Rating 0 / 5. Total vote: 0

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

Pulau Tiga Iblis

(Panji Tengkorak episode 05; Bab Terakhir) :

“PULAU TIGA IBLIS”

 

Karya : Hans Jaladara

Terbit perdana : 1968

Penerbit: UP Dwi Djaja

Tebal : 64 halaman

 

Sinopsis:

 

Eps. (05) “Pulau Tiga Iblis”, yang merupakan episode terakhir dari kisah “Panji Tengkorak” sbg tokoh utama, dimulai dengan Panji Tengkorak (PT) yang tengah diserang oleh Bajak Laut Asing (BLA) dan kroco²nya. BLA amat balas dendam kpd PT yg tlh membunuh saudara kembarnya (baca eps.04; “Duel di antara Darah & Karang”). Nyaris PT terkena sasaran senjata “roda² besi” yg dilepas oleh BLA kalau saja Andini tak dtg membantu. Kemudian posisipun berbalik. PT berhasil membunuh BLA dengan pukulan “Alas Purba” nya……

 

Muncul Dewabayu dari perguruan “Teratai Merah”, kakak Bibi Muri (BM), si Lengan Tunggal, yang berhasil menyelamatkan Mariani & Warti dari pertemuan para pendekar yang dibakar oleh kaki-tangan Kebobeok. Andini hanya diam termangu melihat kemesraan PT dengan Mariani. Ternyata Dewabayu tlh lama mengirimkan rencana busuk Kebobeok. Maka dia dtg ke P. Tiga Iblis bukan utk memenuhi undangan, melainkan utk menyelamatkan para pendekar dari perangkap Kebobeok…..

 

Sementara itu Barata & Dewi Bunga (DB) yang terpisah dari Andini, terjebak di sebuah ruangan yang dindingnya bergerak semakin menyempit. Dlm posisi kritis tsb, keduanya masih sempat saling menyatakan cinta, di saat merasa ajal mereka sdh dekat. Untunglah PT tiba tepat waktu dan dengan pukulan Alas Purba berhasil menghancurkan dinding yg nyaris menggencet tubuh kedua sejoli itu…..

 

Di tempat lain, BM pun sedang berjuang melawan uap beracun yang disemburkan oleh Kebobeok, di ruangan dimana dia dijebak. Untunglah BM punya ilmu semedi yg tinggi, utk menutup saluran pernafasan, agar uap beracun tak masuk ke organ² tubuhnya. Hingga Dewabayu, sang kakak, datang membebaskan dia dan segera mengajaknya cepat keluar dari ruangan yg sdh dipenuhi uap beracun tsb…..

 

Klimaksnya adalah ketika semua tokoh persilatan itu berkumpul di satu tempat, dimana Kebobeok tengah beradu tenaga dlm dgn Bariguna, sesepuh dari para jagoan dunia persilatan, yg berasal dari padepokan “Sanggabuana” (baca prekuel “Drama di Gunung Sanggabuana”). Melihat Bariguna dalam bahaya, PT segera turun tangan memisahkan mereka. Ikat kepala PT terlepas akibat terpapar pantulan gabungan tenaga dlm ke dua jago tsb. Begitu ikat kepala lepas, Kebobeok terkejut melihat “tahi lalat” di kepala PT yg sangat khas. Ia teringat “anak haram”nya yang nyaris bunuh diri 20 tahun lalu, namun ditolong oleh Nagamas, kemudian dijadikan muridnya. PT ‘shock’ mengetahui hal itu. Kebobeok mengulurkan tangan ingin memeluk putranya. Namun Andini, yg menaruh dendam krn Kebobeok tlh membantai seluruh keluarganya (baca eps. 03 “Alas Purba”), dengan sigap mendahului menyerang kepala bandit tsb, meskipun akibatnya iapun membunuh kena serangan balik jagoan aliran hitam itu. Keduanya membunuh…..

 

Tak ada waktu untuk memikirkani peristiwa tragis tsb, karena Kebobeok ternyata sdh mengaktifkan bahan peledak di segenap sisi pulau shg gempa dahsyat terjadi. Seblm P. Tiga Iblis tenggelam, semua pendekar yg masih hidup segera dievakuasi dgn menumpang kapal yg sdh disiapkan oleh Dewabayu…….

 

(Selanjutnya Pak Hans masih menyajikan ‘anti klimaks’ untuk mengakhiri episode pamungkas ini, sbg berikut) :

 

Para pendekar sdh pulang ke padepokan masing². Hanya sahabat² PT yaitu Mariani, Warti dan DB khusus menginap di perguruan Teratai Merah. PT yg hatinya masih terpukul melihat kenyataan bhw ayah kandungnya adalah tokoh sesat yg bhkn hampir membunuh dirinya sendiri ketika masih balita, terduduk seorang diri merenungkani nasibnya. Hingga muncul Nesia, wanita posesif yg ter-gila² kpdnya, mengatakan bhw kalau mau Mariani selamat, PT hrs sgr mencarinya….

 

Begitu Nesia berlalu, ‘perasaan’ PT yg peka membawa ke padepokan Teratai Merah utk melihat kondisi kekasihnya. Benarlah retensinya. Nesia tlh menyusup ke padepokan utk meracuni Mariani, yg kini tampak lemah tak berdaya. BM yg marah krn ada yg berani masuk diam² ke padepokannya utk membuat kekacauan, segera menghadang Nesia. Terjadi duel seru antara 2 pendekar wanita itu. PT dtg dan melerai mereka. Ia mengatakan akan mengikuti semua keinginan Nesia, asalkan Nesia mau mengobati Mariani. Nesia meminta PT sujud di kakinya dan bersumpah di depan orang² yg ada disana. Adapun isi sumpahnya adalah bhw : “PT bersedia memperistri Nesia dan tak kan pernah meninggalkan wanita itu, hidup atau mati.” Demi keselamatan nyawa Mariani, Panji bersumpah. Semalaman Nesia mengajaknya memadu kasih hingga Panji tertidur pulas…..

 

Esok paginya, Panji tak melihat Nesia di sisinya. Dan sesampainya di padepokan Teratai Merah, ia melihat bhw Nesia tlh menggenapi janjinya utk menyembuhkan Mariani, bhkn menyelamatkannya dengan nyawanya sendiri, krn dia menggunakan ajian “Malaikat Penyedot Bumi”, spt yg dilakukan oleh Harimau Tua Bertangan Sakti, yg tak lain drpd kakek Nesia sendiri, saat menyelamatkan Panji dari racun Kebobeok (baca eps.05 “Alas Purba”)…..

 

Utk memenuhi sumpahnya, PT membuat peti mati dan memasukkan jenazah Nesia ke dalam, kemudian membawanya kemanapun ia pergi. Shg konon sejak saat itu tak ada lagi nama “Panji Tengkorak”. Yg ada skrg hanyalah si “Hantu Pengawal Jenazah”…

 

Sekian.

 

#silatnusantara

#hansjaladara

#panjitengkorak

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

03 - Kurang

Kemasan

Softcover

Cetakan

C1 - Cetakan Pertama

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1968

Jilid

5

Info Lainnya

Tanggal Beli

24 June 1980

Harga Beli

Rp. 250

Tamat

Ya
Jumlah Buku
1

Isi Lengkap

Ya

Halaman

1

s/d

64

Jenis Kertas

Book Paper

Catatan

Gallery