Rating 5 / 5. Total vote: 1

Belum ada vote, silahkan anda yang pertama!

Diupload oleh Alex Wienarto
Diperbaharui tanggal

SANDHORA

“SANDHORA”
(Logi perdana dari Trilogi : Sandhora, Mat Romeo & Mencari Mayat Mat Pelor”)

Karya : Teguh Santosa.
Penerbit : UP Pantjar Kumala.
Tahun terbit : 1969
Remaster oleh : TJERGAM, 2017.

“Teguh Santosa”, adalah salah satu komikus legendaris Indonesia (1942 – 2000), selain sudah diakui sebagai ilustrator kawakan pada zamannya, melalui karya-karya komiknya dia pantas juga disebut sebagai seorang “futuris”. Pada tahun 1971, Teguh Santosa telah menggunakan istilah ”novel bergambar” untuk karyanya yang berjudul ”Mat Romeo”. Pemakaian istilah ”Novel Bergambar” oleh Teguh Santosa pada saat itu boleh dibilang telah mendahului zamannya. Komik ”Mat Romeo” merupakan logi kedua dari trilogi komik karya Teguh Santosa yang paling terkenal, yakni ”Sandhora”, ”Mat Romeo” dan ditutup oleh logi ketiga, ”Mentjari Majat Mat Pelor”.

Istilah Novel Bergambar atau sekarang dikenal dengan nama Novel Grafis sendiri populer secara internasional sejak Will Eisner menggunakan istilah ”Graphic Novel” untuk empat kumpulan komik pendeknya dalam komik ”A Contract With God” di tahun 1978. Meskipun istilah Novel Grafis sering diperdebatkan definisinya masih, “Trilogi Sandhora” karya Teguh Santosa ‘bisa’ dan ‘pernah’ disebut sebagai novel grafis pertama Indonesia, ditinjau dari panjang dan kandungan cerita komik ini.

“Trilogi Sandhora” saya berani sebut adalah salah satu puncak karya Teguh Santosa , khususnya apabila dilihat dari segi penceritaan, sebuah komik dengan ambisi sastra yang sangat kentara kentalnya. Cerita trilogi Sandhora terentang tidak kurang dari seratus tahun lamanya. Dimulai dari ‘logi pertama : Sandhora’ di Surabaya tahun 1831, ketika perang Jawa baru saja berakhir dengan tertangkapnya ‘Pangeran Diponegoro’ (‘Perang Diponegoro’ 1825 – 1830) dan ditutup oleh ‘logi ketiga : Mentjari Majat Mat Pelor’ dengan setting di perairan laut Thailand pada tahun 1960-an. Dengan demikian, trilogi ini memakan waktu tidak kurang dari 125 tahun dari awal sampai tamatnya.

Tokoh utama trilogi Sandhora adalah pasangan suami istri penyelundup senjata, “Mat Pelor” dan “Sandhora”. Cerita dimulai oleh kedatangan Sandhora dari Menado ke Surabaya yang diutus ayahnya, “Marcos Varga”, untuk menemui Mat Pelor. Mat Pelor sendiri saat itu adalah seorang broker senjata gelap yang biasa menghubungkan Marcos Varga dengan pasukan Pangeran Diponegoro untuk hal pengadaan senjata dan mesiu. Hanya saja kedatangan Sandhora kali pertama itu ke pulau Jawa terlambat karena Perang Jawa sudah berakhir (dengan tertangkapnya Pangeran Diponegoro). Mat Pelor kemudian menyarankan agar memindahkan tujuan daerah pemasaran senjata ke pulau Sumatera (Barat), yang pada saat itu tengah berlangsung “Perang Padri” pimpinan Imam Bonjol (“Perang Padri” 1830 – 1837). Berlayarlah kemudian rombongan Sandhora ditemani oleh Mat Pelor ke “Sumatera” sekaligus menjadi awal petualangan panjang Sandhora dan Mat Pelor mengarungi perairan Nusantara termasuk diantaranya ke perairan Malaysia, Singapore sampai ke Filipina.

