Rating 5 / 5. Total vote: 1

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

PANDU DEWANATA

MAHABHARATA” (Grand Desain para Dewata dalam membasmi sang Angkara Murka) :

Fragmen ke II : “PANDU DEWANATA

Karya : RA Kosasih
Cetakan : ke 2
Tahun terbit : 1966
Penerbit : Melodie – Bandung
Tebal : 42 halaman
Remaster : Anjaya Books (edisi bundel lengkap)

 

* “Jodoh Putra² Abiyasa”.

Dewi Kunti Nalibrata
(Sayembara di Negeri Mandura).

Kuatir terulang peristiwa seperti yang terjadi pada putra²nya, maka Ibu Suri Setyawati meminta cucu²nya yang sudah mulai beranjak dewasa untuk segera mencari istri. Maka begitu mendengar bahwa Raja “Negeri Mandura” sedang mengadakan sayembara untuk mencarikan jodoh bagi putrinya yang bernama Dewi “Kunti Nalibrata”, berangkatlah ketiga putra Abiyasa itu untuk mengikuti sayembara tersebut. Sebagai seorang ahli memanah tanpa tandingan, maka sayembara memanah burung dalam sangkar yang sedang berputar bukanlah masalah bagi Pandu Dewanata. Iapun tampil sebagai pemenang….

Dewi Madrim”
(Pertaruhan dengan Narasoma)

Namun saja Pandu dan saudara²nya hendak membawa pulang sang Dewi, tiba² “Narasoma”, putra mahkota kerajaan Mandraka baru yang datang terlambat, menyatakan tetap berminat untuk mengikuti sayembara. Maka ia menantang Pandu untuk bertarung memperebutkan sang Dewi. Ia terlambat karena ada urusan penting yang menghalangi perjalanannya. ( Tentang penyebab keterlambatan tersebut akan saya kisahkan sendiri dalam sebuah “kisah carangan” berjudul “Narasoma dan Candra Birawa”). Agar Pandu tak merasa rugi, Narasoma bersedia membuat adiknya Dewi Madrim untuk dimiliki oleh Pandu bila berhasil mengalahkan dirinya sendiri. Dengan licik dalam pertarungan Narasoma mengerahkan ajian “Candra Birawa”nya berupa raksasa yang bila dilukai maka darahnya menjadi raksasa² baru yang ber-kali² lipat jumlahnya. Untung Destarata segera membantu sang adik dengan mengerahkan ilmu ” Kumbala Geni” nya sehingga raksasa² itu musnah menjadi abu. Narasoma pun menyerah dan mengajak ksatria ketiga Hastina tersebut memanggil Dewi Madrim di kerajaan Mandraka untuk diboyong ke negeri Hastina….

Dewi Gandari”
(Pertaruhan dengan Sangkuni).

Sepulang dari Mandraka dengan memboyong 2 putri, di perjalanan ke 3 ksatria bersaudara tersebut dihadang oleh Sangkuni, putra raja Palasa Jenar yang (lagi²) menginginkan Dewi Kunti. Untuk itu ia menantang Pandu bertarung, dengan “Dewi Gandari”, sang kakak sebagai pertaruhannya. Bahkan Sangkuni sendiri siap mengabdi di Hastinapura bila Pandu sanggup mengalahkannya (ini yang kelak malah menjadi malapetaka karena kelicikan Sangkuni selalu menjadi sumber bencana bagi para Pandawa). Singkat kata Sangkuni berhasil dikalahkan oleh Pandu sehingga sesuai janji ia ikut ke Hastina untuk “mengabdi” bersama dengan Dewi Gandari, kakaknya. Dan kisah drama yang sesungguhnya dari cerita Mahabharata inipun baru dimulai….

** “Pernikahan Putra2 Abiyasa”.

Naga Kowara & Naga Erawata”.
(Terpilihnya Dewi Gandari oleh Destarata)

Karena Destarata sebagai putra sulung memiliki cacad bawaan yang cukup fatal yakni tunanetra sehingga dianggap tidak akan mampu memegang tampuk pemerintahan, maka diputuskan Pandu Dewanata lah yang berhak atas tahta Hastinapura.

