” CANDRA BIRAWA”.
Karya : RA Kosasih
Penerbit : Maranatha
Tahun terbit : 1982
Tebal : 240 halaman (bundel A&B)
Kisah ini merupakan hasil kreasi pujangga Jawa, jadi tidak ada dalam kisah induk (“babon”) Mahabharata yang berasal dari India. Ia sering dijadikan tema cerita dalam lakon pedalangan Wayang Kulit maupun Wayang Orang.
Sinopsis:
Dewi Pujawati, putri Resi Bagaspati dari pertapaan Arga Belah bermimpi berjumpa dengan seorang satria tampan yang membuat dirinya ter-gila2 siang dan malam. Sedangkan Sang Resi berujud raksasa namun putrinya merupakan gadis cantik jelita. Karena kasih sayangnya kepada sang putri, maka Sang Resi pergi mencari satria dengan ciri2 seperti dalam mimpi putri tersebut.
Sementara itu Narasoma, putra mahkota Raja Mandraka sedang dalam perjalanan menuju Mandura untuk ikut dalam sayembara yang diadakan oleh Raja Mandura dalam rangka memperebutkan Dewi Kunti Nalibrata . Dalam perjalanan, Narasoma berjumpa dengan Bagaspati yang langsung merasa yakin bahwa dialah satria impian putri. Maka sang Resi meminta agar sang satria sudi menikah dengan putrinya. Tentu saja Narasoma yang angkuh dan sombong itu murka bukan kepalang. Pertama, karena perjalanannya yang sedang ter-buru2 menjadi terhambat. Kedua, melihat wujud Resi Bagaspati yang berupa raksasa membuatnya berpikir bahwa putripun tentu berwujud seorang ” raseksi”… ..
Narasoma menolak mentah2 sehingga terjadilah perpecahan. Bagaspati berhasil memukul pingsan Narasoma dan membawanya pulang ke pertapaan untuk diserahkan kepada Pujawati. Begitu sadar dari pingsannya, Narasoma sontak terpesona dan bersedia dinikahkan dengan gadis itu. Namun setelah menikah, Narasoma yang merasa malu punya mertua berujud raksasa, minta kepada Pujawati agar mau membujuk ayahnya agar dibunuh oleh sang menantu demi kebahagiaan rumah tangga mereka….
Di luar dugaan, demi membahagiakan putrinya, Bagaspati setuju dengan ide gila Narasoma itu. Bahkan sebelum dibunuh, Bagaspati dengan sukarela mewariskan Ajian Candra Birawa yang sangat luar biasa itu kepada sang menantu terlebih dahulu. Ajian tersebut berujud raksasa kerdil yang bila dilukai maka ceceran darahnya justru menjadi raksasa2 baru yang berlipat ganda banyaknya…..
Setelah itu ia membawa pulang Pujawati ke Mandraka. Betapa murkanya sang ayah mendengar putranya melakukan hal yang tak terpuji seperti itu. Apalagi ternyata Resi Bagaspati adalah bekas sahabat karib sang raja di masa remaja dulu. Alih-alih menyesal atas semua perbuatannya, Narasoma malah dengan ” cuek” berangkat lagi melanjutkan perjalanan ke Mandura untuk menunaikan maksudnya ikut sayembara, setelah terlebih dahulu menitipkan Pujawati kepada Dewi Madrim, adiknya…
Sesuai kisah induk Mahabharata, maka setiba di Mandura ia malah mengalami kehancuran Dewi Madrim, sang adik untuk suatu pertarungan dengan Pandu Dewanata dalam rangka memperebutkan Dewi Kunti. Selanjutnya Narasoma pun kalah dalam pertaruhan sehingga terpaksa harus menyerahkan Dewi Madrim kepada Pandu…
Konon karena rasa malu yang ber-tubi2 akibat perilaku anak, maka Raja Mandraka pun nekad bunuh diri. Untunglah sejak kematian sang ayah, Narasoma beradaptasi dan mengubah perangainya menjadi baik. Ia menggantikan ayahnya menduduki tahta Mandraka dengan gelar Prabu Salya dan memerintah dengan arif bijaksana. Pujawati pun karena rasa setianya yang luar biasa kepada sang suami, dianugerahi nama baru yakni Dewi Satyawati..
-Tama t-