima Mayang menyerang KD, dan menangkap Sang Raja untuk dibawa menghadap kepada Raja TG. Namun ketika melewati rimba wilayah kekuasan suku Ruwai, mereka ditangkap oleh sisa suku primitif tsb, yang masih selamat dari amukan Lumai raksasa, guna dihadapkan kepada penghulunya yang bergelar “Datu Kabu” untuk dijadikan kurban persembahan.

Sementara Tumbara yang baru lolos dari kejaran prajurit² KD, bertemu kembali dengan Lumai yang masih menaruh dendam kepadanya. Nyaris Tumbara diterkam oleh Lumai, namun beruntunglah ia karena se-konyong² muncul ‘Gerpang’, buaya raksasa berkepala babi yang jauh lebih besar, memangsa Lumai tersebut.

Setelah merasa aman, Tumbara bermaksud kembali ke istana KD untuk nekad melamar Putri Nuri yang dicintainya, kepada sang Raja. Namun di perjalanan, ia menjumpai Raja Denai dan pasukan TG, tengah berada dalam tawanan ‘suku Ruwai’. Ia memancing suku Ruwai agar mengejarnya dan ia menjebak mereka ke gua sarang Gerpang. Maka tunggang-langganglah orang² Ruwai akibat amukan Gerpang. Bahkan tubuh Datu Kabu, sang kepala suku, terlempar jauh akibat tenaga tiupan dahsyat sang Gerpang yang bagaikan topan badai, dan jatuh di wilayah bernama “Rimba Pualam”.

Singkat kata, Raja KD langsung memperkenalkan Tumbara yang telah menyelamatkan jiwanya sebagai “PANGLIMA DENAI”, kepada Panglima Mayang dan pasukannya. Panglima Mayang senang mendengar dari Tumbara bahwa Aru Tumpat, putranya, masih hidup. Iapun menyatakan takluk dan mengabdi kepada KD. Tumbara dinikahkan dengan Putri Nuri dan keduanyapun hidup berbahagia…….

*Tetapi bagaimana dengan nasib ayah, ibu serta saudara² Tumbara : Tunabu sang abang dan Tunapi sang adik bungsu? Kisahnya ada di Panglima Denai jilid 2.

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

03 - Kurang

Kemasan

Softcover

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1961

Jilid

1 and 2