“SETASIUN TUGU“
Diangkat dari puisi karya TAUFIQ ISMAIL.
Dikisahkan kembali oleh HASMI.
Jumlah : 4 halaman.
Dimuat di majalah Hai no 42 tahun ke V – 10 November 1981.
Pak Hasmi memang komikus handal…julukan salah satu maestro komik Indonesia pantas disandangnya, beliau mampu memvisualisasikan ruh puisi karya Taufik Ismail dengan baik …Cara menggambarkan suasana kota Yogya saat itu yang lengang…gelap..suram…muram…berhasil dihadirkan dengan cermat di setiap panel lukisan…, Pemberian warna gelap latar belakang halaman memperkuat gambaran muram kota waktu itu….…suasana penuh harap..…cemas dari seorang ibu pun berhasil ditampilkan.…yang akhirnya berhasil menyisakan perasaan trenyuh pembacanya………..
Dari kami yang tak pernah bosan menikmati karyamu, tak lupa teriring doa …..Semoga tenang dan bahagia di sisiNya….karyamu selalu ada dihati kami…..kami kumpulkan dari yang terserak…….
(Narasi Copas dari : Djk Sembung Komikers)
“SETASIUN TUGU”
Puisi oleh : TAUFIQ ISMAIL.
Tahun empat puluh tujuh, suatu malam di bulan Mei..
Ketika kota menderai dalam gerimis yang renyai..
Di tiang barat lentera merah mengerjap dalam basah..
Menunggu perlahan naiknya tanda penghabisan..
Keleneng andong terputus di jalan berlinangan..
Suram ruang stasiun berada dan tempat menunggu..
Truk menunggu dan laskar berlagu-lagu perjuangan..
Di Tugu seorang ibu menunggu, 2 anak dipangku..
Berhentilah waktu di stasiun Tugu, malam ini..
Di suatu malam yang renyai, tahun empat puluh tujuh..
Para penjemput kereta Jakarta yang penghabisan..
Hujan pun aneh di bulan Mei, tak kunjung teduh..
Di tiang barat lentera mengerjap dalam basah..
Anak perempuan itu 2 tahun, melengkap dalam pangkuan..
Malam makin lembab, kuning gemetar lampu stasiun..
Anaknya masih menyanyi “Satu Tujuh Delapan Tahun”..
Udara telah larut ketika tanda naik pelan-pelan..
Seluruh penjemput sama tegak, memandang ke arah barat..
Ibu muda menjaga anaknya yang kantuk dalam lena..
Berkata : lambaikan tanganmu dan panggillah Bapak..
Wahai ibu muda, seharian atap-atap yang kota untukmu berbasah..
Karena kelaziman militer pagi tadi terjadi di Klender..
Seluruh republik menunduhkan kepala, nestapa dan resah..
Uap ungu berdesir menyeret gerbong jenazah terakhir..