Setelah masalah penunjukan pimpinan Hastina selesai, maka acara dilanjutkan dengan pemilihan istri bagi para putra Abiyasa tersebut. Seharusnya 3 putri yang berhasil diboyong dari Mandura, Mandraka dan Palasa Jenar pas untuk mereka bertiga. Namun Widura yang merasa bahwa dirinya masih terlalu muda untuk menikah, menolak ikut serta dalam pemilihan tersebut. Maka diputuskan Destarata sebagai putra tertua akan memilih seorang putri sebagai istri terlebih dahulu dan 2 sisanya yang tidak terpilih akan menjadi istri² Pandu. Karena Destarata tak dapat melihat, maka pemilihan akan dilakukan dengan cara menyentuh dan memegang istri pilihannya. Jadi siapa yang nanti dipegang oleh Destarata, berarti dialah yang terpilih…

Tentu saja ke 3 putri berusaha untuk tidak terpilih oleh Destarata, agar dapat menjadi permaisuri Pandu. Karena selain tampan dan gagah, dia juga pemegang tahta Hastina. Sangkuni pun mulai dengan akal liciknya. Ia membaluri sekujur tubuh Gandari dengan air perasan ikan agar berbau amis sehingga Destarata yang hanya mengandalkan penciumannya akan enggan mendekat. Sedangkan ke 2 putri yang lain memohon kepada Dewa pujaannya masing². Kunti kepada Betara Surya sedangkan Madrim kepada Betara Kembar Aswan & Aswin…

Tiba pada saat pemilihan, Kunti dan Madrim dilindungi oleh dewa pujaan mereka sehingga terlewatkan dari sentuhan Destarata. Namun tepat detik saat Destarata mendekat ke arah Gandari, terjadilah peristiwa yang tak terduga di alam transendental/gaib. Dua ekor naga bertarung memperebutkan bola mustika lambang kekuasaan mereka, yakni Naga Kowara dan Naga Erawata. Detik itulah Naga Kowara yang berhasil merebut mustika langsung lari mencari tempat persembunyian agar terhindar dari kejaran Naga Erawata. Ia masuk dan sembunyi dalam diri Destarata, sehingga pada saat itu apartemennya menjadi mirip karma sang naga, yang menganggap bau amis ikan sebagai bau harum mangsanya. Maka dengan penuh semangat iapun memeluk Gandari sebagai tanda suka kepada gadis itu dan langsung memilihnya sebagai istri…

Meski kecewa menjadi istri Destarata, namun Gandari adalah seorang wanita yang konsekwen dan siap sependeritaan dengan suaminya. Ini ia buktikan dengan sumpah bahwa untuk seumur hidup bersama Destarata, ia takkan pernah melihat sang surya. Untuk itu setiap hari sejak matahari terbit hingga terbenam, ia menutup matanya dengan kain agar dapat ikut merasakan apa yang dialami sang suami. Barulah bila malam tiba ia membuka tutup mata tersebut. Namun ambisinya untuk menjadi istri raja tidaklah pupus. Ia terus membujuk suaminya dengan mengatakan bahwa sejatinya sebagai putra sulung (tertua) dialah yang sesungguhnya berhak atas takhta Hastina. Tetapi Destarata berusaha menyadarkan sang istri agar tak melawan takdir yang sudah digariskan oleh dewata. Tak puas dengan sikap sang suami, diapun tak henti²nya memohon kepada dewata agar sang suami atau paling tidak, kelak keturunannya, dapat menjadi raja di Hastinapura….

(Bersambung ke : “Serigala Melolong di Hastinapura”).

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

00 - Tak Tahu

Kemasan

Softcover

Cetakan

C2 – Cetakan Kedua

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1966

Jilid

1 Jilid Tamat