Setiba di Sumatera, Sandhora yang membawa rahasia mengenai asal usul kelahirannya harus terpisah dengan Mat Pelor. Mat Pelor sendiri kemudian bergabung dengan pasukan Padri dalam penyerbuan ke benteng “Fort de Knock”, ketika mengetahui informasi bahwa Sandhora ditahan di dalam benteng tersebut, tanpa ia tahu bahwa Sandhora sudah dibawa ke Batavia.

Nasib buruk Sandhora belum berakhir, setelah berhasil melarikan diri dari Batavia, Sandhora diculik oleh para penjahat di Batavia menuju ke pulau dekat perairan “Singapore” (Batam), setelah nyaris dijadikan istri oleh sultan penguasa pulau tersebut, akhirnya Sandhora bertemu kembali dengan Mat Pelor. Mat Pelor dan Sandhora berlayar pulang kampung menuju Menado via Makasar. Di Makasar pasukan Belanda sudah menanti, selain itu Mat Pelor juga harus berhadapan dengan tunangan Sandhora yang bekerja sama dengan Belanda. Sedangkan di Menado, Mat Pelor harus melibatkan diri dengan kelompok simpatisan Pangeran Diponegoro yang akan menyerang benteng pertahanan Belanda, “Fort de Amsterdam”. Lantaran secara tidak sengaja Mat Pelor mengetahui informasi bahwa Pangeran Diponegoro telah dibawa oleh pasukan Belanda dan ditahan di benteng Fort de Amsterdam di Menado. Dalam pikiran Mat Pelor, dengan bebasnya Pangeran Diponegoro, maka dipastikan Perang Jawa akan berkobar kembali, dan Belanda akan mendapat pukulan hebat karena di Sumatera mereka masih berperang dahsyat dengan pasukan rakyat pimpinan Imam Bonjol.

Penyerbuan ke benteng “Fort de Amsterdam” gagal, malah Mat Pelor sekeluarga harus melarikan diri dengan tujuan pulau “Mindanao” (Filipina) yang berseberangan dengan Sulawesi. Saat pelarian dari Menado menuju Mindanao, Sandhora yang sedang hamil besar akhirnya melahirkan anak untuk Mat Pelor di “Davao”. Terjebak di dalam ricuhnya pertempuran, anak laki-laki Mat Pelor yang baru lahir malah menghilang. Anaknya yang baru saja lahir ini diberi nama, “Mat Romeo”.

Dari trilogi ini, boleh dibilang logi pertama Sandhora adalah yang paling panjang, kompleks, dan menarik ceritanya. Pengetahuan Teguh Santosa akan letak geografis dan adat daerah setempat yang dijadikan setting cerita Sandhora, ditambah petualangan lintas batas dan negara menjadikan logi pertama Sandhora ini penuh dengan pesona epik. Mat Pelor dalam usahanya mencari dan mempertahankan cinta Sandhora telah mengarungi tidak kurang dari 3 lautan dan menjelajah seantero daratan Jawa, Sumatera, Sulawesi hingga ke Filipina. Sadar bahwa pembaca akan mengalami kesulitan dalam mengikuti cerita yang sering berpindah lokasi, Teguh Santosa secara jenial melengkapi trilogi komiknya ini dengan peta sederhana yang menggambarkan perjalanan Mat Pelor berpetualang antar pulau sebagai panduan para pembaca…..*****

Dicuplik dari tulisan : “Rieza Fitramuliawan (Februari – Oktober 2000) – untuk mengenang Teguh Santosa”.

Spread the love

Karya

Serial

Penerbit

Genre

Kondisi

08 - Bagus

Kemasan

Softcover

Cetakan

C1 - Cetak Ulang Baru

ISBN

Tidak Ada

Ijin Terbit Tahun

1969

Jilid

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, and 10

Info Lainnya

Tanggal Beli

6 July 2026

Harga Beli

Rp. 350.000

Tamat

Ya
Jumlah Buku
10

Isi Lengkap

Ya

Halaman

1

s/d

596

Jenis Kertas

HVS

Catatan

Gallery