Ayo download komik di HP/Ponsel. Bagi pelanggan Telkomsel baik kartu AS, Halo maupun Simpati bisa mendowload aplikasinya dengan cara mengirim sms dengan mengetik mkomik kirim ke 9800. Pastikan GPRS anda aktif, bila belum bisa mengirim sms ketik GPRS kirim ke 6616. Bila ada kendala bisa mengunjungi website http://m-komik.co.id ini dengan mengklik gambar di bawah ini.
SENNO SAYA NEW COMER IN NET NET AN TAPI SOAL KOMIK SAYA AGAK BNYK TAHU KARENA ALM PAPI PERNAH BUKA TAMAN BACAAN ANGGREK DI TELUK BETUNG BANDAR LAMPUNG SAY Continue
bersama Akademi Samali, Splash dan KomikIndonesia.com,
serta
InTouch bekerja sama meluncurkan era terbaru dalam sejarah
komik nasional:
M-KOMIK. Kini anda dapat menikmati komik melalui
ponsel kapanpun dan
dimanapun anda berada. Nikmatilah sensasi
terbaru dalam membaca komik,
sesuatu yang tidak anda dapatkan ketika
membaca buku komik.
Penasaran? Saksikanlah peluncuran M-Komik pada
hari
Jum'at, 1Februari 2008 pukul 14.00 WIB-selesai
di MAL TAMAN ANGGREK - JAKARTA BARAT, yang akan dibuka langsung
oleh
Dirut Telkomsel Bpk. Kiskenda. Acara akan dilanjutkan dengan demo
M-Komik,
lomba mewarnai, workshop komik, jumpa fans dengan komikus,
setiap hari hingga Minggu, 3 Februari 2008 pukul 19.00 WIB.
HASMI, SANG PENCIPTA GUNDALA; DULU DAN SEKARANG
Thursday, 01 October 2009
oleh (luf/jpnn/kum), dipublikasikan di Harian Jawa Pos, 30 September 2009
Ngurus Anak, Tak Lagi Kuat Bikin Komik
Tokoh Gundala pernah difilmkan pada 1981. Untuk pembuatan film itu, Hasmi mengatakan mendapat uang Rp 1,5 juta. Uang itu kini seakan tak berbekas. Dan, Hasmi pun sekarang sehari-hari bekerja serabutan.
---
KETIKA kali pertama membuat komik Gundala pada 1969, Hasmi sama sekali tidak berpikiran bahwa komiknya itu bakal difilmkan. Dia menyadari, tidak mudah dan tidak murah membuat film superhero. Apalagi, dunia pembuatan film di Indonesia saat itu belum secanggih di Amerika yang sudah biasa membuat film-film superhero. Saat Gundala kali pertama difilmkan pada 1981, Hasmi tidak terlibat dalam pembuatannya.
oleh: Arswendo Atmowiloto
Dipublikasikan pertama kali di Majalah Tempo, edisi 24-31 Agustus 2009
SEBENARNYA periode komik wayang tak pernah dikenang karena penerbit komik waktu itu menamainya ”komik klasik”. Periode ini ditandai setelah era jenis Sri Asih (tentu bersama Nina, Garuda Putih, Kapten Kilat), superhero yang dianggap kurang nasionalis, mengumbar khayal, dan tuduhan paling aneh: membuat anak-anak malas membaca. Dr Marcel Boneff, pakar komik Indonesia yang selalu jadi rujukan, menggambarkannya sebagai du fruit defendu, buah terlarang. Lebih buruk dari buah simalakama—masih bisa dimakan.
oleh Purwanto Setiadi
Dipublikasikan pertama kali di Majalah Tempo, edisi 24-31 Agustus 2009
BAHKAN sebelum istilah novel grafis akhirnya disepakati untuk dirujukkan kepada Will Eisner, pelopor ”gerakan” ini lewat kumpulan empat komik pendeknya, A Contract With God (1978), Teguh Santosa sudah menyebut karyanya yang berupa trilogi sebagai novel bergambar. Yang dia maksud sebagai novel bergambar tiada lain, ya, novel grafis itu—menurut definisi yang mana pun.