“Mencari Mayat Mat Pelor”
(Logi pamungkas dari Trilogi “Sandhora”).
Karya : Teguh Santosa
Penerbit: Sastra Kumala
Tahun terbit: 1975
Tebal : 622 halaman
Di log penutup yang berjudul ”Mentjari Majat Mat Pelor”, Teguh Santosa membuat sebuah cerita berbingkai yang sangat memikat. Pengaturan waktu telah berpindah satu abad setelah peristiwa terakhir di logika kedua. Dalam logi ketiga inilah Teguh Santosa menabalkan diri sebagai penulis cerita ulung, Teguh Santosa adalah komikus yang memahami sejarah Nusantara dan regional, menguasai ilmu geografi, religius sekaligus pencinta kehidupan. Indonesia sudah memasuki abad modern di tahun 1960-an ketika generasi keempat dari Mat Pelor berebut harta warisan Mat Pelor yang dipendam di sebuah tempat di dasar lautan ‘Teluk Siam’. Teguh Santosa memulai cerita dengan membawa seorang penyelam profesional dari Surabaya untuk menyelam di Teluk Siam Thailand mencari bangkai kapal Mat Pelor.
Mengapa Mat Pelor sampai terdampar di Thailand terpisah jauh dengan markas utamanya di Menado Sulawesi Utara, diceritakan dengan sangat memikat melalui adegan kilas balik yang diceritakan oleh salah satu keturunannya.
Tanpa pernah disinggung dalam logika sebelumnya, Mat Pelor ternyata berteman erat dengan “Raja Mongkut” di Kerajaan Thailand bergelar “Rama IV” (1851-1868). “Raja Rama IV” dalam sejarahnya memang terkenal sebagai seorang modernis. Hasratnya yang kuat untuk membawa Thailand sebagai negara modern yang maju dan unggul, telah membawa pertemuan dan berkenalan dengan Mat Pelor. Sungguh pandai Teguh Santosa melemahkan batasan antara sejarah dan fiksi melalui tokoh Mat Pelor ini. Mat Pelor sendiri bersahabat dengan Raja Mongkut bukannya tanpa motif, semuanya bermuara pada satu ambisi yang tercantum sebagai catatan fakta sejarah yang akan mampu mengubah situasi ekonomi dunia pada saat itu dan sekarang, yaitu pembangunan ‘Terusan Kra’.
Rencana Pembangunan Terusan Kra, adalah sebuah rencana untuk membangun sebuah jalan udara (terusan/kanal) yang akan menghubungkan ‘Songkhla’ di pesisir teluk Siam dengan ‘Marid’ (sekarang Myanmar). Tercatat pembuat ‘Terusan Suez’ yaitu ‘Ferdinand de Lesseps’, pernah mengunjungi daerah tersebut pada tahun 1882, namun tidak diperkenankan untuk menyelidiki secara detail kawasan itu oleh raja Thai.
Inilah motif sesungguhnya kegiatan Mat Pelor di Thailand, yaitu mendapatkan izin dari sahabatnya, Raja Thailand Mongkut, untuk membangun ‘Terusan Kra’ yang akan menghubungkan Semenanjung Melayu dengan dataran Asia. Dengan membangun Terusan Kra, maka pamor Selat Malaka sebagai pintu gerbang pelabuhan Asia Tenggara dan status Singapore sebagai kota pelabuhan utama Asia Tenggara akan redup. Kapal-kapal layar yang menuju Laut lepas tidak perlu lagi melewati Selat Malaka dan otomatis Singapore dengan kapasitas sebagai negara berikat akan hancur. Mat Pelor sangat jeli, dengan runtuhnya Singapore, maka hegemoni Inggris di kawasan Asia saat itu akan juga terpatahkan dan imperialis Inggris akan bubar.
Dengan keahliannya sebagai pembuat fiksi, Teguh Santosa dengan semangat anti imperialisme telah menjadikan Mat Pelor sebagai tokoh utama di balik rencana Raja Rama IV membangun Terusan Kra. Pembangunan Terusan Kra atas ide Mat Pelor pada saat itu akan merubah tatanan perdagangan dan kawasan bisnis Asia dan dunia secara keseluruhan. Inilah asyiknya cerita Teguh Santosa, Ia tidak hanya seorang komikus, tapi juga seorang penggagas besar.
