|
oleh: Henry Ismono Di masa jayanya Pak Teguh Santosa dulu, kediaman Teguh di Jalan Anjasmoro, Kepanjen, Malang, sering didatangi beberapa anak muda (SMP dan SMA) yang semula ingin baca komik di perpustakaan komik Teguh, kemudian keterusan untuk bikin komik. Mereka antara lain Rokhim, Muhammad Ali , Syamsuri, Buang Affandi, Slamet, dan Bambang Priadi.
Ada proses belajar di sana. Teguh mendidik mereka menjadi komikus yang baik. Bukan mengajari soal teknis membuat komik, tapi lebih sering bersifat dialog. Semula anak-anak muda ini bikin komik dengan napas seperti Teguh. Gaya lukis, narasi, dan tema, sebagian meniru Teguh. Di masa 70-an itu, oleh Teguh, komik-komik mereka dibawa ke penerbit. Selanjutnya, mereka bisa berhubungan langsung dengan penerbitnya. Karya mereka sudah cukup banyak yang diterbitkan. Nama-nama mereka pun berganti. Slamet menjadi Sam Timur, Muhammad Ali menjadi Ema Wardhana, Bambang Priadi menjadi Eroest BP, Buang Affandi menjadi Baffi, Syamsuri menyingkat namanya menjadi Syam, dan Rokhim menjadi Rahimsyah. Kurun kemudian, ada beberapa di antara mereka yang kemudian menemukan gaya lukis sendiri. Seiring waktu, ketika industri komik sekarat, anak-anak Kepanjen ini tetap berkarya. Mereka diminta penerbit membuat komik dengan genre cerita rakyat dan agama. John de Rantau pernah membahas khusus komik agama Eroest BP yang pencapaian artistiknya patut diacungi jempol. Formatnya bukan komik tipis. Mereka memang dapat order bikin komik agama dengan format tipis-tipis itu. Add as favourites (119) | Views: 2378
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.5 |