(Copas dari postingan Alm. Bpk. Akhmad Makhfat)
“TRAGEDI DUA ASMARAWAN”.
Karya : Teguh
Tebal : 34 hal. tamat
Tahun : 1966
Penerbit: PT Tjahaja Kumala, Djakarta
3 tahun setelah komik “Suma”, komik “Tragedi Dua Asmaraman” terbit. Komik yang terbit tahun 1966 ini, dari sisi cerita masih belum meninggalkan genre yang umum pada komik Jawa Timur-an (baca: A. Chamid, Moh. Radjien, S. Tapa, SES, dll) awal tahun 1960 an, dengan tema ‘cerita rakyat’ dan ‘legenda lokal’. Namun dari sisi gambar dan panel, komik “Tragedi” ini sudah mengalami perubahan dibandingkan dengan komik “Suma” (1963) serta “Ki Danureksa dan Pusaka Sunan Giri” (1964). Dari sisi alur cerita, Teguh sudah jauh lebih terasa dinamis sehingga mampu membawa pembaca ikut masuk ke dalam suasana yang ia ciptakan dan serasa menjadi saksi cerita. Panel komik yang dinamis dan gambar yang ekspresif membuat komik Tragedi ini sudah beridentitas Teguh dengan kental, meskipun belum merupakan puncak karya terbaik beliau. Puncak awal karya beliau, menurut saya, pembaca dan pecinta beliau, adalah komik2 beliau yang terbit pada tahun 1967 dan komik terbaik dari semua komik beliau adalah “Kraman”. Tentu saja ini pendapat saya pribadi.
Komik “Tragedi Dua Asmarawan” berkisah tentang seorang wanita bernama Roro Oyi di jaman Mataram. Roro Oyi akan dijadikan selir oleh Sultan Amangkurat I, namun karena masih berusia 9 tahun, ia dititipkan untuk sementara waktu ke Lurah Wirorejo di pinggiran Kota Plered. Ketika Roro Oyi berusia 17 tahun, takdir mempertemukannya dengan Adipati Anom, putra Sri Sultan sendiri, dan keduanya saling jatuh cinta. Cinta mereka makin tak terpisahkan setelah Adipati Anom menolong Roro Oyi dari penculikan yang dilakukan oleh seorang perampok bernama Baurekso. Adipati Anom, meski tahu Roro Oyi calon selir ayahnya, dengan bantuan sang ibu dan kakeknya, berhasil menikahi Roro Oyi secara diam2 dan merekapun hidup bahagia.
Malapetaka tejadi ketika Sri Sultan tahu pernikahan anaknya dengan calon selirnya sendiri. Terjadi kericuhan di Istana yang berakhir dengan kematian Roro Oyi. Sang Adipati Anom sangat kehilangan dan kecewa terhadap ayahandanya. Melalui tangan Trunojoyo, Adipati Anom memberontak. Pemberontakan ini menyebabkan Sri Sultan mangkat ketika mengungsi ke desa Tegalwangi……. *****