” MAHABHARATA XXI”
(Sebuah komik penuh warna karya komikus legendaris Teguh Santosa).
Dimuat sebagai sisipan di “Majalah SAP Komik” edisi tahun 2001. Adapun SAP Komik adalah majalah digital yang tidak diterbitkan secara fisik melainkan melalui media sosial secara digital oleh seorang kreator yang menamakan diri “Sap”.
Karya : Teguh Santosa
Terbit di Majalah SAP Komik
Tahun : 2001
Jumlah halaman : 16.
Sinopsis:
Jalan ceritanya masih mengikuti pakem wayang Mahabharata, tapi penyajiannya dibuat dengan gaya “futuristik” sesuai judulnya Mahabharata abad XXI. Oleh karena itu penggunaan kereta kuda diganti dengan “Turangga Layang”, senjata panah jadi Panah Laser, dan Candrabirawa menjadi “Monster Hologram” mirip monster raksasa Kaeju di film Superman terbaru. Ada sisipan moralnya, yakni dikisahkan ketika pihak Pandawa yang terdesak hendak menggunakan “Nenggala Nuklir” dan “Senjata Biologi”, Sri Kresna tak mengizinkan karena akan merusak lingkungan dan memakan korban rakyat yang tak berdosa.
Alkisah Prabu Yudistira yang hobi judol terkena ‘jebakan betmen’ Kurawa sehingga nekad kecelakaan kerajaan bahkan istrinya. Ia bermain di situs milik Kurawa yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga membuat Sang Prabu kalah telak. Sadar bahwa mereka telah ditipu mentah², maka Pandawa menantang perang, hingga pecah perang Bharatayuda di medan Kurusetra…..
Di awal kisah ada penggalan dialog Sri Kresna dengan Arjuna yang bersifat filosofis dari kitab “Bhagawad Gita”, dimana Arjuna enggan turun gelanggang karena yang harus ia lawan adalah guru, saudara bahkan eyang Bisma yang sangat ia hormati. Namun Sri Kresna mengatakan bahwa manusia hanyalah alat Dewata dan tak bisa memilih sesuai keinginannya sendiri. Dengan hadiah iming² bidadari tercantik dari Kahyangan, maka playboy Pandawa inipun siap untuk mengangkat senjata.
Lain lagi dengan Jendral Bisma Dewabrata. Dialah keturunan Bharata yang sesungguhnya, pewaris asli takhta Hastina. Tapi akibat tipu daya Dewi Setyawati, istri muda sang ayah, yang ingin keturunannya menjadi raja, maka Bisma mengalah. Dihati Bisma sesungguhnya lebih memihak Pandawa, namun karena jiwa patriotisme dimana ia harus menjaga kelanggengan Hastina, maka mau tak mau ia harus angkat senjata untuk membela pihak Kurawa….
Pertempuran di Kurusetra jelas didominasi oleh Bisma yang sakti mandraguna. Ketika pihak Amarta terus terdesak, Sri Kresna sebagai ‘pelatih’ pihak Pandawa dapat akal yang cemerlang, yakni memajukan Srikandi, salah satu istri Arjuna yang ahli ‘bela diri’, untuk melawan Bisma, karena ia tahu sang Jendral enggan melawan seorang wanita.
Melihat tampilnya Srikandi di Kurusetra, Bisma merasa bahwa ajalnya sudah dekat. Untuk mengetahui hal tersebut, kita perlu “flashback” ke masa Bisma masih muda dan menculik putri² dari Negeri Kasi, untuk dinikahkan dengan Raja Astina pada waktu itu. Ternyata Bisma melakukan tindakan ceroboh karena Dewi Amba, salah satu dari putri² itu, sudah punya pertunangan. Sang pertunangan menolak menerima kembali Dewi Amba. Amba minta pertanggungjawaban Bisma dan minta dinikahi olehnya. Bisma menolak karena terikat sumpah ‘celibath” kepada Dewi Setyawati. Amba bertapa mohon kepada Dewata agar dapat membalas dendam kepada Bisma. Maka ketika ia meninggal, arwahnya ber-reinkarnasi ke dalam bayi Srikandi……
Kini saat penyelesaian itu tiba. Bayi Srikandi sudah tumbuh menjadi seorang wanita ahli perang yang siap berhadapan dengan Bisma. Roh Dewi Amba yang ada di dalam dirinya dengan penuh amarah menyerang Bisma yang tak mau melawan. Serangan ribuan anak panah laser dari Srikandi tidak ditangkis sama sekali oleh Bisma. Maka gugurlah ia. Pihak Pandawa maupun Hastina, bahkan Dewa² di Kahyangan, semua memberikan penghormatan atas wafatnya Sang Jendral Besar. Kedua pihak melakukan gencatan senjata sementara waktu selama masa berkabung sebagai tanda penghormatan….. *****