” PENDEKAR BAMBU KUNING”.
( Episode perdana serial “Pendekar Bambu Kuning”)
Karya : U. Syahbudin
Tebal : 121 halaman
Cetakan pertama : UP. Soka
Tahun terbit perdana : 1968
Remastered by : Anjaya Books
Tahun terbit remaster : 2025
“Pendekar Bambu Kuning” (PBK) adalah sebuah karya Pak Usyah yang pernah sangat populer di era keemasan komik Indonesia, bahkan pernah diangkat ke layar lebar tahun 1971 dengan Ratno Timoer, aktor laga pada masa itu, sebagai pemeran Madi Sembada, Pendekar dari tanah Pasundan, tepatnya di sebuah desa di kaki Gunung Haruman. Ia mempersenjatai sebuah tongkat bambu kuning, sehingga dikenal dengan julukan ” Pendekar Bambu Kuning” . PBK terbit perdana tahun 1968 (UP Soka). Terima kasih kepada Pak Andy Wijaya, yang di bulan Oktober 2025 telah menerbitkan ulang PBK melalui ‘Anjaya Books’nya. PBK adalah salah satu komik legendaris yang pantas dicetak ulang untuk dijadikan koleksi oleh para kolektor cergam.
Pada tahun 2018, PBK pernah dilukis ulang ( redrawing ) oleh Pak Usyah sendiri dalam format ” full color ” (tata-warna penuh ), dengan beberapa penyempurnaan dalam jalan cerita. Diterbitkan oleh penerbit ‘indie’ bernama “Gunung Galunggung”. Sayang sekali tak banyak informasi mengenai penerbit tsb. Dimana domisili dan siapa pemiliknya. Meskipun jumlah halaman lebih sedikit (20 halaman), tetapi saya melihat ada beberapa pengembangan dari jalan cerita serta penambahan beberapa nama karakter dan tempat kejadian. Mari kita coba bandingkan sinopsis dari kedua versi tsb agar pembaca menjadi lebih jelas.
*) Versi 1968 :
Setelah 15 tahun menjalani hukuman di Nusakambangan, Jampa, seorang jawara yang menaruh dendam kepada seorang jago silat bernama Mirta, kembali ke desa, untuk membalas dendam. Ia masih sakit hati mengenang peristiwa silam, saat dimana ia kalah bersaing dari Mirta dalam mendapatkan kembang desa itu. Apalagi sialnya, ketika ia membakar lumbung desa karena dianggapnya warga desa berpihak kepada Mirta, ia kepergok dan nyaris dihakimi oleh massa. Hal itulah yang mengakibatkan dia ditahan dan dibuang di “pulau neraka” tersebut……
Sementara itu, kini Mirta telah mendirikan sebuah padepokan silat dan menjadi seorang guru silat yang disegani di desanya. Ia juga telah menikah dengan sang kembang desa dan memiliki seorang putra bernama Madi, yang juga pandai ilmu silat seperti ayahnya.
Suatu ketika, secara tak sengaja, Madi bertemu dengan Jampa dan para permulaannya. Begitu tahu bahwa pemuda itu adalah putra musuh bebuyutannya, Jampa langsung menyerang Madi. Dengan cara liciknya, Jampa cs berhasil mengalahkan Madi, bahkan nyaris membunuhnya. Untunglah Narti, teman wanita Madi, lewat dan berteriak memanggil warga desa sehingga Jampa cs kabur meninggalkan Madi yang terluka parah.
Selanjutnya Narti merawat Madi dengan telaten dan lama-kelamaan timbullah benih² cinta diantara keduanya. Sayang hubungan asmara itu harus dijeda dulu sementara waktu, karena Pak Mirta memutuskan mengirim putra ke Banten, untuk berguru ilmu silat lebih dalam lagi kepada kakeknya, yaitu ayah Pak Mirta sendiri, yang bernama “Kiai Tunggal”. Maka berangkatlah Madi ke tanah Banten dan menetap beberapa tahun disana untuk berguru kepada Kiai Tunggal….
