“MAT ROMEO” (Son of Sandhora).
Logi ke-2 dari Trilogi “Sandhora”.
Karya : Teguh Santosa
Penerbit : Sastra Kumala
Tahun terbit : 1972
Tebal : 448 halaman
Di logi kedua yang berjudul ”Mat Romeo” dan diberi sub judul “Son of Sandhora” ini, Teguh Santosa mengeksplorasi konflik politik dan eksotisnya daerah “Semenanjung Filipina” (yang berbatasan dengan Sulawesi Utara) sebagai adonan utama cerita. Disini dikisahkan bahwa “Mat Romeo” yang sudah dewasa (berselang 25 tahun kemudian sejak perpisahan dengan kedua orang tuanya), telah tumbuh dan dewasa diasuh oleh satu keluarga Filipino di Davao. Mewarisi bakat playboy dari ayahnya, Romeo harus terlibat cinta dengan beberapa perempuan. Memang logi kedua ini lebih kental unsur roman cintanya yang diwakili oleh sepak terjang Mat Romeo di Filipina.
Hal yang menunjukan wawasan luas Teguh Santosa adalah ketika Mat Romeo dan Mat Pelor, ayah beranak, terlibat dalam konflik perjuangan bangsa Filipina melawan penjajahan Spanyol. Selain itu, Mat Pelor dan Romeo sempat terjebak dalam friksi antar kelompok bersenjata muslim Filipina yang sedang mengangkat senjata melawan Spanyol di Mindanao.
Pertemuan kembali ayah dan anak ini tidaklah mudah. Bak telenovela, Teguh Santosa menggiring pembaca untuk memutar-mutar serta dengan sengaja menunda klimaks pertemuan Mat Pelor dan Mat Romeo sampai akhir. Ayah dan anak ini bahkan pernah berhadapan dalam satu pertempuran sebagai musuh.
Mat Romeo bergabung dengan satu kelompok gerilyawan penentang pemerintahan Spanyol di daerah utara provinsi Mindanao yang mayoritas masyarakatnya pemeluk agama Kristen, sedangkan Mat Pelor tergabung dalam gerilyawan Muslim Mindanao di Selatan. Walau kedua kelompok itu sama-sama menentang pemerintahan Spanyol di Filipina, tapi keduanya bertentangan secara tujuan dan ideologi. Oleh karena itulah mereka sering bentrok, dan ayah beranak Mat Pelor dan Mat Romeo ini tergabung dalam kedua kelompok yang berbeda.
Terus melakukan pencarian terhadap jejak anaknya, Mat Romeo, Mat Pelor bahkan sempat berencana untuk menyerbu bangunan bersejarah bangsa Filipina di Mindanao, “El Video”. Saat itu El Video adalah benteng markas pemerintahan Spanyol yang pada sejarahnya dibangun oleh darah dan keringat orang Muslim Filipina di Mindanao.
Di logi kedua ini, Mat Pelor sudah terkenal dan merajai perairan laut Nusantara dengan kapasitasnya sebagai bajak laut, penyelundup senjata dan juga pedagang candu yang menguasai rute perdagangan laut di ‘Asia Tenggara’ dan ‘Laut Cina Selatan’. Profesi sebagai pedagang senjata memang mengharuskan dirinya untuk selalu berada di daerah konflik dan menjalin hubungan dengan para pemimpin pemberontakan rakyat setempat di negara negara yang sedang terjajah oleh imperialis Inggris, Spanyol dan Belanda.
*Dicuplik dari tulisan : “Rieza Fitramuliawan (Februari – Oktober 2000) – untuk mengenang Teguh Santosa”.