Usaha Mat Pelor mewujudkan pembangunan Terusan Kra mendapat tantangan luar biasa, tidak hanya dari Kerajaan Inggris yang khawatir rencana itu akan meruntuhkan Singapore sebagai bandar pelabuhan, tapi juga mendapat tantangan dari dalam negeri Thailand sendiri. Usaha kudeta terhadap Raja Thailand berlangsung, bahkan Mat Pelor terjebak dalam kudeta tersebut. Hebatnya, kudeta terhadap Raja Rama IV ini ternyata didalangi oleh para agen Inggris langsung dari Eropa dengan target utama menggagalkan rencana membangun Terusan Kra dan menangkap Mat Pelor.
Kerajaan Inggris di Eropa khawatir dengan pengaruh Mat Pelor di perairan laut Asia, apalagi kabar intelejen telah menginformasikan kepada negara negara di Eropa bahwa Mat Pelor telah menguasai tanah di seluruh kawasan yang akan nantinya digali untuk keperluan pembangunan Terusan Suez. Layaknya operasi intelejen, mata mata dan para penghasut telah disebar oleh pihak barat bekerjasama dengan pemberontak di dalam negeri Thailand, tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan kebencian kepada Mat Pelor, si orang asing yang telah menguasai tanah mereka. Dalam pesta ulang tahun Pangeran Putra Mahkota “Chulalangkorn”, Mat Pelor terjebak dalam usaha kudeta dan tertangkap.
Untuk kali ini, gagasan besar Mat Pelor menemui kegagalan. Mat Pelor meninggal dalam pelukan putra tunggalnya, Mat Romeo, di atas kapal ‘Jawa Dwipa’. Cita-cita mematahkan kekuasaan negara imperialis melalui rencana pembangunan Terusan Kra juga kandas, di tahun 1897, penguasa kerajaan Thailand tunduk akan kemauan Inggris untuk tidak membangun Terusan Kra.
Sebelum menyampaikan nafas terakhirnya, Mat Pelor memberikan wasiat, apabila rencana pembangunan Terusan Kra tidak dapat terwujud, maka dana yang sudah dipersiapkan agar dihibahkan kepada Aceh , satu-satunya daerah di Nusantara yang tidak pernah tunduk kepada negara imperialis.
Bangkai kapal Jawa Dwipa yang kandas di perairan Teluk Siam ini menjadi harta yang tidak bernilai bagi para keturunan generasi ke lima dari Mat Pelor. Petualangan Mat Romeo dan Mat Pelor di Thailand telah menghasilkan keturunan lain yang bermukim di negara tersebut. Selain menyimpan jenazah Mat Pelor, para anak keturunan kapal Mat Pelor percaya kalau di itu juga tersimpan rahasia penyimpanan harta karun Mat Pelor, yang sedianya ditujukan untuk membangun Terusan Kra. Itulah yang membawa “Bram”, seorang penyelam profesional asal Surabaya dibawa ke negara Thailand, yang kemudian terlibat dalam perebutan harta karun dan bentrokan dengan gerilyawan komunis di Thailand yang juga menginginkan harta tersebut.
Mentjari Majat Mat Pelor adalah sebuah prasasti lain bagi keahlian Teguh Santosa membuat sebuah cerita. Yang unik dari trilogi ini, bahwa disetiap adegan tertentu, Teguh Santosa juga membuatkan ilustrasi musiknya, laiknya sebuah film dengan ‘original soundtrack’. Untuk hal ini, “Seno Gumira Ajidarma” disebut sebagai sebuah sastra filmis.
Karakter Mat Pelor sendiri juga sangat menarik. Sebagai arek Malang, Mat Pelor adalah pelaut sejati. Dalam petualangannya Ia selalu ditemani oleh sahabat sehidup semati, “Dul Rasyid”. Mat Pelor bukanlah seorang nasionalis atau pejuang. Keberpihakannya kepada para pejuang di Nusantara, Filipina dan di Thailand adalah cerminan kebenciannya pada imperialisme, ia tidak peduli dengan kemerdekaan, ambisinya adalah mengusir imperialis dari kawasan Asia Tenggara yang sangat kaya akan hasil bumi dan sangat strategis bagi perdagangan laut dunia.
Sayang, ambisinya telah mengubur Mat Pelor di tengah laut Teluk Siam, jauh dari sang istri yang menunggu kepulangannya di Menado. Sementara nasib Mat Romeo juga tak kalah tragisnya. Dalam perjalanan pulang membawa jenazah ayahnya ke Menado, kapal Jawa Dwipa diserang pasukan Inggris. Didakwa sebagai bajak laut, Mat Romeo harus mendekam di penjara Singapura selama dua puluh tahun meninggalkan janji dan keluarga yang terbengkalai.
Dicuplik dari tulisan : Rieza Fitramuliawan (Februari – Oktober 2000) – untuk mengenang Teguh Santosa.