Rating 0 / 5. Total vote: 0

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

Prahara di Donggala

SI BUTA DARI GUA HANTU EPISODE 07:

PRAHARA DI DONGGALA

Utk Prahara di Donggala, Ganes TH mulai “irit” membuat ilustrasi cover. Bila biasanya tiap jilid dibuat ilustrasi cover berbeda, maka utk PdD beliau hanya membuat 5 ilustrasi cover utk 12 jilid.

Dlm PdD ini Sang Maestro menunjukkan kepiawaiannya menyajikan adegan humor melalui ulah 3 sekawan Ganyong dkk yg mirip Trio Punakawan dlm dunia pewayangan : Petruk, Gareng, Bagong sbg pengisi waktu/ intermesso di-tengah2 adegan kolosal yang penuh pertempuran seru, termasuk adegan para pengemis yg dilontarkan dgn alat pelontar mirip katapel raksasa agar dpt menembus benteng kediaman sang konglomerat Barnaba yg dikelilingi oleh kanal raksasa yg dipenuhi ikan2 hiu. Adegan ini mengingatkan saya pd film2 silat Mandarin ala sutradara Tsui Hark, spt dlm filmya yg berjudul Swordman l & ll. Sedangkan utk adegan humor yg menggelitik sesungguhnya Pak Ganes tak perlu diragukan lagi karena beliau memulai debutnya di dunia komik justru dgn komik2 bergenre humor berjudul Si Letoy (1965) & Mang Kiwil (1965).

Belum ada produser yg “berani” memfilmkan PdD. Hal ini mengingat adegan2 pertarungan kolosal dlm komik tsb tentunya membuat penonton ingin menikmati sajian adegan super kolosal mirip film Lord of the Rings besutan sutradara Peter Jackson di layar lebar. Dan ini tentu akan menyedot biaya produksi yang tak sedikit agar menghasilkan tontonan yg memuaskan, tdk mengecewakan seperti film2 SBDGH yg telah diproduksi sebelumnya. Setahu saya baru Pak Imam Tantowi sutradara film action Indonesia yg sanggup membuat film kolosal semacam itu sbgmana telah beliau buktikan dlm film serial SAUR SEPUH yg pernah amat menghebohkan di era 1980an…

Synopsis :

SBDGH bersama trio “punakawan” Ganyong dkk dan Randu si Camar Besi tiba di Donggala mengantarkan balita yg dititipkan mendiang ibunya kpd mereka (di awal kisah Sorga yang Hilang) utk diserahkan kpd ayahnya, Barnaba. Tapi ternyata tugas tsb tdk mudah krn ada beberapa pihak yg menginginkan balita calon pewaris kekayaan konglomerat asal Donggala itu, dgn motifnya masing2. Ada adik2 Barnaba yg diam2 ingin menyerakahi harta kakaknya yaitu Melambong dan Blatara Ugong. Ada pula kawanan pengemis yg tergabung dlm sebuah perkumpulan pengemis yang agaknya menaruh dendam kpd Barnaba. Randu termasuk dalam kelompok kedua karena dia ternyata adalah putri pimpinan pengemis yg terkenal dgn gelar Raja Pengemis dari Banggai…

Akibatnya Barda terjebak diantara pihak2 yang tengah bertikai itu. Ia terluka oleh serangan Ugong dan jatuh ke kanal penuh ikan hiu. Untunglah ia ditolong oleh seorang wanita bernama Kuntum yg ia kira sbg putri Barnaba. Namun setelah sembuh, ternyata tak mudah baginya utk keluar dari istana konglomerat itu karena penjagaannya yg ketat. Sementara itu Randu yg merasa posisi si balita dlm bahaya, menitipkannya di markas pengemis, lalu ia sendiri kembali utk mencari Barnaba, namun tertangkap oleh centeng2 saudagar itu dan ditawan di penjara bawah tanah…

Barda berhasil meloloskan diri dgn bantuan seorang pengemis yg menyusup ke istana Barnaba, lalu ia diajak oleh pengemis itu ke markasnya karena konon sang balita berada disana. Namun lagi2 Barda terperangkap dlm situasi sulit karena ternyata pengemis itu bukan pengemis asli melainkan salah satu adik Barnaba yg gemar menyamar, bergelar si Pari Wisa. Akibatnya Barda yg datang bersamanya, ikut dicurigai oleh kawanan para pengemis itu. Untung ia berhasil meyakinkan itikad baiknya kpd Raja Pengemis shg diizinkan membawa pergi sang balita utk diserahkan kpd ayahnya, setelah lebih dulu hrs menyingkirkan jago2 pilihan dari kawanan pengemis itu, diantaranya Daeng Lawata alias si Merak Kasmaran, sang penasehat raja pengemis sendiri…

Si Buta berhasil menyerahkan si balita kepada ayahnya. Ternyata Barnaba sendiri seorang yg arif bijaksana. Namun karena sering melawat ke mancanegara utk berniaga, maka namanya sering disalah gunakan oleh adik2nya yang serakah dan sering bertindak se-mena2 kepada kaum miskin demi kepentingan diri mereka sendiri. Pertempuran antara pasukan Barnaba yang sesungguhnya diprakarsai oleh para pengkhianat dari dlm keluarga Barnaba yakni Kuntum yg ternyata adalah istri muda Barnaba, dibantu oleh Melambong dan Ugong, melawan kawanan pengemis yg didalangi oleh Daeng Lawata tak dpt dihindari lagi. Maka terjadilah perang tawur yang makan banyak korban dari kedua belah pihak…

Akhirnya terbongkar konspirasi jahat antara Kuntum dgn Daeng Lawata yg ternyata punya hubungan gelap. Keduanya mengadu domba Barnaba dgn si Raja Pengemis. Pdhl dulunya mereka merupakan sahabat seperjuangan yang berlayar dan berniaga bersama. Bahkan Rantih putri sulung Raja Pengemis sempat terlibat asmara dengan Barnaba hingga membuahkan sang balita. Untunglah kedua jago tua itu cepat menyadari kesalah pahaman diantara mereka dan memutuskan untuk berdamai. Kuntum, Daeng Lawata dan Melambong tewas akibat dikeroyok ramai2 oleh pengemis2 yg menaruh dendam kepada mereka. Ugong insyaf akan kesalahannya dan menerima Randu, mantan musuh besarnya sbg jodohnya…

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

09 - Sangat Bagus

Kemasan

Hardcover

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1975

Jilid

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, and 12