“PELET”
Karya : Djair Warni
“Anoali sosok seorang pahlawan”
Cerita dibuka di atas kapal yang tengah mengarungi lautan menuju Sunda Kelapa, dimana Tigor yang diusir dari kampung halamannya membantu seorang gadis bernama Rani, putri saudagar keturunan Tapanuli-Betawi, dari upaya perkosaan sang nahkoda kapal.
Tak dijelaskan benar apa yang membuat Tigor diusir dari keluarganya, dia hanya mengatakan bahwa dirinya telah menodai dan merusak nama baik orang tua yang berdarah bangsawan. Karena itulah dia memutuskan lebih baik mengembara ke negeri orang meski tanpa tujuan pasti. Niatnya hendak berdagang kandas karena modal perbekalannya dicuri orang. Dari kesialan inilah dia melompat dengan seorang perempuan cantik misterius yang menyeretnya jauh ke kegelapan kehidupan dan menghantarnya menjadi seorang penjahat.
Kehilangan barang-barang berharga membuat Tigor terpaksa menjual suaranya dari satu kedai ke kedai lain sebagai pengamen. Tentu saja pelanggan kedai mencemoohnya berhubung lagu yang dibawakan Tigor terdengar asing bagi mereka. Tapi ada juga yang menghargainya. Bahkan seorang pemilik kedai menawarinya untuk menyanyi secara tetap, namun langsung ditolak oleh Tigor.
Penolakan tersebut berujung pengeroyokan. Seorang perempuan bernama Nyi Durgalarasati mencegah pertumpahan darah, lalu menawari Tigor untuk bekerja sebagai penyanyi di rumahnya. Tawaran itu diterima Tigor. Pilihan apa lagi yang dia miliki? Dia tidak punya siapa-siapa atau apa-apa lagi. Toh, perempuan cantik satu ini telah menyita pikirannya sejak pertemuan pertama mereka berhari-hari lalu, ketika Nyi Larasati memikirkan dengan sebutan “Arjuna.” Siapa yang sanggup menolak?
Rumah Nyi Larasati jauh masuk ke dalam hutan di tepian sungai Cisadane. Besar bagai istana buatan Belanda namun menyeramkan dan seperti pemiliknya, menyimpan misteri di balik dinding dan lorong-lorong bawah tanah. Malam itu juga Tigor diundang bermain gitar dan menyanyi di kamar Nyi Larasati. Ramuan yang sebelumnya ditenggak Tigor membuat gairahnya memuncak, ditambah tarian erotis Nyi Larasati di hadapannya, maka jatuhlah Tigor ke dalam perangkap kenikmatan duniawi.
Sesuatu yang memang diinginkan Nyi Larasati semenjak mereka berjumpa, yakni menyerap saripati keperjakaan Tigor lewat hubungan badan demi keawetmudaan dirinya sendiri, bagai sesosok ‘succubus’.
Oh, maaf bukan hanya “bagai”, tapi memang “Ya”, Nyi Larasati adalah sosok ‘succubus’, setidaknya dia adalah pemuja… coba tebak… “Dewi Durga”. Kejutan! Dan Tigor mengetahui rahasia mengerikan Nyi Larasati yang Molek itu ketika dia melewati sebuah sumur tua yang menembus ke lorong-lorong gelap. Tapi apa daya, dia hanya lelaki biasa, dan Nyi Larasati mempunyai segalanya. Tigor terlanjur mabuk birahi, tak kuasa menolak karena kena ‘pelet’/guna² pengasihan Nyi Larasati.
Ah, tentu saja bagi para penganut “Kajian Budaya” atau para PC SJW akan dengan mudahnya menjadikan narasi cergam Pelet ini sebagai makanan empuk untuk dicincang dengan berbagai teori tentang seksualitas, representasi, stereotipe, male gaze, dsb. Bisa saja, tapi aku tak bermaksud mengarah ke sana. Lanjuuttt…..
Dibakar cemburu, dua orang pemuda, Sastro dan Kasman, yang selama ini ternyata juga menjadi ‘tunggangan’ Nyi Larasati, berkomplot menyingkirkan Tigor, sang kuda tunggangan baru sang Nyai. Tapi usaha mereka membahas kegagalan. Lalu bagaimana nasib keduanya?
Mereka dialihfungsikan menjadi penghias ruang bawah tanah, berupa dua buah patung arca batu. Tubuh mereka (dalam keadaan hidup) dituangi cairan ajaib yang mengubah jaringan manusia menjadi sekeras batu, seperti patung-patung lain yang sudah ada di situ entah sejak kapan. Mereka sejatinya tak lebih dari sekedar mesin persatutubuhan bagi Si Perempuan Iblis yang kalau bisa meminjam teks populer lain yang lebih kontemporer, mirip “Melisandre” si pendeta merah dari serial tv “Game of Thrones”.
Yah, Nyi Larasati tak lain adalah perempuan uzur tua bangka berusia ratusan tahun yang telah lama memakan ratusan korban laki-laki muda. Tigor, untuk kedua kalinya diberi kesempatan untuk menebus kesalahan. Dia mengetahui fakta ini saat bersua dengan seorang “Kakek Tua” yang mengaku sebagai suami Sang Nyai yang dulunya bernama Latifah.
Semangat membara Tigor untuk hanya melawan bertahan sekejap. Dia sempat memimpin pemberontakan para lelaki budak Nyi Larasati yang dalam waktu singkat dapat dipadamkan. Tigor pun bersimpuh memohon ampun. Untuk membuktikan kesetiaannya, Nyi Larasati dengan kejinya memerintahkan Tigor untuk mencabut jantung Rani, perempuan yang pernah ditolong Tigor dan dalam hati kecilnya yang dicintai oleh laki-laki itu.