Sepeninggal Madi, seorang juragan lintah-darat bernama Carmad mulai mengincar kekasihnya yang ia tinggalkan di desa. Meskipun ortu Narti sempat tergiur oleh kekayaan Carmad, namun Narti memutuskan tetap setia kepada Madi. Akibatnya Carmad yang ngebet ingin segera memiliki Narti, menyewa jasa Jampa cs untuk menculik Narti serta menghabisi keluarga Pak Mirta yang berpotensi menjadi penghalang keinginannya.
Jampa pun segera menerima kesepakatan itu. Dia pikir ibarat ” sambil menyelam minum air”, maka sambil menuntaskan balas dendamnya kepada Mirta, ia bisa menjadikan Juragan Carmad yang kaya-raya sebagai ” batu loncatan” guna mencapai ambisinya berkuasa di desa itu. Mulailah Jampa dan anakbuahnya menebar malapetaka di tempat yang semula aman tenteram itu. Diawali dengan pencatatan Narti. Kemudian mereka menghabisi Pak Mirta dan istrinya, beserta seluruh murid padepokan dimana Mirta mengajar.
Hingga beberapa tahun kemudian, Madi berhasil menjadi seorang pendekar berkat bimbingan Kiai Tunggal. Karena kemahirannya menggunakan tongkat wasiat pemberian kakeknya yang terbuat dari bambu kuning, maka iapun dikenal dengan julukan “Pendekar Bambu Kuning”. Ia minta izin kepada sang kakek untuk pulang ke desa karena sudah kangen kepada kedua orang tua dan kekasihnya…
Betapa murkanya ia setiba kembali di desa, begitu mengetahui bahwa kedua ortunya telah dibunuh oleh Jampa, dan Narti kekasihnya telah diculik oleh Juragan Carmad. Maka Madi pun menyikat habis orang² yang telah membunuh ayah ibu serta mengacau di desanya tersebut. Setelah menuntaskan balas dendam dan mengembalikan keamanan di desanya, Madi pun dengan berat hati meminta izin kepada Narti untuk pergi mengembara, karena sebagai seorang pendekar, kini ia harus menunaikan tugas kemanusiaan yang diamanatkan oleh sang guru, yakni membela kebenaran dan membasmi keangkara-murkaan dari muka bumi……*****
*) Versi 2018 :
Madi yang tengah bekerja di sawah, dijemput oleh Narti, putri angkat keluarga Ki Sembada, ayah Madi, untuk pulang bertemu sang ayah. Di jalan, ia dikeroyok oleh 3 orang preman sampai babak belur, hingga Narti terpaksa memapahnya pulang. Melihat masa kecilnya begitu mudah dikalahkan oleh para preman, Ki Sembada menyuruh Madi pergi ke Banten untuk berguru ilmu silat kepada Kiai Tunggal, kakeknya. Maka terpaksalah Madi meninggalkan desa Haruman, tanah kelahirannya, juga berpisah dengan Narti, yang dicintainya.
Sepeninggal Madi, terjadi prahara terhadap keluarganya di desa Haruman. Juragan Carmad menyuruh preman ketiga untuk menculik Narti karena dia sudah lama menaruh hati kepada gadis itu. Ki Sembada dan istri yang berusaha menghalangi ketiga penculikan putri angkatnya, dibunuh tanpa belas kasihan. Nartipun disandera di rumah Juragan Carmad.
Dua tahun kemudian, Madi yang kini telah menyandang gelar “Pendekar Bambu Kuning” pulang ke kampung halamannya. Betapa terkejutnya ia, mengetahui dari Mang Karta, tetangganya, bahwa kedua ortunya telah dibunuh oleh 3 jagoan anakbuah Ki Carmad dan Narti kekasihnya diculik serta menghilang entah kemana. Dengan penuh amarah Madi mendatangi rumah Ki Carmad dan membunuh ke 3 pengawal yang berusaha menghalanginya. Saat bertemu dengan Ki Carmad dan nyaris membunuhnya, tiba² muncullah Narti yang ternyata telah menjadi istri Carmad, bahkan sudah memiliki seorang anak dari juragan lintah-darat itu. Madi yang tak tega melihat balita, Anak Narti, yang akan jadi anak yatim bila Madi membunuh sang ayah, membiarkan Ki Carmad tetap hidup. Selanjutnya sang Pendekar Bambu Kuning pun pergi mengembara untuk membela keadilan dan kebenaran……*****