Bagai kesetanan Tigor berkuda malam itu juga ke rumah Sang Saudagar, di mana Rani tinggal. Disana dia membantai Rani dan kedua orang tuanya. Dia merenggut jantung Rani dan mempersembahkannya kepada Nyi Larasati. Namun apa gerangan yang terjadi? Yang ada di tangannya bukanlah jantung melainkan segumpal kapuk. Rani dan dua orang tuanya masih hidup. Tigor tak berhasil membunuh siapa pun. Semua berkat campur tangan si “Kakek Tua” yang datang tepat pada waktunya. Bingung dengan apa yang menimpanya, jiwa Tigor terguncang hebat. Dia pun jatuh pingsan.
Si Kakek Tua mengejar Nyi Larasati yang telah kehilangan kecantikannya hingga ke suatu tempat di mana Sang Pendeta, guru sang Nyai, bersemayam. Pertarungan tak terhindarkan. Namun karena kalah sakti, si Kakek Tua tewas mengenaskan.
Cerita belum berakhir sampai di situ. Djair masih menyiapkan kejutan untuk pembacanya. Tigor yang dirawat oleh keluarga Rani, sadar dari pingsannya. Dia tak mempedulikan sekitarnya. Yang dia tahu, Nyi Larasati dalam wujud nenek-neneklah yang harus mengatur kekacauan hidupnya dan atas kematian Rani.
Hingga berhari-hari selanjutnya Tigor menebar ketakutan di sejumlah desa. Dia membunuhi setiap perempuan tua, nenek-nenek yang disangkanya sebagai Nyi Larasati. Banyak yang sudah menjadi korban yang jatuh. Dilain pihak, banyak pula perempuan muda yang dikiranya sebagai Rani, dipaksa untuk dikawininya. Semua perbuatan yang dia lakukan akibat tekanan jiwa yang teramat hebat.
Suatu saat warga desa memegoki pembunuhan itu. Mereka mengepung Tigor, siap hendak melenyapkannya. Tetapi seorang lelaki keturunan Arab yang kemudian menjadi kunci penting melekatnya kisah “Pelet” dan
“Pekutukan” dengan serial “Jaka Sembung”, muncul menyelamatkan Tigor dari amukan warga yang kalap. Cerita Pelet pun berakhir di sini. Perjalanan Tigor yang hendak menebus kesalahan di tanah kelahirannya, berakhir tragis bagi semua pihak. Sebuah ketragisan yang melengkapi perjalanan dalam mengangkat peran dirinya, meminjam istilah “Star Wars”, sebagai seorang “Dark Lord”.
Tigor tak dapat sepenuhnya dirinci sebagai pendekar pembela kebenaran atau pembasmi kejahatan. Cergam Pelet ini juga tidak bisa dimasukkan ke dalam cergam silat walaupun ada adegan aksi laga dan silatnya juga.
Permulaan petualangannya saja sudah dimulai bahwa Tigor bukanlah orang baik-baik dan dia tidak segan menggunakan kemampuan silat dan kekerasan hanya untuk menuruti amarahnya. Tidak, dia bahkan bukan seorang antihero yang masih memiliki tujuan “mulia” dengan cara-cara tidak mulia. Ia lebih mendekati konsep ‘pahlawan tragis’ sebenarnya. Tokoh dalam cerita yang nasibnya selalu tragis dan nelangsa.
Dia hanya seorang manusia pengelana yang terombang-
ambing di sungai kehidupan untuk sesekali mendamparkan dirinya lalu mengapung kembali hanya untuk membiarkan dirinya terangkut dalam kekelaman hidup yang lebih pekat. Bagiku inilah yang membuat Tigor terasa sangat manusiawi.
Kisah Pelet ini mengingatkanku pada cergam “Tuan Tanah Kedawung”-nya Ganes Th, meskipun jelas tak sama bertahan. Sebutlah Pelet adalah Tuan Tanah Kedawung-nya Djair Warni, Di mana drama kehidupannya lebih kuat dibandingkan adu kanuragan dan jurus-jurus maha sakti untuk meraih kemenangan. Semacam ‘novel grafis’lah, hanya saja saat itu belum ada istilah novel grafis.
Sosok Tigor adalah anomali jika dihadapkan kepada Parmin Si Jaka Sembung. Memang keduanya sama-sama tampan dan gagah, mahir bersilat pula, tetapi secara moral tidak berkulit putih, tidak juga tepat abu-abu, malah agak hitam namun tidak sepenuhnya hitam. Bingung kan?
Sulit mengandaikan sikap moral Tigor melalui warna. Agak aneh juga melihat kenyataan Djair yang biasanya menggarap kisah tokoh persilatan golongan putih memberi perhatian pada perjalanan hidup tokoh yang kemudian menjadi musuh dari golongan putih.
Dimensi karakter Tigor berlapis dan maaf, tidak sedatar (dan se’membosankan’) karakteristik Parmin yang begitu suci, saleh, nyaris sempurna, tak terbantahkan, bahkan digelari “Wali Kesepuluh”—sosok yang sangat tabah, sosok bukan-manusia. Tipikal khas hero yang diwariskan dari produk budaya populer satu ke lainnya.
Di dalamnya terdapat keunikan Djair yang berani mengisahkan pahlawan yang berbeda dari biasanya. Seakan ingin memberi keseimbangan melalui jalinan liku cerita kehidupan yang malah menimbulkan simpati kepada tokoh jahat. Hei, ini orang gak jahat sih tapi kok jahat juga ya? Tapi dia ini juga bukan orang baik.
Yah, dia hanya manusia biasa seperti kita juga.
Sumber : Jino Jiwan, bebas ngetik blogspot
(Copas dari postingan Bpk. Budiman Ong).